Oleh Bey Arifin*

NAHDLATUL Ulama sedang memasuki salah satu fase terpenting dalam perjalanan sejarahnya. Menjelang Muktamar ke-35, perhatian jutaan warga nahdliyin mulai tertuju pada arah kepemimpinan jam’iyah lima tahun ke depan.

Di tengah berbagai harapan itu, ada satu pelajaran yang tidak boleh dilupakan: Yaitu dinamika Muktamar NU ke-33 di Jombang pada tahun 2015.

Muktamar 2015 mencatat sejarah sebagai salah satu muktamar paling dinamis kalau tidak disebut gaduh atau ricuh. Perbedaan pandangan mengenai tata tertib, mekanisme persidangan, hingga proses pemilihan menjadi ujian bagi kedewasaan organisasi.

Apa pun penilaian terhadap peristiwa tersebut, satu hal yang pasti: NU belajar bahwa organisasi sebesar ini tidak cukup hanya memiliki aturan, tetapi juga membutuhkan kelapangan hati, kebesaran jiwa, dan komitmen untuk menempatkan kepentingan jam’iyah di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

Muktamar sejatinya bukan gelanggang untuk mengukur siapa yang paling kuat menggalang dukungan. Muktamar adalah forum permusyawaratan yang diwariskan para muassis sebagai ikhtiar kolektif mencari kemaslahatan umat.

Di ruang itulah para kiai bermusyawarah, para ulama bertukar pandangan, dan para pengurus menyusun arah perjuangan. Jika semangat itu bergeser menjadi sekadar kompetisi kekuasaan, maka ruh muktamar akan memudar.

Dalam tradisi pesantren, kemenangan tidak pernah dimaknai sebagai keberhasilan menyingkirkan lawan. Kemenangan adalah kemampuan menjaga ukhuwah ketika perbedaan muncul. Karena itu, siapa pun yang kelak terpilih sebagai Rais ‘Aam maupun Ketua Umum PBNU harus menjadi pemimpin seluruh warga NU, bukan pemimpin satu kelompok atau satu barisan pendukung.

Sebaliknya, siapa pun yang tidak terpilih tetap memikul tanggung jawab moral untuk menjaga persatuan dan menguatkan keputusan jam’iyah.

Pelajaran paling penting dari Muktamar 2015 adalah perlunya membangun kepercayaan terhadap seluruh proses. Panitia, pimpinan sidang, perangkat organisasi, dan seluruh unsur penyelenggara harus menjadi penjaga integritas, bukan bagian dari kontestasi.

Kepercayaan warga hanya akan tumbuh jika proses berlangsung transparan, adil, profesional, dan bebas dari keberpihakan. Dalam organisasi yang dibangun atas dasar amanah, persepsi tentang keadilan sama pentingnya dengan keadilan itu sendiri.

Hal lain yang patut diwaspadai adalah menguatnya pengaruh kepentingan eksternal. NU memiliki hubungan yang baik dengan semua elemen bangsa, termasuk pemerintah dan partai politik. Namun hubungan baik itu tidak boleh mengurangi kemandirian jam’iyah dalam menentukan arah .

Muktamar harus tetap menjadi rasa edukasi yang rumah besar ulama dan warga nahdliyin, bukan arena tarik-menarik kepentingan di luar organisasi. Marwah NU hanya akan terjaga apabila keputusan muktamar lahir dari kebijaksanaan para ahlinya, bukan dari tekanan atau pengaruh pihak lain.

Menjelang Muktamar ke-35 di Tambakberas Jombang, seluruh warga NU memiliki tanggung jawab yang sama: menghadirkan muktamar yang teduh. Perbedaan pilihan adalah sesuatu yang wajar, tetapi permusuhan karena pilihan adalah kemunduran.

Kritik boleh disampaikan, namun harus dibingkai dengan adab. Dukungan boleh diberikan, namun jangan sampai melahirkan fitnah, ujaran kebencian, atau perpecahan di tengah keluarga besar NU.

Para pendiri NU telah mewariskan teladan bahwa persatuan selalu didahulukan daripada kemenangan pribadi. Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari mengajarkan pentingnya menjaga persaudaraan, sementara para masyayikh setelah beliau memperlihatkan bahwa perbedaan pendapat dapat diselesaikan melalui musyawarah yang bermartabat. Warisan inilah yang harus dihidupkan kembali dalam setiap tahapan muktamar.

Dengan demikian, sejarah akan mencatat bukan hanya siapa yang terpilih memimpin PBNU, tetapi juga bagaimana proses itu dijalankan. Bila Muktamar ke-35 mampu berlangsung damai, bermartabat, penuh adab, dan diterima dengan lapang dada oleh seluruh warga nahdliyin, itulah kemenangan terbesar Nahdlatul Ulama.

Sebaliknya, jika muktamar meninggalkan luka dan saling curiga, maka siapa pun yang menang akan memikul beban yang tidak ringan.

Kini saatnya seluruh warga NU menjadikan Muktamar 2015 sebagai cermin, bukan sebagai bayang-bayang. Cermin untuk melihat apa yang perlu diperbaiki, apa yang harus dijaga, dan apa yang tidak boleh terulang.

Sebab NU didirikan bukan untuk memenangkan segelintir orang, melainkan untuk menjaga agama, merawat bangsa, dan menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh umat. Muktamar boleh berganti, kepemimpinan boleh berganti, tetapi ukhuwah nahdliyah harus tetap abadi.

*BEY ARIFIN adalah Pemerhati NU dan Pengurus LKSPHK Presnas IKAPETE

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry