SURABAYA | duta.co – Media sosial (medsos) begitu masif menghakimi panutan nahdliyin terkait proses Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, akhir Agustus kemarin. “Saya sendiri miris, ada seorang bersarung, berpeci ala kiai NU, mengunting-gunting foto almukarram Kiai Haji Miftachul Akhyar. Ia mengaku tidak terima NU dipimpin beliau. Ini masif, jauh dari akhlak nahdliyin,” demikian Prof Dr Mohammad Mukhrojin. Dosen  Ilmu Agama di salah satu Perguruan Tinggi (PT) swasta Surabaya, Kamis (3/9/26).

Menurut Gus Khozin, panggilan akrabnya, Islam mengajarkan akhlakul karimah. Sementara media sosial (medsos) kita mengajarkan segala cara untuk melampiaskan kemarahan. “Ironisnya, banyak diantara kita justru menikmati caci-maki, padahal itu bisa membuat kita jatuh tersungkur di hadapan Allah SWT,” terangnya dengan mengutip sebuah hadits bahaya caci-maki.

Pun tudingan risywah kepada peserta Muktamar ke-35 NU, ini sudah kelewatan. Seakan semua peserta itu hubbudunya, semua peserta muktamar itu kemaruk dengan duit. Sehingga pilihannya dijual, dihargai dengan duit. “Kok bisa orang kesetanan, merasa baik sendiri, lantaran keinginannya tidak terpenuhi. Bahwa ada risywah kita harus mencegahnya. Janganlah menganggap PWNU, PCNU dan seluruh peserta Muktamar ke-35 NU itu rendah suka risywah,” urainya.

Meme ini sudah beredar jauh sebelum muktamar NU Agustus 2026.

Belakangan anggota ahlul halli wal aqdi (AWHA) digoyang. Mereka diadu domba seakan ada perbedaan pendapat yang tidak terlesaikan. “Sampai-sampai medsos kita menggambarkan betapa permusuhan antaranggota AHWA itu terjadi. Itu pasti sesat. Kiai itu sangat wisdom (bijak) dalam bermusyawarah. Bahwa ada perbedaan pendapat, itu biasa, kiai sangat amat memahami itu,” terangnya.

Setelah heboh di medsos Kiai Afif mufarrakoh, kini muncul bantahan dari Kiai Abdul Moqsith Ghazali. Semua nahdliyin paham, bahwa, Abdul Moqsith Ghazali adalah santri KH Aifuddin yang memiliki akses istimewa dalam hal kabar. “Tersiar berita bahwa Almukarram KH Afifuddin Muhajir mufaraqoh dari kepemimpinan PBNU hasil muktamar ke 35 di Tambakberas Jombang kemarin. Atas berita tersebut, saya diminta Kiai Afif untuk mengklarifikasi bahwa berita itu tidak benar. Hoax,” jelas Gus Khozin membacakan narasi atas nama Abdul Moqsith Ghazali.

“Alih-alih mufaraqah, Kiai Afif adalah anggota Ahwa (اهل الحل والعقد) yang ikut  memusyawarahkan siapa Rais Aam. Kiai Afif mengakui sempat terjadi perbedaan pendapat tentang rais aam. Sebagian memilih Hadhratussyaikh Kiai Nurul Huda Jazuli dan sebagian lagi memilih Shahibul Fadhilah Kiai Miftachul Akhyar. Dengan merujuk pada syarah Jam’ul Jawami’  bahwa pendapat mayoritas memang bukan ijma’ tapi bisa dijadikan hujjah  ( لايكون الاتفاق مع مخالفة البعض اجماعا بل يكون حجة اعتبارا للاكثر ), maka ditetapkanlah Almukarram KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU Periode 2026-2031.,” kutipnya.

Sidang ditutup dengan penanda-tanganan berita acara oleh semua — sembilan para kiai anggota Ahlul Halli Wal Aqdi. Kiai Afif menyebut proses pemilihan Rais Aam PBNU kemarin dengan istilah “bersepakat setelah berbeda pendapat” ( الاتفاق بعد الاختلاف ). Demikian yang saya dengar dari guru saya, Almukarram Kiai Afif. Lebih dari itu saya tidak tahu: la adry — لا ادرى.  Jakarta, 2 September 2026 Salam, Abdul Moqsith Ghazali,” jelas Gus Khozin sambil mengirim bantahan yang ditulis Abdul Moqsith Ghazali. (mky)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry