
CATATAN PINGGIR
Dr. Romadlon Sukardi, MM*
DI abad ke-21, kekuatan sebuah bangsa tidak lagi semata ditentukan oleh kelimpahan sumber daya alam, tetapi oleh kualitas sumber daya manusianya. Negara-negara yang mampu memimpin masa depan adalah mereka yang berhasil membangun ekosistem pendidikan yang melahirkan generasi kreatif, adaptif, berkarakter, dan mampu bersaing dalam lanskap global yang terus berubah oleh disrupsi teknologi, kecerdasan buatan, serta revolusi industri berbasis pengetahuan.
Di tengah realitas itu, kepemimpinan Khofifah Indar Parawansa menghadirkan sebuah arah besar yang tidak hanya administratif, tetapi juga visioner dan peradaban: menjadikan Jawa Timur sebagai barometer pendidikan nasional sekaligus pusat lahirnya talenta unggul berkelas dunia.
Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 di Surabaya bukan sekadar seremoni tahunan. Di tangan Khofifah, momentum itu berubah menjadi deklarasi besar tentang masa depan pendidikan yang inklusif, berdampak, dan berorientasi global. Melalui visi “Jatim Cerdas – Pendidikan Berdampak”, pendidikan tidak lagi dipahami sekadar proses transfer ilmu pengetahuan, tetapi sebagai investasi strategis untuk membangun peradaban manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Yang menarik dari kepemimpinan Khofifah adalah kemampuannya membaca tantangan zaman secara utuh. Ia memahami bahwa masa depan pendidikan tidak cukup hanya mengejar angka kelulusan atau statistik akademik. Pendidikan harus mampu melahirkan manusia yang memiliki kecerdasan intelektual, kekuatan karakter, daya inovasi, literasi teknologi, kepedulian lingkungan, dan ketahanan moral di tengah derasnya arus digitalisasi global.
Karena itu, kebijakan pembatasan penggunaan gadget di lingkungan sekolah menjadi sangat menarik untuk dibaca. Di saat dunia semakin tenggelam dalam hiper-konektivitas digital, Jawa Timur justru mencoba menghadirkan keseimbangan antara teknologi dan kualitas interaksi manusiawi dalam proses pembelajaran.

Bukan Langkah Anti-teknologi
Ini adalah strategi futuristik untuk menjaga kualitas konsentrasi belajar, membangun budaya diskusi, memperkuat literasi membaca, dan melatih kemampuan berpikir kritis generasi muda agar tidak terjebak menjadi konsumen pasif dunia digital.
Di sinilah terlihat bahwa kepemimpinan Khofifah tidak sekadar mengikuti tren modernitas, tetapi berusaha mengendalikan arah modernitas agar tetap berpihak pada pembangunan kualitas manusia.
Lebih jauh lagi, berbagai program inovatif seperti SIKAP (Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan), pengembangan kendaraan listrik di SMK, program Double Track SMA, hingga EJIES yang melahirkan ribuan inovasi guru menunjukkan bahwa Jawa Timur sedang membangun ekosistem pendidikan masa depan yang terintegrasi dengan kebutuhan dunia industri, kewirausahaan, teknologi hijau, dan ekonomi kreatif global.
Ini adalah bentuk pendidikan yang tidak berhenti di ruang kelas. Tetapi pendidikan yang hidup, produktif, dan terkoneksi dengan transformasi dunia modern.
Kepemimpinan Khofifah Indar Parawansa juga memperlihatkan keberpihakan sosial yang sangat kuat. Ketika beliau menegaskan bahwa tidak boleh ada satu pun anak Jawa Timur tertinggal dari pendidikan, sesungguhnya itu adalah pernyataan moral yang sangat mendalam.
Bahwa pendidikan harus menjadi hak semua anak, bukan privilese bagi mereka yang lahir dalam kemapanan ekonomi.
Karena itu, afirmasi pendidikan bagi keluarga kurang mampu, penguatan akses pendidikan menengah, hingga capaian tertinggi penerima KIP-K nasional menunjukkan bahwa pembangunan pendidikan di Jawa Timur dibangun di atas prinsip keadilan sosial dan pemerataan kesempatan.
Dalam perspektif global, langkah ini sangat strategis. Dunia masa depan membutuhkan talenta dalam jumlah besar, tetapi juga membutuhkan sistem sosial yang mampu menjaga kohesi masyarakat agar ketimpangan tidak melahirkan krisis sosial baru.
Dan pendidikan adalah jembatan terpenting untuk itu. Prestasi Jawa Timur yang tujuh tahun berturut-turut menjadi provinsi dengan jumlah siswa terbanyak diterima melalui SNBP serta hattrick juara umum LKS nasional bukanlah kebetulan statistik. Itu adalah hasil dari desain sistem pendidikan yang dibangun secara serius, terstruktur, dan berkelanjutan.
Sebuah ekosistem yang menghubungkan kepemimpinan visioner, kualitas guru, budaya inovasi, manajemen pendidikan, serta keberanian melakukan transformasi.
Namun di atas semua itu, yang paling penting adalah bahwa pendidikan di Jawa Timur sedang diarahkan bukan hanya untuk mencetak lulusan, tetapi membentuk generasi masa depan yang memiliki daya saing global sekaligus akar moral yang kuat. Generasi yang mampu berdiri di panggung dunia tanpa kehilangan identitas kemanusiaannya.
Mungkin kelak sejarah akan mencatat bahwa di bawah kepemimpinan transformasional Khofifah Indar Parawansa, Jawa Timur bukan hanya menjadi pusat pendidikan nasional, tetapi tumbuh sebagai laboratorium peradaban pendidikan modern Indonesia—tempat lahirnya generasi unggul yang memadukan kecerdasan, karakter, inovasi, dan visi global dalam satu tarikan napas zaman.
Sebuah kepemimpinan yang tidak hanya membangun sekolah. Tetapi sedang membangun masa depan peradaban bangsa.(*)





































