KH Suyuthi Toha, Pengasuh Pondok Pesantren Mansy'aul Huda Banyuwangi, Jawa Timur. (FT/Youtube)

SURABAYA | duta.co – KH Suyuthi Toha, Pengasuh Pondok Pesantren Mansy’aul Huda Banyuwangi, Jawa Timur,  berpesan agar kita tidak kaget dengan berbagai manuver PBNU yang kontroversi. Dari soal keinginannya menjadi ashabul qoror (pemangku kebijakan) merebut kekuasaan sampai ‘amandemen’ kata ‘kafir’ untuk non-muslim di Indonesia.

“Ini hanya sebuah akibat. Akibat dari muktamar yang penuh maksiat, akibatnya seperti ini. Man tholaba syaian bi maksiatin ab’ada amma roja (barang siapa yang mencari sesuatu dengan cara maksiat, akibatnya jauh dari harapan). Ini kaidah, tidak bisa dibantah,” jelas KH Suyuthi Toha kepada duta.co, Selasa (5/6/2019) di Surabaya.

Menurut Kiai Suyuthi, muktamar ke-33 NU di Jombang berjalan dengan penuh maksiat. Direkayasa sedemikian rupa. Mereka (perekayasa red) itu lupa, bahwa, cara-cara seperti itu tidak akan membawa maslahah untuk umat, sebaliknya justru membawa petaka.

“Lihat saja, apa yang dilakukan PBNU setelah muktamar 33 Jombang, selalu membuat bingung umat. Keputusan Rais Aam menjadi Cawapres, ini bukti nyata bahwa NU sudah tidak melayani umat, melainkan melayani kekuatan politik, akhirnya ingin menguasai umat. Ini tragedi yang tidak pernah terjadi di NU,” tegasnya.

Warga NU Jauh Lebih Paham

Masih menurut Kiai Suyuthi, bahtsul masail Munas NU di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat yang menganulir kata ‘kafir’, juga bagian dari pembingungan umat. Apalagi dikait-kaitkan dengan status warga negara Indonesia. Padahal, semua paham, kata kafir itu milik internal umat Islam, tidak mengusik sedikitpun status kewarganegaraan seseorang.

“Tetapi, karena mereka butuh untuk melindungi kelompoknya, maka, menjadi panting menganulir kata ‘kafir’. Kalau bahasa kasarnya, mereka ini akan menjadi NU sebagai ‘bungkus merah’, dengan begitu yang merah tertutup dengan hijaunya NU,” katanya.

Kendati begitu, jelas Kiai Suyuthi, ‘badai’ yang dihembuskan PBNU ini tidak akan bisa menggoyahkan akar rumput, warga nahdliyin, termasuk dalam berpolitik. Warga NU sudah paham apa itu khitthah, warga NU lebih paham siapa yang harus dipilih, warga NU juga paham dengan akal-akalan politik yang ingin ‘menjebak’ suara nahdliyin.

“Dalam pepatah arab dikenal ar-rihu asy-syadidah la tahthimul kala-a wahiya tahtimu dauhasy-syajaroh wa musyayyadal bunyan (sedahsyat apapun badai tidak akan menggoyahkan akar rumput. Meski badai itu berhasil menumbangkan pohon-pohon menjulang dan merobohkan bangunan. Tetapi, warga NU tidak akan goyah dengan manuver politik PBNU ini,” tegasnya. (mky)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.