MAGELANG | duta.co – Kalau Anda ke China, bisa menemukan buah semangka sebesar nangka, beratnya bisa sampai 5 kg lebih. Tetapi, di Indonesia sebentar lagi semarak Sawo dan alpukat yang besarnya mirip semangka dengan berat 2 kg lebih.

Hebatnya lagi, teknologi modern petani ini bisa menghasilkan sawo raksasa yang dapat dipanen setiap waktu tanpa mengenal musim.

Demikian disampaikan Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian Suwandi, bahwa sawo raksasa yang dikembangkan di Magelang, Jawa Tengah kebanyakan jenis magana, loreta, havana dan qiwes sebentar lagi go publik.

Berat sawo raksasa bisa di atas dua kilogram per buah yang rasanya mirip ubi Cileumbu.

“Sawo raksasa sudah dikembangkan lima tahun. Sepanjang waktu berbuah terus tidak mengenal musim. Buahnya dari kembang sampai bisa dipanen kurang lebih sembilan bulan,” tutur Suwandi saat mengunjungi tempat pembibitan sawo di Dusun Teki, Desa Kebonrejo, Kecamatan Salaman, Magelang, Kamis (18/4).

Pengelola pembibitan sawo, klengkeng dan alpukat Mugiyanto yang mendampingi dirjen hortikultura mengatakan, terdapat 30 jenis klengkeng yang dikembangkan. Diantaranya Klengkeng Kateki, Itoh, Mata Lada, dan Merah yang produksinya setiap tahun mencapai 130 ribu batang.

Teknik persilangan atau perbanyakan bibit klengkeng yang dilakukan ada empat teknik, yakni sambung sisip, tempel mata, sambung pucuk, dan sambung susu.

“Teknik sambung sisip membutuhkan waktu 20 sampai 30 hari. Sambung mata butuh waktu yang lebih lama 25 sampai 35 hari. Keberhasilan sambung pucuk tergantung cuaca dan sambung susu butuh waktu 1,5 bulan,” jelas Mugiyanto.

Pembibitan buah yang dikembangkannya juga alpukat. Terdapat beberapa jenis alpukat seperti kendil dan aligator.

Alpukat Kendil sudah dilepas varietasnya. Berat buahnya mencapai 1,5 hingga 2,5 kilogram per buah dan satu pohon umur tujuh tahun bisa berbuah di atas satu ton per tahun yang berbuah sepanjang waktu. Harga buah di petani Rp 35.000 per kilogram.

“Ada juga Alpukat Aligator berat 0,9 sampai 1,5 kilogram per buah. Bisa berbuah di atas satu ton per pohon per tahun,” ujar Mugiyanto. (net)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.