Oleh Bey Arifin*

DI dalam shalat berjamaah, Rasulullah SAW tidak pernah tergesa-gesa memulai takbir sebelum memastikan shaf telah lurus dan rapat. Sebab, shaf yang lurus bukan hanya simbol keteraturan, tetapi juga cerminan kesatuan hati, tujuan, dan kepemimpinan.

Pesan profetik ini seharusnya menjadi pelajaran paling mendasar bagi PBNU menjelang Muktamar NU ke-35.

NU sedang memasuki salah satu persimpangan sejarahnya. Di tengah krisis moral bangsa, melemahnya kepercayaan publik terhadap banyak institusi, dan perubahan geopolitik dunia yang semakin kompleks, warga Nahdliyin menunggu NU tampil sebagai penyejuk, pemersatu, sekaligus penuntun arah peradaban.

Namun harapan itu akan sulit diwujudkan apabila energi organisasi justru habis untuk mengelola ketegangan internal dibanding mengurus kemaslahatan umat.

Sejarah mengajarkan bahwa organisasi besar jarang runtuh karena serangan dari luar. Ia justru melemah ketika kehilangan kohesi dari dalam. Ketika komunikasi antar-elite tersumbat, ketika ruang musyawarah menyempit, ketika perbedaan dipandang sebagai ancaman, saat itulah kewibawaan organisasi mulai terkikis.

Umat mungkin tidak mengetahui seluruh dinamika internal, tetapi mereka dapat merasakan apakah para pemimpinnya sedang berjalan dalam satu barisan atau saling menarik ke arah yang berbeda.

PBNU memikul tanggung jawab moral yang jauh lebih besar daripada sekadar menjalankan roda administrasi organisasi.

PBNU adalah wajah NU di hadapan umat. Karena itu, setiap sikap, setiap keputusan, dan setiap dinamika internal akan menentukan tingkat kepercayaan warga Nahdliyin.

Kepercayaan adalah modal terbesar organisasi. Sekali terkikis, ia jauh lebih sulit dipulihkan daripada sekadar menyusun kepengurusan baru.

Muktamar NU ke-35 tidak boleh direduksi menjadi kompetisi kekuasaan. Muktamar harus menjadi momentum mengembalikan ruh jam’iyah sebagaimana diwariskan Hadrotussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari: adab didahulukan sebelum jabatan, persatuan dijaga di atas kepentingan kelompok, dan musyawarah ditempatkan lebih tinggi daripada ambisi pribadi. Jabatan hanyalah alat, sedangkan marwah organisasi adalah tujuan yang harus dijaga bersama.

PBNU karena itu memerlukan konsolidasi yang sungguh-sungguh. Bukan konsolidasi yang dibangun atas dasar keseragaman pendapat, melainkan kesatuan komitmen untuk menjaga rumah besar NU.

Organisasi sebesar NU tidak membutuhkan pemimpin yang hanya mampu memenangkan kontestasi, tetapi pemimpin yang mampu menyembuhkan luka, merangkul perbedaan, dan mengembalikan kepercayaan seluruh elemen jam’iyah.

Jangan sampai PBNU sibuk menyerukan ukhuwah kepada umat, sementara ukhuwah di tingkat elite belum sepenuhnya dirasakan. Jangan meminta warga Nahdliyin merapatkan barisan apabila para pemimpinnya belum menunjukkan barisan yang kokoh.

Sebab, umat tidak hanya mendengar pidato para pemimpin, tetapi juga membaca bahasa tubuh organisasi. Keteladanan selalu lebih nyaring daripada slogan.

Apabila PBNU mampu meluruskan shaf kepemimpinannya menjelang Muktamar NU ke-35, maka NU akan memasuki babak baru dengan legitimasi moral yang kuat.

Tetapi apabila konsolidasi diabaikan, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar suksesnya sebuah muktamar, melainkan kepercayaan warga terhadap rumah besar yang selama satu abad menjadi benteng Islam Ahlussunnah wal Jamaah di Indonesia.

Karena itu, agenda pertama menjelang Muktamar bukanlah memilih siapa yang memimpin NU. Agenda pertama adalah memastikan bahwa NU tetap menjadi satu keluarga besar yang dipersatukan oleh adab, dipimpin oleh hikmah, dan digerakkan oleh amanah. Sebab, hanya barisan yang rapi yang akan mampu memimpin umat menuju masa depan.

*Bey Arifin adalah Pemerhati NU dan
Pengurus LKSPHK PRESNAS IKAPETE
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry