dr Dyah Yuniati, SpN – Dokter Spesialis Neurologi, RSI Surabaya Jemursari dan Dosen Klinis Dept.Neurologi Fakultas Kedokteran

BILA kita menjumpai pasien, keluarga kita, dalam kehidupan sehari-hari, dengan keluhan kebas, kesemutan, nyeri, atau kelemahan pada bagian bawah anggota gerak tubuhnya, apa yang terlintas dalam benak kita?

 Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah tentunya melakukan anamnesis, menanyakan runtutan keluhannya, membedakan apakah gejala disebabkan oleh kerusakan sistem saraf pusat atau saraf tepi.

Juga menanyakan gaya hidup, serta riwayat penyakit pasien dan keluarganya. Perlu diketahui, keluhan pada sistem saraf pusat, selalu disertai gejala sentral lain seperti gangguan bicara, pandangan ganda, ataksia/ gangguan keseimbangan, atau gangguan defekasi dan berkemih.

Info Lebih Lengkap Buka Website Resmi Unusa

Namun pada keluhan saraf tepi , keluhan di bagian bawah dari anggota gerak  umumnya terdistribusi dengan pola “stocking and gloves” / seperti mengenakan sarung tangan dan kaus kaki. Dokter selanjutnya menggali apakah keluhan bersifat akut/kronik dan menanyakan ada tidaknya penyakit penyerta yang bisa menjadi penyebab neuropati perifer (nyeri, kesemutan, kebas dan lemah otot).

Jangan hanya menganggap kesemutan, kebas, atau rasa subyektif yang dikeluhkan pasien dengan “biasa saja”. Dokter pada umumnya akan melakukan pemeriksaan fisik umum dilakukan untuk mencari penyakit yang mungkin menjadi penyebab neuropati tersebut.

Pemeriksaan fisik umum dapat berupa pemeriksaan sendi untuk deteksi inflamasi seperti radang sendi , penilaian pembesaran saraf seperti pada kasus lepra, serta penilaian ada tidaknya hiperekstensi/kekakuan sendi dan atrofi/pengecilan otot karena hal ini sering ditemukan pada pasien neuropati perifer.

Selanjutnya juga akan dilakukan pemeriksaan neurologis antara lain berupa pemeriksaan refleks dan tonus otot, gerak , posisi dan rasa raba. Ingat, bahwa neuropati perifer juga lebih berisiko terjadi pada seseorang yang memiliki kondisi berikut ini, berat badan berlebih, tekanan darah tinggi dan usia 40 tahun ke atas.

Kenali juga apakah kita memiliki beberapa penyakit metabolik, bawaan, infeksi yang dapat memicu timbulnya gejala neuropati seperti ,diabetes, infeksi bakteri atau virus, HIV, kekurangan vitamin B1, B6, B12, dan vitamin E, penyakit liver, penyakit ginjal,peradangan pembuluh darah, kanker, alkohol, dan efek samping penggunaan obat dalam jangka panjang.

Skrining pemeriksaan laboratorium untuk menyingkirkan infeksi, pemeriksaan kadar gula darah, fungsi ginjal, metabolik lain, fungsi hati diperlukan. Jika memang sudah mengalami kecacatan motorik dan sensorik seharusnya dilakukan pemeriksaan radiologi  dan EMG (Elektromyografi) untuk mengukur aktivitas listrik pada otot, sehingga diketahui aliran saraf yang rusak.

Tes fungsi saraf juga bisa dilakukan dengan tes konduksi saraf, untuk mengukur kekuatan dan kecepatan sinyal pada saraf, sehingga penatalaksanaan dapat dilakukan secara tepat. Pengobatan neuropati perifer tergantung pada penyebab yang mendasarinya dapat berupa obat/ farmakologis maupun non farmakologis.

Cara terbaik untuk mencegah neuropati perifer adalah dengan menghindari atau mengendalikan faktor-faktor risikonya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan menjalani gaya hidup sehat, seperti:

  • Mengkonsumsi makanan kaya nutrisi, seperti buah, sayur, banyak minum air
  • Berolahraga secara rutin, sesuai kemampuan
  • Menghindari hal yang dapat menyebabkan cedera pada saraf, misalnya gerakan berulang, posisi tubuh yang menekan saraf, kebiasaan merokok, dan konsumsi minuman, makanan beralkohol.

Hal yang fatal apabila kebas, kesemutan, baal, sampai mengganggu kualitas hidup kita yang paling utama adalah lemah otot dan menurunnya kemampuan untuk berdiri seimbang, sehingga mudah hilang keseimbangan dan terjatuh. Selain itu,jika terjadi  mati rasa di area tertentu dapat membuat penderita tidak sadar jika kulitnya mengalami cedera luka bakar. Kondisi ini dapat menyebabkan infeksi, terutama jika menderita diabetes. Akibatnya, penyembuhan luka menjadi lebih lambat, bahkan menyebabkan kematian jaringan/ gangren, dan tidak menutup kemungkinan menjalani amputasi.

Jadi kenali secara dini jika tubuh dan anggota gerak kita mengalami ganguan rasa, apalagi jika ada faktor risiko dan keluhan tersebut sangat menggangu kualitas dan aktivitas fisik sehari-hari . Salam Sehat! *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry