PENANGANAN: suasana seminar penanganan anak dengan Penyakit Jantung Bawaan (PJB) kini dapat diobati dan ditangani dengan professional. (duta.co/udiek)

JEMBER | duta.co – Penyakit Jantung tak hanya menyerang orang tua atau usia dewasa saja. Banyak kasus penyakit jantung juga dialami anak-anak bahkan usia dini atau bayi. Namun sebagai orang tua yang “terpilih” jangan khawatir, anak dengan Penyakit Jantung Bawaan (PJB) kini dapat diobati dan ditangani dengan profesional asalkan orang tua rajin memeriksakan kesehatan sang buah hati tatkala mengalami gejala PJB.

Hal tersebut dipaparkan oleh dr Elfan Moeljanto, SpJP pembicara seminar Posyandu PJB yang diadakan Little Heart Community (LHC) bekerjasama dengan RS Jember Klinik Jumat (19/4) di aula RS Jember Klinik.

“Orang tua harus aktif memeriksakan anak sejak dini jika mengalami gejala PJB agar tertangani dengan baik,” ujarnya.

Secara klinis dr Elfan mengungkapkan bahwa aliran darah yang mengandung O2 atau Oksigen dalam jantung akan kembali disalurkan ke otak dan ke tubuh agar dapat melakukan aktifitas.

“Namun jika CO 2 yang masuk ke jantung bocor dan bercampir dengan Oksigen itu pertanda jantung anak mengalami gangguan dan perlu penanganan medis,” katanya.

Ciri-ciri anak yang mengalami indikasi PJB diantaranya batuk pilek secara berulang-ulang, anak mudah lelah, nafsu makan berkurang, berat badan tidak bertanbah atau sulit bertambah, bahkan bisa juga mengalami pingsan.

“Ciri fisil lainnya yangmudah kita lihat tubuih berwarna kebiruan dan kuku Nampak bengkak memutih,” tuturnya.

Sementara itu dr Ayu Ekamila, SpA dalam paparannya mengungkapkan agar para orang tua “terpilih” secara aktif berkomuniksi dengan tenaga medis dalam hal ini dokter yang berkompeten agar sang anak dengan PJB dapat ditangani dengan segera.

“Bapak-ibu jangan pasif ya jika control seringlah bertanya kepada dokter yang menangani agar dapat diobati dan dapat sehat kembali,” ujarnya.

Dr Ayu juga menambahkan bahwa anak dengan PJB haruslah tetap diberikan nutrisi makanan yang baik, bergizi dan sehat. Kondisi itu agar cakupan gizi sang anak tetap terjaga walaupun dalam kondisi PJB atau dalam masa pengobatan.

“Tumbuh kembang anak setelah pasca pengobatan dan penanganan anak dengan PJB juga harus diperhatikan para orang tua,” imbuhnya.

Dr Ayu berharap agar para orang tua yang memiliki anak atau bayi dengan gejala PJB sering-sering kontrol dan komunikasi dengan dokter serta aktif bergabung dengan komunitas.

Ce Meidy selaku Koordinator LHC Jawa Timur mengungkapkan acara tersebut diadakan agar masyarakat paham akan pentingnya penanganan anak dengan PJB. Pihaknya mempersilahkan warga masyrakat jika ingun bergabung dengan komunitas LHC.

“Kami terbuka dan siap membantu jika ada buah hati kita mengalami PJB. Kita siap membantu solusi bersama,” pungkasnya. (dik)

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.