Bahrun Naim|IST

 Amankan Natal, Jihandak Sterilkan Semua Gereja

 

Bahrun Naim|IST

JAKARTA| duta.co -Polisi buka rahasia awal mula bisa mengendus dan menangkap tujuh terduga teroris, tiga di antaranya tewas ditembak di Tangerang Selatan. Densus 88 membongkar pergerakan jaringan Bahrun Naim itu melalui pola komunikasi mereka.

“Karena kita memantau terus,” kata Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Mabes Polri Kombes Martonus Sitompul di kompleks Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (23/12) kemarin.

Martinus mengatakan, Bahrun Naim membangun komunikasi secara tertutup dengan pengikutnya melalui aplikasi medsos. “Jalur komunikasi saya gambarkan luas, sekarang fasilitas medsos punya aplikasi telepon, video call, Facebook, Line, Whatsapp, ada aplikasi yang bisa sembunyikan pembicaraan seperti di telegram,” jelasnya.

Kendati Bahrun Naim melakukan komunikasi tertutup dengan pengikutnya, Martinus menegaskan pihak kepolisian tetap bisa menelusuri isi pembicaraan mereka melalui media sosial tersebut.

“Harus diingat, secanggih-canggihnya teknologi tetap punya dampak mudah untuk dibuka. Beberapa percakapan bisa di-typing, bisa diangkat kembali, dilihat. Artinya semua informasi terkait tindak kejahatan akan dilakukan upaya untuk mendapatkan keterangan termasuk dari typing yang dilakukan,” papar Martinus.

Sejumlah pihak menyebut pola kerja kelompok di bawah kontrol Bahrun Naim dikenal jarang memanfaatkan momen tertentu. Ini berbeda dengan hasil identifikasi sementara, ketujuh terduga teroris yang dibekuk justru hendak meledakkan bom saat Natal 2016 dan Tahun Baru 2017.

Saat dikonfirmasi, Martinus tak sependapat. Menurut dia, pilihan waktu aksi juga bagian dari kelompok teroris di bawah kontrol Bahrun Naim. “Dia ini ISIS yang merujuk ke Al-Qaeda.  Mereka (Al-Qaeda) melihat momen,” ujar Martinus.

Tapi, kata Martinus, analisa itu masih dinamis. Kelompok teror diprediksi bakal mengubah pola kerja mereka. Martinus belum mau membeberkan secara terang pola kerja jaringan teroris itu. “Tapi yang jelas dari pola komunikasinya yang kita pantau itu sudah jelas (jaringan Bahrun Naim),” katanya.

Rabu (21/12) lalu, tujuh terduga teroris dibekuk di empat wilayah. Di Tangerang Selatan, polisi menangkap empat terduga teroris.  Omen (34) asal Bandung, serta Irwan (29) dan Helmi (29) asal Tasikmalaya, tewas ditembak. Sementara, Adam Noor Syam ditangkap hidup-hidup.

“Tempat tinggal Helmi dan Irwan berdekatan, di Kecamatan Mangkubumi, Tasikmalaya,” kata Martinus. Data ketiganya didapat setelah polisi memeriksa sidik jari, gigi, juga DNA (postmorten) mereka. “Dua jasad teridentifikasi secara menyeluruh, satu lagi belum,” tambah Martinus.

Penggerebekan juga terjadi di Desa Balai Nan Duo, Payakumbuh, Sumatera Barat. Satu terduga teroris ditangkap atas nama Hamzah alias JT. Dia diketahui bagian dari jaringan teroris Solo. Densus 88 juga menangkap satu terduga Syafii (34) di Deli Serdang Sumatera Utara. Dia ditangkap di rumah orangtuanya, di Desa Ajibaho, Kecamatan Sibiru-biru.

Masih pada hari yang sama, Densus 88 kembali menangkap HA alias Abisyah yang merupakan DPO kelompok Katibah Gonggong Rebus (KGR) di Batam. Para terduga teroris ini rencananya hendak meledakkan bom di momentum Natal dan Tahun Baru. Mereka bergerak di bawah bimbingan Bahrun Naim.

Siapa Bahrun Naim?

Bahrun Naim bernama lengkap Muhammad Bahrun Naim alias Anggih Tamtomo alias Abu Rayan. Biasa dipanggil Bahrun atau Naim.

Bahrun dibekuk Densus 88 Antiteror Polri pada November 2010. Ia ditangkap di rumah kontrakannya di Kampung Mertrodanan RT 02/03 Semanggi, Pasar Kliwon, Solo, Jawa Tengah.

Saat ditangkap, polisi menyita dua kotak amunisi jenis peluru AK 349, enam CPU, sarung senjata api, satu laptop, sejumlah keping CD, serta sejumlah buku. Pada proses penyidikan, polisi tidak menemukan keterkaitan Bahrun dengan terorisme.

Persidangan di Pengadilan Negeri Surakarta, Jawa Tengah, pada 9 Juni 2011, memutuskan Bahrun dijatuhi hukuman 2 tahun 6 bulan penjara karena melanggar Undang-undang Nomor 12 Tahun 1951 tentang Kepemilikan Senjata Api dan Bahan Peledak. Ia bebas pada Juni 2012.

Setelah beberapa lama tidak terdengar, Bahrun Naim dikabarkan berada di Suriah, bergabung dengan kelompok pemberontak ISIS. Ia diduga telah melakukan baiat sebagai bagian dari ISIS pada 2014.

Nama Bahrun Naim kembali muncul saat pengungkapan teroris di Bekasi pada 2015. Saat itu Densus 88 Antiteror menangkap warga negara Tiongkok.

Jihandak Sterilkan Gereja

Sementara itu, Polda Metro Jaya menjamin keamanan ibadah Natal. Polda akan mengerahkan tim penjinak bom (jibom) untuk melakukan sterilisasi gereja. “Detector kita usahakan maksimal di gereja-gereja,” ujar Kapolda Metro Jaya Irjen (Pol) M Iriawan kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (23/12).

Pengamanan akan diperketat dengan mempertimbangkan potensi tingkat kerawanannya. Gereja-gereja besar dengan kapasitas jumlah jemaat besar akan mendapatkan prioritas pengamanan. “Tentu ada yang besar (yang diprioritaskan), kalau pusat seperti Katedral, Immanuel, dan sebagainya yang kita maksimalkan,” imbuhnya.

Iriawan mengatakan, upaya tersebut dilakukan untuk memastikan keamanan gereja dari kemungkinan aksi teror. Seperti diketahui, beberapa hari lalu tim Densus 88 Polri menangkap jaringan teroris di beberapa lokasi di wilayah hukum Polda Metro Jaya.

Kelompok tersebut merencanakan pengeboman di malam Natal dan Tahun Baru. Karena itu, Polda Metro Jaya memperketat pengamanan saat perayaan Natal. “Kemarin salah satu targetnya memang adalah polisi yang sedang melaksanakan pengamanan Natal dan Tahun Baru,” ujar Iriawan.

“Rencananya dari dokumen yang ada polisi akan ditusuk, itu terjadi kerumuman massa, polisi datang, ‘pengantin’ melakukan aksinya. Tapi Alhamdulillah berkat kerja keras Densus, kita bisa ungkap,” imbuhnya.

 

Siap Libatkan Banser

Kapolda Irjen Pol M Iriawan Jaya juga akan melibatkan Banser Nahdlatul Ulama (NU) dalam pengamanan ibadah misa Natal di wilayahnya. Banser akan dilibatkan dalam penjagaan di gereja-gereja untuk memastikan keamanan saat ibadah berlangsung.

“Iya, mereka mengirim surat ke kami katanya akan berpartisipasi. Tapi kita lihat dulu, kalau cukup pasukan kami ya mungkin kami saja,” ujarnya.

Kapolda menyambut baik partisipasi Banser tersebut. Ia menilai hal ini sebagai bentuk toleransi antarumat beragama. “Ini yang dimulai dari rakyat, kita dikenal sangat toleransi mari kita timbulkan kembali. Ikut saja jaga, masyarakat pun boleh. Itulah toleransi umat beragama,” sambung Kapolda.

Polda Metro Jaya sendiri mengerahkan sekitar 22 ribu personel untuk mengamankan natal dan tahun baru. Personel ditempatkan di gereja-gereja, pusat perbelanjaan, tempat wisata dan di titik-titik rawan.

Riyanto ‘Pejuang Kemanusiaan’

Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (PP GP Ansor) Yaqut Cholil Qoumas memang menegaskan, Banser NU di seluruh Indonesia siap membantu menjaga keamanan dan ketertiban di Malam Natal dan Tahun Baru 2017 di seluruh wilayah Indonesia.

“Di seluruh Indonesia ada 1,7 juta anggota Banser ‎yang terdata by name by addres, mereka siap menjaga ketertiban dan keamanan pada malam Natal dan Tahun Baru. Tetapi, itu kalau memang ada permintaan,” ujar Gus Yaqut Cholil saat pidato pada acara ziarah dan tahlil untuk Saudara Riyanto, anggota Banser yang meninggal karena ledakan bom di Gereja Eben Haezer Kota Mojokerto, pada malam Natal Tahun 2000, Kamis (22/12).

Pidato ini disampaikan di hadapan ratusan anggota Banser Jatim, para pendeta, dan anggota Barisan Majelis Gereja (Bamag) serta perwakilan agama lainnya, di depan rumah orang tua Riyanto di Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.

Acara inti diawali dengan melakukan ziarah di makam Riyanto anggota Banser Kota Mojokerto, kemudian melakukan tahlil bersama, serta  penandatanganan monumen makam, tabur bunga maupun pemberian santunan kepada orang tua dan keluarga Riyanto.

Pemberian bantuan selain dari Pimpinan Pusat GP Ansor, juga dari Bamag, perwakilan dari Polda Jatim yang dilakukan oleh Kapolres Kota Mojokerto AKBP Nyoman, juga dari elemen lain.

Gerakan Peduli Pejuang Republik Indonesia (GPP-RI) juga memberikan bantuan untuk keluarga almarhum serta menobatkan Riyanto sebagai ‘Pejuang Kemanusiaan’. Bantuan diberikan oleh Ketua Umum GPP-RI Martudji serta Piagam Penghargaan ‘Pejuang Kemanusiaan’ (kemarin diberitakan Pejuang Kerukunan Umat Beragama, red) diberikan oleh Pendiri GPP-RI Aiptu Pudji Hardjanto, yang diterima oleh kedua orang tua Riyanto.

Umat Kristen Doakan Riyanto

Rangkaian acara itu diakhiri dengan secara bergantian masing-masing pemuka agama membacakan doa untuk almarhum Riyanto, dari Kristen dibacakan oleh ‎Romo Alexus. “Almarhum Riyanto memang telah tiada, tetapi yang perlu kita ketahui dan patut dijadikan contoh, dia (Riyanto) mati untuk memberi hidup, khususnya kepada umat Kristen, itu seperti Yesus yang berkorban dan mati untuk umatnya. Terkait itu, kami umat Kristen memberikan apresiasi yang sangat luar biasa,” ujar Romo Alexus.

Riyanto adalah anggota Banser Kota Mojokerto, yang saat Malam Natal ‎Tahun 2000, bersama sejumlah rekannya sesama Banser mendapat tugas menjaga ketertiban dan keamanan jemaat Kristiani yang sedang menjalankan ibadat natal. Saat itu, dia mendapati benda yang kemudian diketahui adalah bom, kemudian dengan sigap dan keberanian mengambilnya dan membawa menjauh keluar gereja di pusat kota tersebut.

Ironisnya, bom yang dimasukkan ke selokan dengan harapan agar tidak meledak itu justru meledak saat masih dibawa Riyanto. Akibatnya, tubuh Riyanto pun terpental hingga sejauh lebih dari 100 meter. Jasad Riyanto ditemukan sudah tidak bernyawa di ruang tamu sebuah rumah. Beberapa orang rekannya mengatakan awalnya tubuhnya jatuh di genteng atap rumah tersebut dan meruntuhkan plafon, kemudian hancur di lantai ruang tamu‎.

Sementara, seorang rekannya bernama Amin sesama Banser, saat ini menderita cacat di bagian mata kanan, akibatnya dahsyatnya ledakan bom tersebut. ful, viv, dit, ud

BAGIKAN

Tinggalkan Balasan