EDUKASI : Dewan Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) Sosialisasi dan Edukasi (SOSEDU) 2026 di kantor OJK Jatim di Surabaya Selasa (07/4/2026) sebagai langkah awal menuju Pekan Reksa Dana 2026. (dok/duta.co)

SURABAYA | duta.co – Reksa Dana, salah satu jenis investasi yang menjanjikan keuntungan besar dengan modal awal ringan mulai Rp 10 ribu. Sebelum memilih sebagai investasi perlu dipahami dulu apa sebenarnya reksa dana dan bagaimana mekanismenya.

Lebih simplenya reksa dana serupa gado – gado. Dimana reksa dana wadah untuk menghimpun dana investor yang diinvestasikan ke berbagai aset. Dalam satu wadah, terdiri dari berbagai jenis aset. Serupa omakase, dimana racikan aset dalam reksa dana dilakukan oleh Manajer Investasi (MI) yang memang menjadi ‘koki’ dengan keahlian khusus. Investor hanya perlu menikmati racikan tersebut.

Namun dalam kenyataannya reksa dana masih kalah populer dibandingkan dengan investasi emas perhiasan dan logam mulia serta pasar modal. Penulis mencoba melakukan sampling acak terhadap 10 orang, hanya 5 yang mengetahui tentang reksa dana, dan hanya 2 yang tahu dan pernah mencoba invevestasi reksa dana.

Relate dengan hasil survey data OJK tahun 2022 literasi reksa dana masih rendah karena gabungan faktor pendidikan, budaya, dan akses. Indeks literasi keuangan Indonesia baru 49,68%, naik dari 21,84% di 2013, tapi tetap artinya 1 dari 2 orang belum paham produk keuangan dasar.

Data OJK 2024 Indeks literasi keuangan naik menjadi 65,43%, tapi literasi pasar modal cuma 4,11%. Artinya dari 100 orang, cuma 4 yang benar paham saham/obligasi/reksa dana. Sementara data KSEI 2026 total investor Indonesia di Pasar Modal hanya 20 juta. Angka tersebut hanya ~7% dari total penduduk Indonesia sebesar 288 juta jiwa.

Kalah Pamor dan Populer dengan Investasi Emas
Menurut analisa penulis, ada beberapa faktor menjadi penyebab reksa dana kurang dikenal dan dipilih sebagai investasi dari internal dan external. Diantaranya kalah pamor sama produk yang pasti-pasti saja, literasi keuangan jeblok bahasa teknis bikin pusing serta minimnya. Dari masalah internal industri dan distribusi reksa dana.

Reksa dana kalah pamor sama investasi “yang pasti-pasti aja”. Mindset deposito & emas dari dulu orang tua mengajarkan nabung yakni deposito bank atau beli emas. Dianggap aman, kelihatan fisiknya dan dijamin LPS. Sementara reksa dana tidak ada wujudnya, takut hilang. Takut rugi karena trauma 1998/2008 banyak yang menganggap semua produk pasar modal sama dengan judi. Padahal reksa dana pasar uang risikonya mirip deposito. Selain itu FOMO kripto & saham gorengan, yang melek investasi malah langsung loncat ke saham/kripto karena “katanya cuan cepet”. Sedangkan reksa dana dianggap lambat, nggak sexy

Penyebab lain bahasa teknis bikin pusing. Ambil contoh NAV/NAB, CAGR, expense ratio, underlying. Agen penjual kadang menjelaskannya ribet dan susah dimengerti banyak orang. Diperparah kurikulum tidak ada mapel “investasi”. Tahunya nabung di celengan dan miskonsepsi bahwa reksa dana harus modal besar dan cuma buat orang kaya plus ribet cairnya. Padahal investasi reksa dana bisa mulai Rp10 ribu dan cair T+1/T+23.

Sementara masalah internal dari industri & distribusi agen bank nawarin yang fee-nya besar. Produk unitlink/asuransi dulu lebih gencar dijual karena komisi agen lebih tinggi dibanding reksa dana. Dulu beli harus ke kantor cabang, isi formulir tebal, tanda tangan basah. Meski sekarang sudah online tapi image “ribet” masih nempel. Ditambah kinerja tidak konsisten karena ada MI yang produknya underperform IHSG bertahun-tahun menyebabkan investor kecewa, kapok, cerita ke tetangga dan banyak orang.

Yang tidak kalah penting faktor psikologi & budaya. Reksa dana saham butuh 5 tahun+ baru optimal sementara orang Indonesia sukanya muter duit cepet buat dagang. Juga tidak ada FOMO, contohnya tetangga beli rumah/tanah kelihatan wujudnya. Sementara beli reksa dana tidak bisa dipamerkan.

Akibatnya total investor reksa dana baru 12,7 juta SID per Juli 2024 vs 140 juta rekening bank. Dana kelolaan Rp800 triliun, kalah sama deposito Rp8.000 triliun. Padahal kelebihan reksa dana modal Rp10 ribu bisa punya 100 saham sekaligus → diversifikasi instan. Reksa dana dikelola manajer investasi profesional, cocok buat yang tidak ada waktu memantau. Ada reksa dana pasar uang dengan return 4-6% p.a, risiko rendah, cair 1 hari kerja.

Solusi biar literasi naik dengan menggunakan bahasa pakai bahasa warung. Contohnya Reksa dana pasar uang = deposito rasa gofood, bisa diambil kapan aja. Untuk itu mulai dari yang konservatif dulu. Kenalin reksa dana pasar uang/obligasi sebelum saham. Yang lebih penting juga transparansi fee karena sekarang sudah bisa online dan bebas fee beli, jadi tidak kemakan komisi.

Semua Orang Bisa Investasi di Reksa Dana
Investasi reksa dana bukan monopoli investor berduit dengan kapital besar. Investasi di reksa dana bisa mulai Rp 10 ribu dan penjelasan seperti inilah yang tidak sampai di masyarakat sehingga banyak yang menghindari investasi di reksa dana.

Sebagaimana dijelaskan Samsuri Branch Manager Reliance Sekuritas (RELI) Cabang Surabaya semua segmen bisa investasi di reksa dana. Arti mudahnya investor setor uang, MI yang membelikan aset dan mengatur strateginya. Dana disimpan di Bank Kustodian, jadi aman dan terpisah dari MI.

”Cocok buat pemula karena modalnya kecil, mulai Rp10 ribu, dan tidak perlu analisis sendiri. Itu salah satu kelebihan reksa dana nominal kecil sudah bisa. Masalahnya banyak yang belum tahu tentang reksa dana dan beredarnya stigma negatif. Salah satu contohnya reksa dana ribet, susah dicairkan dan rawan diselewengkan,” katanya dalam satu perbincangan.

Ada 4 jenis reksa dana yang bisa dipilih dibedakan dari isi portofolionya.
1.Pasar Uang, 100% instrumen pasar uang seperti deposito, SBI, obligasi <1 tahun dengan Risiko paling kecil, return terbatas. Likuid banget untuk tujuan <1 tahun dengan profil sangat konservatif.

2. Pendapatan Tetap min 80% obligasi/surat utang, risiko & return lebih tinggi dari pasar uang, lebih rendah dari campuran untuk jenis jangka menengah 1-3 tahun dengan potensi gain 6-9%/tahun.

3. Campuran, gabungan saham, obligasi, pasar uang, risiko & return di tengah-tengah. Lebih besar dari pendapatan tetap, lebih kecil dari saham pas untuk jangka investasi 3-5 tahun untuk hasil maksimal.

4. Saham min 80% saham, risiko paling besar, potensi return tertinggi. Historis 10-15%/tahun jangka panjang cocok untuk investasi jangka >5 tahun, profil agresif, tahan lihat naik-turun

“Semuanya bergantung pada pilihan investasi. Intinya makin besar porsi sahamnya, makin besar potensi untung dan risikonya. Tinggal pilih sesuai tujuan dan mental tahan bantingnya mau milih yang mana.”

Samsuri menambahkan reksa dana salah satu indikator investasi. Kenapa kurang populer salah satunya sosialisasinya kurang menyebar padahal potensi keuntungan menjanjikan. Beda dengan main saham bisa langsung beli sendiri, beli obligasi sendiri, beli emas sendiri berbeda dengan reksa dana.

“Jadi karena itu kumpulan dana harus melalui MI yang mengatur dan membantu. Reksa dana memang bukan untuk trading harian, melainkan untuk investasi menengah dan panjang. Investor tinggal memilih mau jenis reksa dana yang mana,” jelas Samsuri.

Dari 4 kategori reksa dana yang paling recommended untuk pemula yakni fixed rate sesuai kebutuhan dan goal target dari investasi. Masing-masing jenis pilihan reksa dana punya kelebihan dan kelemahan yang berbeda.

“Kalau pemula mending pilih yang fixed rate karena standar dan sudah fixed. Sementara yang suka tantangan pastinya reksa dana saham, dengan keuntungan yang lebih besar sesuai dengan risikonya. Alangkah baiknya, disharing sama investasi sendiri langsung. Kita beli reksadana saham, tapi kita juga langsung investasi saham, bandingkan anda hasilnya lebih tinggi yang mana. Yang paling progresif pastinya reksa dana pasar uang, pas untuk investor yang suka tantangan dengan margin lebih menjanjikan demikianhalnya dengan risikonya ,” jelas Samsuri.

Samsuri menambahkan pola investasi reksa dana disesuaikan dengan pola investor seperti apa. Investor yang agresif pasti akan memilih yang risiko tinggi karena bisa memberi keuntungan lebih besar. Untuk yang moderat pastinya fixed rate dengan keuntungan tahunan yang sudah bisa diprediksikan.

Samsuri melihat reksa dana masih kalah popuiler dan tidak banyak peminatnya karena sosialisasi kurang massif dibanding pasar modal. Hanya orang-orang tertentu yang paham dan memilih reksa dana sebagai bagian dari keranjang investasinya.

“Kebanyakan masyarakat Indonesia cenderung investasi real yang jelas memberikan harapan keuntungan lebih pasti daripada ini yang mengandunglah unsur gambling. Literasi keuangan dan pasar modal juga masih rendah dibawah 50 persen,” jelas Samsuri.

Edukasi soal reksa dana diperlukan di semua level segmen masyarakat karena semua bisa menjadi investor reksa dana tidak seperti yang dibayangkan selama ini hanya untuk orang kaya ataupun orang berpendidikan.

“Selama ini Reliance dalam berbagai kesempatan melakukan edukasi kususnya ke mahasiswa. Dan hasilnya banyak yang tertarik menjadi investor reksa dana. Kalau di Reliance ada produk kusus reksa dana dengan minimal Rp 100 ribu. Konsepnya satu akun di Reli bisa digunakan untuk investasi di semua produk pasar modal termasuk reksa dana.”

Dengan edukasi berkelanjutan jelas Samsuri, reksa dana yang memang menjadi bagian dari industri pasar modal bisa lebih dikenal dan menjadi banyak pilihan untuk investasi. Sehingga makin banyak varian jenis investasi yang bisa dipilih.

“Yang lebih penting dalam setiap edukasi tentang reksa dana, harus diksih tahu juga risikonya. Jangan yang dipush yang janji keuntungan dan manis-manisnya saja. Jadi masyarakat siap dengan risiko yang ditimbulkan, tidak kaget dan trauma. Mungkin faktor trauma juga yang menjadi sebab reksa dana kurang populer karena masih dianggap sejenis investasi bodong padahal reksa dana jelas legal dan bisa dipertanggungjawabkan. Kuncinya satu, pilih MI yang legal, jangan mudah terjebak rayuan yang ilegal dengan menjanjikan keuntungan tinggi,” pungkas Samsuri.

Pengalaman investasi di reksa dana cukup menguntungkan dipaparkan oleh Distia, ibu rumah tangga yang usaha bakery. Distia membagikan pengalaman lima tahun lalu punya dana Rp 5 juta dan ditempatkan di reksa dana fixed dalam setahun bisa menghasilkan gain kisaran lebih dari 10 persen.

“Lebih tinggi dari deposito dan tabungan pastinya. Kenapa pilih fixed income karena ingin mencoba dan tidak mau ribet memantau layaknya trading saham ternyata oke juga hasilnya. Saya cuma tiga tahun menempaytkan dananya di reksa dana, setelah itu mencoba di reksa dana pasar uang, lebih menjanjikan gain tinggi namun risiko juga tinggi karena bergantung pada fluktuasi pasar dalam dan global.”

Saran bagi pemula jelas Distia, pilih yang moderate yakni reksa dana fixed income sambil mempelajari pola. Kalau sudah mahir bisa beralih ke reksa dana pasar uang yang lebih memacu andrenaline dan tentunya keuntungan tidak fixed melainkan sesuai perkembangan pasar dan produk yang dipilih.

Edukasi Reksa Dana Berkelanjutan Sangat Diperlukan
Dari sisi publikasi dan komunikasi menarik yang dilontarkan oleh Agustina Widyawati,S.Sos,.M.I.Kom, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Sunan Gresik. Dari perspektif komunikasi, persoalannya bukan semata pada produk, tetapi pada narasi dan persepsi publik. Reksadana sering dipersepsikan sebagai instrumen “rumit”, “berisiko”, dan “hanya untuk kalangan tertentu”. Ini menunjukkan adanya communication gap antara lembaga keuangan dan masyarakat.

“Selama ini, komunikasi tentang reksadana cenderung teknokratis, penuh istilah seperti NAB, portofolio, manajer investasi, yang tidak ramah bagi publik awam. Selain itu, pengalaman krisis finansial di masa lalu juga membentuk memori kolektif bahwa investasi non-fisik berisiko tinggi,” katanya.

Di sisi lain jelas Widi masyarakat Indonesia secara kultural lebih percaya pada instrumen yang berwujud nyata, sehingga reksadana kalah populer dibanding emas atau properti. Jadi, masalah utamanya adalah framing komunikasi yang belum membumi dan belum menyentuh aspek emosional serta kepercayaan publik.

“Intinya, reksadana ini belum “terasa dekat” dengan kehidupan sehari-hari. Cara ngomongnya masih terlalu formal dan kurang relate sama masyarakat.”

Menyadari masih rendahnya literasi, Widi menambahkan otoritas perlu menggeser strategi dari sekadar edukasi informatif ke komunikasi persuasif dan partisipatif. Pertama, gunakan pendekatan storytelling. Alih-alih menjelaskan konsep, tampilkan kisah nyata masyarakat yang berhasil berinvestasi reksadana dengan modal kecil. Ini lebih mudah diterima publik dibanding angka dan teori.

Kedua, manfaatkan media digital secara lebih tersegmentasi. Kampanye tidak bisa lagi bersifat umum, tetapi harus disesuaikan dengan karakter audiens, misalnya konten ringan di TikTok untuk Gen Z, webinar interaktif untuk pekerja muda.

Ketiga, bangun trust ecosystem. Libatkan tokoh publik, influencer finansial, hingga komunitas lokal sebagai opinion leader. Dalam teori komunikasi, kepercayaan seringkali lebih dipengaruhi oleh figur yang dekat secara psikologis dibanding institusi formal.

Keempat, lakukan integrasi literasi keuangan sejak dini melalui kurikulum pendidikan. Literasi tidak cukup lewat kampanye sesaat, tetapi harus menjadi kebiasaan sosial.

“Dan yang nggak kalah penting, edukasi keuangan ini harus mulai dari sekolah, supaya jadi kebiasaan, bukan cuma tren sesaat,” ujar Widi.

Perlu Strategi Sasar Milenial dan Gen Z
Reksa dana perlu juga menyasar segmen Milenial dan Gen Z, generasi yang sangat dipengaruhi oleh pengalaman digital, kecepatan informasi, dan validasi sosial. Tidak mudah untuk memberikan pemahaman pada dua generasi Milenial dan Gen Z.

Widi memberikan trik untuk Milenial dan Gen Z dengan beberapa pendekatan. Pendekatannya harus berbasis simplifikasi pesan. “Mulai investasi dari Rp10.000” jauh lebih efektif daripada menjelaskan diversifikasi portofolio. Visual dan interaktif, gunakan infografik, video pendek, dan simulasi keuntungan yang mudah dipahami.

Perlunya gamifikasi, aplikasi investasi bisa dikemas seperti permainan dengan target, level, atau pencapaian untuk meningkatkan engagement. Dan Social proof, testimoni teman sebaya, tren di media sosial, dan transparansi performa akan sangat memengaruhi keputusan mereka.

“Selain itu, penting untuk mengaitkan reksadana dengan tujuan hidup (financial goals), seperti traveling, membeli rumah, atau dana darurat. Generasi ini tidak hanya mencari keuntungan, tetapi juga makna dan relevansi dengan gaya hidup mereka,” jelas Widi.

Widi menambahkan mereka juga sangat dipengaruhi tren. Jadi kalau banyak teman atau influencer yang bahas reksadana, kemungkinan mereka ikut juga lebih besar. Dan yang penting, kaitkan dengan tujuan hidup mereka. Misalnya untuk traveling, beli gadget, atau dana darurat. Jadi terasa lebih nyata manfaatnya.

Dari aneka jenis investasi, emas masih menjadi pilihan utama investasi masyarakat. Emas unggul dari sisi komunikasi simbolik. Ia memiliki makna yang kuat: aman, stabil, dan diwariskan lintas generasi. Dalam teori komunikasi, ini disebut sebagai high-trust cultural asset.

Widi menganalisa faktor utama masyarakat memilih investasi umumnya meliputi kepercayaan (trust), emas dianggap paling aman. Kemudahan dipahami, tidak perlu pengetahuan finansial kompleks. Sangat likuid mudah dijual kapan saja, bukti fisik memberikan rasa kepemilikan nyata.

“Sementara reksadana masih kalah dalam aspek emosional ini. Oleh karena itu, tantangan komunikasinya adalah bagaimana menjadikan reksadana tidak hanya “logis menguntungkan”, tetapi juga terasa aman, mudah, dan relevan secara psikologis,” jelasnya.

Jadi sebenarnya tegas Widi orang memilih investasi itu bukan cuma soal untung, tapi soal rasa aman dan kepercayaan. Masalah utama bukan pada produknya, tetapi pada strategi komunikasi. Reksadana perlu diposisikan ulang dari instrumen yang “rumit dan eksklusif” menjadi investasi yang sederhana, aman, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

APRDI & OJK Massifkan Kampanye #ReksaDanaAja
APRDI sebagai asosiasi pelaku reksa dana punya peran kunci buat dorong literasi. Tantangannya bukan cuma buka akses, tapi bikin masyarakat beneran paham manfaat, risiko, dan cara pilih produk yang tepat. Langkah tepat yang dilakukan APRDI menggandeng Ototitas Jasa Keuangan (OJK) di sejumlah kota di Indonesia edukasi kepada media dan terjun langsung ke kampus.

Seperti yang dilakukan Dewan Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) Sosialisasi dan Edukasi (SOSEDU) 2026 di Surabaya Selasa (07/4/2026) sebagai langkah awal menuju Pekan Reksa Dana 2026. Program ini menjadi bagian dari kampanye nasional #ReksaDanaAja sekaligus momentum pengenalan program PINTAR Reksa Dana.

Pelaksanaan SOSEDU di “Kota Pahlawan” di Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Timur menjangkau sejumlah kampus melalui kolaborasi dengan Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia (BEI). Perguruan tinggi yang terlibat antara lain Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Kristen Petra, Universitas Airlangga, dan STIESIA Surabaya.

Kepala OJK Provinsi Jawa Timur, Yunita Linda Sari menjelaskan pentingnya literasi dalam memilih instrumen investasi, khususnya reksa dana. Menurutnya, pemahaman terhadap risiko dan mekanisme produk menjadi kunci agar masyarakat tidak hanya tergiur imbal hasil.

“Sebagai individu maupun wartawan, penting untuk memahami karakteristik produk, termasuk risiko dan mekanismenya. Dengan pemahaman yang baik, informasi yang disampaikan kepada masyarakat akan lebih objektif dan edukatif,” jelas perempuan asal kelahiran Blora, Jawa Tengah tersebut.

Alumnus MBA The George Washington University ini juga menekankan bahwa, media memiliki peran strategis dalam membentuk persepsi publik yang tepat terkait investasi, terlebih di tengah derasnya arus informasi yang belum tentu akurat.

“Berdasarkan data OJK, kinerja industri reksa dana di Jawa Timur menunjukkan tren positif. Sepanjang 2025, nilai transaksi mencapai sekitar Rp4,96 triliun atau tumbuh 54,60 persen secara tahunan (year-on-year). Sementara itu, jumlah investor reksa dana ritel tercatat sekitar 141.861 Single Investor Identification (SID), meningkat 13,52 persen (YoY),” urai alumnus S1 Undip, Semarang tahun 1995 ini.

Dalam kesempatan tersebut, diperkenalkan pula program PINTAR Reksa Dana (Program Investasi Terencana dan Berkala Reksa Dana). Program ini dirancang untuk mendorong kebiasaan berinvestasi secara rutin dan disiplin di berbagai segmen masyarakat, mulai dari mahasiswa hingga ibu rumah tangga.

Lolita Liliana Ketua Presidium Dewan APRDI menguraikan kampanye #ReksaDanaAja menjadi wujud komitmen industri dalam memperluas akses dan pemahaman masyarakat terhadap produk investasi. Ia menambahkan, rangkaian Road to Pekan Reksa Dana 2026 juga akan menghadirkan kelas edukasi khusus bagi jurnalis dan mahasiswa di sejumlah kota besar.

“Melalui sinergi antara asosiasi, OJK, dan Self Regulatory Organization, kami ingin mendorong masyarakat agar lebih memahami dan memanfaatkan reksa dana sebagai instrumen investasi yang terjangkau dan terdiversifikasi dan legal. Lewat edukasi dan sosialisasi ini secara perlahan meyakinkan masyarakat untuk tidak ragu dan khawatir investasi di reksa dana,” pungkas Ketua Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII) ini. Imm

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry