Oleh: Ihyaul Lazib*

NU (Nahdlatul Ulama) bukan sekadar organisasi keagamaan yang besar di Indonesia. NU telah berkembang menjadi sebuah kekuatan sosial-keagamaan dengan jaringan masyarakat yang sangat luas, bahkan layak disebut sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di dunia.

Besarnya NU dapat dilihat dari jumlah warga Nahdliyin. Berdasarkan survei yang dirujuk berbagai publikasi, sekitar 59,2 persen umat Islam Indonesia mengaku sebagai bagian dari warga NU. Dengan jumlah penduduk Muslim Indonesia yang sangat besar, angka tersebut diperkirakan mencapai sekitar 150 juta orang.

Kebesaran itu tentu bukan semata-mata karena jumlah. Ia lahir dari sejarah panjang, jaringan pesantren, madrasah, perguruan tinggi, lembaga sosial, ekonomi, kesehatan, pendidikan, serta jutaan jamaah yang hidup dan bergerak di tengah masyarakat.

Namun, ada satu kekuatan NU yang menurut saya belum mendapatkan perhatian dan optimalisasi sebagaimana mestinya: diaspora Nahdliyin di luar negeri.

Dari Diaspora Menjadi PCINU

Seiring dengan semakin banyaknya warga NU yang belajar, bekerja dan menetap di luar negeri, pada awal dekade 2000-an mulai berkembang Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama atau PCINU di berbagai negara.

PCINU bukan sekadar organisasi tempat berkumpulnya warga NU yang sedang berada di luar Indonesia.

Ia adalah wajah NU di luar negeri. Ia adalah ruang bagi warga Nahdliyin untuk mempertahankan tradisi keislaman Ahlussunnah wal Jamaah yang selama ini hidup di Indonesia, sekaligus menjadi jembatan antara NU, masyarakat setempat dan berbagai institusi di negara tempat mereka tinggal.

Hari ini, jaringan PCI NU telah menjangkau sekitar 33 negara di berbagai kawasan dunia. Data yang disampaikan dalam rangkaian kegiatan menjelang Muktamar ke-35 NU pada Agustus 2026 menyebut PCI NU telah tersebar di kurang lebih 33 negara.

Dalam daftar resmi Lembaga Falakiyah PBNU tahun 2026 sendiri tercantum PCINU di berbagai negara, mulai dari Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, Timor Leste, Hong Kong, Taiwan, Jepang, India, Pakistan, negara-negara Timur Tengah, Afrika, Eropa, Australia hingga Amerika Serikat dan Kanada.

Artinya, NU sebenarnya telah memiliki jaringan global yang sangat berharga. Pertanyaannya kemudian: Sudahkah kekuatan itu benar-benar dioptimalkan?

PCINU Bukan Sekadar Tempat Berkumpul

Menurut saya, setidaknya ada tiga fungsi strategis PCINU yang harus diperkuat. Pertama, PCINU menjadi wadah warga Nahdliyin di luar negeri.

Di negeri perantauan, warga NU membutuhkan ruang untuk bersilaturahmi, menjalankan tradisi keagamaan, melakukan pengajian, tahlilan, istighatsah, Maulid Nabi, bahtsul masail, kegiatan sosial, pendidikan dan berbagai aktivitas ke-NU-an lainnya.

PCINU menjaga agar warga Nahdliyin tidak kehilangan akar tradisi ketika berada jauh dari kampung halaman.

Kedua, PCINU menjadi ruang solidaritas diaspora. Hidup di luar negeri tidak selalu mudah. Ada mahasiswa, pekerja profesional, pekerja migran, pengusaha, akademisi, dosen, peneliti dan keluarga Nahdliyin yang menghadapi persoalan berbeda-beda.

PCINU dapat menjadi ruang untuk saling menguatkan, memberikan informasi, membangun jejaring, membantu ketika menghadapi persoalan sosial, bahkan menjadi pintu bagi peningkatan kapasitas dan kesejahteraan warga Nahdliyin.

Ketiga, dan ini yang sangat penting, PCINU adalah duta sosial-keagamaan NU di dunia internasional. PCINU dapat menjadi wajah Islam Indonesia yang moderat, toleran, seimbang dan berakar pada tradisi Ahlussunnah wal Jamaah. Dalam konteks ini, PCINU sesungguhnya dapat menjadi bagian dari soft diplomacy Indonesia.

Sejumlah kajian bahkan melihat jaringan PCINU sebagai salah satu instrumen diplomasi sosial-keagamaan yang dapat memperkenalkan Islam Indonesia dan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin kepada masyarakat dunia.

Maka, PCINU tidak seharusnya hanya dilihat sebagai organisasi mahasiswa atau perkumpulan pengajian orang Indonesia di luar negeri. PCINU adalah aset strategis NU untuk membangun peradaban global.

Potensi Besar yang Belum Sepenuhnya Dioptimalkan

Di balik keberadaan PCINU, terdapat potensi manusia yang luar biasa. Di berbagai negara terdapat kader NU yang sedang menempuh pendidikan doktoral, menjadi profesor, dosen, peneliti, dokter, insinyur, ekonom, pengusaha, praktisi teknologi, diplomat, profesional dan berbagai bidang lainnya.

Dulu, diaspora santri banyak dikenal melalui kajian keislaman dan ilmu-ilmu sosial-humaniora. Kini situasinya berubah. Kader NU di luar negeri telah memasuki berbagai bidang sains dan teknologi, termasuk komputer, kedokteran, teknik, robotika, arsitektur dan berbagai disiplin ilmu lainnya.

Bayangkan jika seluruh potensi tersebut dipetakan dan disinergikan. NU dapat memiliki global talent pool yang luar biasa. Para doktor dan profesor diaspora dapat menjadi mitra pengembangan perguruan tinggi NU.

Para peneliti dapat membantu membangun ekosistem riset. Para profesional dapat menjadi mentor bagi kader muda. Para pengusaha dapat membangun jaringan bisnis internasional. Para ahli teknologi dapat membantu transformasi digital NU.

Para ulama dan dai dapat membangun jaringan dakwah internasional. Dan para kader yang memiliki pengalaman di lembaga-lembaga internasional dapat menjadi jembatan kerja sama NU dengan institusi global. Ini bukan sesuatu yang utopis.

Bahkan menjelang Muktamar ke-35 NU, PCINU Hong Kong dan Taiwan telah menyuarakan pentingnya membangun talent pool atau bank data kader profesional NU di luar negeri, sekaligus mengoptimalkan potensi kader intelektual dan kerja sama internasional. Artinya, gagasan ini bukan sekadar wacana. Ia merupakan kebutuhan nyata.

Pekerja Migran: Potensi yang Sering Dilupakan

Ada satu kelompok lain yang juga tidak boleh dilupakan: pekerja migran Indonesia. Mereka adalah bagian penting dari diaspora Indonesia, termasuk diaspora Nahdliyin. Para pekerja migran bukan hanya orang yang bekerja mencari nafkah di luar negeri.

Mereka adalah manusia-manusia yang membawa keterampilan, pengalaman, etos kerja dan jaringan sosial dari negara tempat mereka bekerja.

Dan kontribusi ekonominya sangat besar. Data pemerintah menunjukkan remitansi Pekerja Migran Indonesia mencapai sekitar Rp251,2 triliun pada 2024 dan meningkat menjadi sekitar Rp288 triliun pada 2025.

Angka tersebut menunjukkan bahwa pekerja migran merupakan salah satu kekuatan ekonomi yang sangat penting bagi Indonesia.

Karena itu, ketika mereka pulang ke tanah air, jangan hanya dilihat sebagai orang yang “sudah selesai bekerja di luar negeri”. Mereka harus dilihat sebagai aset pembangunan.

Mereka membawa pengalaman kerja, keterampilan, kedisiplinan, jaringan, modal dan pengetahuan tentang budaya kerja negara lain. NU seharusnya dapat ikut membangun ekosistem pemberdayaan mereka.

Misalnya melalui pelatihan kewirausahaan, literasi keuangan, pendampingan usaha, akses pembiayaan dan pengembangan jaringan bisnis antara Indonesia dengan negara tempat mereka pernah bekerja.

Dengan demikian, diaspora NU tidak hanya menjadi sumber remitansi, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan, keterampilan dan jaringan internasional.

Dua Puluh Enam Tahun, Apa yang Sudah Kita Lakukan?

Di sinilah kita perlu melakukan refleksi. PCINU telah berkembang selama kurang lebih seperempat abad. Dari yang awalnya hanya beberapa kelompok kecil mahasiswa dan diaspora, kini telah berkembang menjadi jaringan yang tersebar di puluhan negara.

Tetapi pertanyaan pentingnya adalah: Apakah PBNU sudah memperlakukan PCINU sebagai kekuatan strategis untuk membawa NU ke panggung dunia? Saya kira, jawabannya belum sepenuhnya. Bukan berarti tidak ada perhatian sama sekali.

PBNU tentu telah melakukan berbagai langkah dan komunikasi dengan PCINU. Bahkan keberadaan PCINU sendiri merupakan bentuk pengakuan bahwa NU membutuhkan struktur organisasi di luar negeri.

Namun, dalam pandangan saya, hubungan PBNU dan PCINU masih terlalu sering bersifat reaktif dan insidental. PCINU baru banyak dihubungi ketika PBNU membutuhkan sesuatu. Ketika ada agenda internasional, PCINU diminta membantu.

Ketika ada kunjungan tokoh PBNU ke suatu negara, PCINU menjadi penghubung. Ketika ada kegiatan, PCINU menjadi pelaksana lokal. Padahal, semestinya hubungan itu bergerak lebih jauh. PCINU bukan hanya panitia kegiatan PBNU di luar negeri. PCINU harus menjadi mitra strategis PBNU dalam merancang dan menjalankan agenda internasionalisasi NU.

Saatnya Mengubah Cara Pandang

Saya kira sudah waktunya cara pandang tersebut diubah. PCINU tidak boleh lagi dipandang sebagai “cabang NU yang berada jauh dari pusat”.

Sebaliknya, PCINU harus dilihat sebagai mata, telinga, tangan dan jejaring NU di dunia internasional. PBNU berada di Indonesia dan memiliki kekuatan basis massa yang sangat besar.

PCINU berada di berbagai negara dan memahami karakter masyarakat, budaya, regulasi, institusi dan jaringan sosial di negara masing-masing. Keduanya seharusnya saling melengkapi. PBNU memiliki kekuatan sebagai pusat organisasi. PCINU memiliki pengetahuan tentang medan internasional.

PBNU memiliki jaringan pesantren dan lembaga pendidikan yang besar. PCINU memiliki akses kepada universitas dan pusat riset dunia.

PBNU memiliki jutaan jamaah. PCINU memiliki diaspora yang tersebar di berbagai negara.

Jika kekuatan ini disatukan, maka NU memiliki modal luar biasa untuk memasuki percaturan global.

PCINU Harus Masuk dalam Agenda “NU Go International”

Karena itu, saya berharap ke depan internasionalisasi NU tidak hanya diterjemahkan sebagai pengiriman delegasi PBNU ke luar negeri atau menghadiri konferensi internasional. Go international harus berarti membangun sistem internasional NU. Dan PCINU harus menjadi bagian utama dari sistem tersebut.

PBNU dapat membangun semacam International NU Network yang mengintegrasikan seluruh PCINU. Di dalamnya dapat dibangun beberapa agenda strategis:

Pertama, Global NU Talent Pool. Memetakan seluruh kader NU di luar negeri berdasarkan keahlian: akademisi, ilmuwan, profesional, pengusaha, dokter, insinyur, ekonom, ahli teknologi, diplomat, ulama dan bidang lainnya.

Kedua, Global NU Knowledge Network. Menghubungkan para akademisi dan peneliti diaspora dengan perguruan tinggi, pesantren dan lembaga riset NU di Indonesia.

Ketiga, NU International Diplomacy. Melibatkan PCINU dalam agenda diplomasi sosial-keagamaan NU dengan pemerintah, universitas, organisasi masyarakat sipil, lembaga keagamaan dan institusi internasional.

Keempat, Global Halal and Economic Network. Memanfaatkan jaringan PCINU untuk mengembangkan ekonomi halal, perdagangan, investasi dan kewirausahaan antara Indonesia dan negara-negara tempat PCINU berada.

Kelima, Migrant Empowerment Network. Mengembangkan program khusus bagi pekerja migran Nahdliyin, bukan hanya ketika mereka berada di luar negeri, tetapi juga ketika mereka kembali ke Indonesia.

Keenam, International Education Network. Mengembangkan kerja sama beasiswa, pertukaran mahasiswa, riset bersama dan penguatan perguruan tinggi NU.

Ketujuh, Database Diaspora NU. NU membutuhkan data. Siapa kader NU di luar negeri? Di mana mereka? Apa keahliannya? Apa pekerjaannya? Institusi mana yang menaunginya? Jaringan apa yang dimilikinya?Apa yang dapat dikontribusikannya untuk NU dan Indonesia?

Tanpa data, potensi hanya akan menjadi potensi. Dengan data, potensi dapat menjadi kekuatan.

Jangan Menunggu PCINU Datang Meminta Perhatian

Saya kira sudah waktunya hubungan PBNU dan PCINU dibangun dengan paradigma baru. Bukan lagi: “Apa yang bisa PCINU lakukan untuk PBNU?”

Tetapi: “Apa yang bisa PBNU dan PCINU lakukan bersama untuk membesarkan NU dan memberikan manfaat bagi dunia?”

Ini perubahan kecil dalam kalimat, tetapi besar dalam paradigma. PCINU juga harus berbenah. Jangan hanya menunggu PBNU memberikan program. PCINU harus menunjukkan kapasitasnya. Harus profesional. Harus memiliki database. Harus memiliki program yang terukur. Harus membangun jaringan dengan masyarakat setempat. Harus mampu menjadi representasi NU yang baik.

Dan yang paling penting, PCINU harus memiliki visi jauh ke depan. Dengan demikian, ketika PBNU datang membawa agenda internasional, PCINU tidak sekadar bertanya: “Apa yang harus kami bantu?”

Tetapi dapat mengatakan: “Ini peta potensi negara kami. Ini jaringan yang kami miliki. Ini peluang yang bisa kita kerjakan bersama.”

Di titik itulah PCINU benar-benar menjadi mitra strategis.

Dari Cabang Istimewa Menjadi Jaringan Strategis Dunia

NU memiliki sesuatu yang tidak dimiliki banyak organisasi lain: massa yang besar, tradisi keilmuan yang kuat, pesantren yang luas, jaringan sosial yang mengakar dan diaspora yang tersebar di berbagai negara.

Jika seluruh kekuatan tersebut disatukan, NU bukan hanya besar secara jumlah. NU dapat menjadi besar secara pengaruh global. Dan PCINU adalah salah satu pintu terpenting menuju ke sana.

Karena itu, menjelang memasuki babak baru perjalanan NU, saya berharap Muktamar ke-35 tidak hanya berbicara tentang bagaimana memperkuat NU di dalam negeri.

Tetapi juga menjawab pertanyaan: Bagaimana NU hadir sebagai kekuatan Islam rahmatan lil ‘alamin di tingkat dunia? Jawabannya tidak cukup dengan membangun kantor internasional. Tidak cukup dengan mengirim delegasi ke luar negeri. Tidak cukup dengan menghadiri konferensi internasional.

Yang dibutuhkan adalah ekosistem NU global. Dan ekosistem itu sebenarnya sudah tersedia. Namanya: PCINU. Jaringannya sudah ada. Kadernya sudah ada. Intelektualnya sudah ada. Profesionalnya sudah ada. Pengusahanya sudah ada. Pekerja migrannya sudah ada. Ulamanya sudah ada. Mahasiswanya sudah ada. Tinggal satu yang diperlukan:kemauan untuk mengonsolidasikan semuanya menjadi kekuatan strategis NU.

Sudah waktunya PCINU tidak lagi dipandang sebelah mata. Sudah waktunya PCINU tidak hanya dihubungi ketika diperlukan. Sudah waktunya PCINU tidak sekadar menjadi pelaksana kegiatan PBNU di luar negeri.

PCINU harus ditempatkan sebagai mitra strategis PBNU untuk membawa Nahdlatul Ulama dari organisasi besar di Indonesia menjadi kekuatan sosial-keagamaan yang semakin berpengaruh di dunia.

Karena pada akhirnya, internasionalisasi NU bukan berarti membawa NU keluar dari Indonesia. Internasionalisasi NU berarti membawa nilai-nilai NU yang rahmatan lil ‘alamin untuk memberi manfaat bagi kehidupan dunia. Dan di sanalah PCINU mempunyai peran yang sangat besar.

*Ihyaul Lazib adalah Rais Syuriyah PCINU Malaysia

 

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry