
KEDIRI | duta.co – Haul Bani Aryo Redjo, Sabtu (28/6/25), di Pondok Pesantren Al Huda Al-Jazil, Pulosari, Papar, Kediri, menarik dicermati. Ada tiga hal penting disampaikan KH Abd Wahid Harun, pengasuh PP Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo yang juga cucu almaghfurlah KH Nursalim Manshur, Jombang.
Pertama, menurut Gus Wahid, adalah pantangan bagi Bani Aryo untuk berebut kekuasaan. Ia mengingatkan kisah (sejarah) Mbah Aryo yang disampaikan para kakek kita, bahwa, beliau menolak ditunjuk jadi qodhi (hakim red) sampai kemudian harus mengasingkan diri.
“Ini harus menjadi jatidiri perjuangan Bani Aryo. Kulo (saya red) teringat almarhum Cak Anam (Choirul Anam red.). Kalau mau jadi menteri (zaman) Presiden Gus Dur sangat mungkin. Mau jadi anggota DPR RI, sangat bisa. Tetapi, semua itu bukan tujuan perjuangan,” tegasnya.
Kedua, Gus Wahid juga mewanti-wanti soal nasab. Jangan sampai Bani Aryo cuma bisa membangga-banggakan perjuangan mbah-mbah kita. Bahwa perjuangan beliau itu harus menjadi referensi kehidupan, itu benar. Tetapi, membangga-banggakan perjuangan mbah-mbah kita, adalah tidak baik.
“Saya yakin, di sini banyak orang alim. KH Zainal Abidin, sohibul bait, notabene pengasuh Pondok Pesantren Al Huda Al-Jazil, adalah orang alim. Beliau kerso (mau) keluar, membaur dengan kita, ini saking pentingnya menjalin silaturrahim. Saya sebagai tamu, seperti mayit, disuruh apa saja, harus manut (mau),” tegas Wakil Rais PCNU Sidoarjo tersebut.

Gus Wahid langsung mengambil isi dompet, untuk sekedar mengukur, adakah dzurriyah Bani Aryo — yang muda-muda ini — hafal dengan urutan kalender hijriyah. “Ada hadiahnya, siapa yang hafal. Tetapi ini tidak berlaku bagi yang tua-tua, karena pasti hafal. Anak-anak keturunan Mbah Aryo, apakah masih menganggap kalender hijriyah itu penting,” tantangnya.
Salah satu keluarga Bani Aryo pun maju. Lelaki berambut gondrong itu, memenuhi syarat untuk menjawab tantangan Gus Wahid. “Bagus! Ayo maju,” tambahnya.
Anak muda itu langsung mengawali dengan menyebut bulan Muharram sampai bulan kedua belas, Dzulhijah. “Baik. Bani Aryo harus hafal. Ini hadiahnya,” tegas Gus Wahid menyordorkan lembar 100 ribuan.
Ketiga, Gus Wahid juga mewanti-wanti agar Bani Aryo meningkatkan kualitas ibadah. Kalau urusan berkat sebaiknya diteruskan kepada orang lain, tetapi, urusan ibadah (mahdloh) harus diprioritaskan.
“Kita nyelengi duit untuk haji. Begitu terkumpul segera berangkat, dan berdoa agar nanti bisa memberangkatkan orangtua. Begitu juga sampai di tempat yang mustajabah, doanya perlu sedikit taktis,” katanya disambut geer ratusan hadirin.
Ia kemudian menyodorkan ijazah khusus, saat berdoa di tanah suci. “Kalau mau saya tulari ijazah dari KH Mustofa Bisri. Caranya, ketika di tanah suci, minta kepada Allah SWT, agar doa-doa kita di mana pun berada — meski di luar tanah suci — tetap ijabah,” tegasnya.
Salah satu panitia, Mokhammad Kaiyis, menjelaskan, bahwa, sesungguhnya Bani Aryo ini memiliki potensi dahsyat. Dalam bidang pendidikan misalnya, ada tiga Guru Besar, masing-masing di UIN-SA (Universitas Islam Negeri Sunan Ampel) Surabaya seperti Prof Sulthon, UNAIR (Universitas Airlangga) ada Prof Edy, dan UI (Unoivewrsitas Indonesia) ada Prof Yon Mahmudi.
“Beliau-beliau ini harus diganggu agar menularkan ‘barokah’nya ke dzurriyah Bani Aryo. Begitu juga soal ekonomi, banyak keluarga Bani Aryo yang sukses dalam bidang ekonomi. Ini harus bisa ‘menetes’ kepada keluarga besar Bani Aryo,” tegas Anggota Dewan Kehormatan PWI Jatim ini.
Sayang, potensi-potensi itu belum terjamah. Tetapi, semangat untuk menggalinya tetap harus berkobar. Dan dalam acara Haul 1447 H ini, juga diputuskan untuk Tahun 1448 H bertempat di keluarga Bani Shofiyah Manshur (Kemirigalih, Sawiji, Jogoroto Jombang). “Kalau tidak ada yang siap, bisa di PP Manbaul Hikam, Sidoarjo. Kami siap segala sesuatunya demi menjalin silaturrahim keluarga besar Bani Aryo,” demikian Gus Wahid. (mky)





































