CATATAN PINGGIR

DR. ROMADLON SUKARDI, M.M.*

DI tengah derasnya arus digitalisasi, kecanggihan teknologi kecerdasan buatan, dan kompetisi global yang semakin ketat, ada satu hal yang sering terlupakan dalam percakapan pembangunan: keluarga.

Padahal, sejarah peradaban dunia menunjukkan bahwa bangsa yang kuat tidak lahir semata dari kemajuan ekonomi, kekuatan militer, atau kecanggihan teknologi. Bangsa yang besar lahir dari keluarga-keluarga yang kuat. Dari rumah-rumah yang dipenuhi kasih sayang, keteladanan, penghormatan kepada orang tua, dan pendidikan karakter yang tumbuh sejak dini.

Karena itu, ketika Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menghadiri Gala Premiere film Jangan Buang Ibu dan menegaskan pentingnya family resilience atau ketahanan keluarga sebagai fondasi pembangunan bangsa, sesungguhnya yang sedang disampaikan bukan sekadar pesan moral, melainkan sebuah paradigma pembangunan peradaban.

Inilah wajah kepemimpinan transformatif yang memahami bahwa pembangunan manusia tidak hanya dimulai dari ruang kelas, kantor pemerintahan, atau pusat-pusat ekonomi, tetapi dimulai dari ruang keluarga.

Sebab keluarga adalah sekolah pertama.
Ibu adalah guru pertama. Ayah adalah pemimpin pertama. Dan rumah adalah laboratorium pertama pembentukan karakter manusia.

Dalam perspektif pembangunan modern, ketahanan keluarga bukan lagi sekadar isu domestik, melainkan isu strategis pembangunan bangsa. Banyak negara maju kini menempatkan penguatan keluarga sebagai bagian penting dari kebijakan pembangunan sumber daya manusia karena keluarga yang sehat akan melahirkan generasi yang sehat secara mental, emosional, sosial, dan spiritual.

Di sinilah tampak karakter kepemimpinan progresif yang diperlihatkan Khofifah.
Ketika sebagian orang sibuk berbicara tentang pembangunan fisik, beliau mengingatkan pentingnya pembangunan batin.
Ketika banyak pihak fokus pada pertumbuhan ekonomi, beliau mengajak masyarakat memperkuat fondasi sosial yang menopang keberlangsungan pembangunan itu sendiri.

Karena sesungguhnya krisis terbesar abad ini bukan hanya krisis ekonomi. Tetapi juga krisis kasih sayang, krisis keteladanan, dan krisis hubungan antar manusia.

 

Film Jangan Buang Ibu  menjadi media yang dipilih untuk menyampaikan pesan kemanusiaan tersebut. Sebuah pendekatan yang menunjukkan karakter kepemimpinan inovatif dan kreatif. Pembangunan tidak selalu harus dilakukan melalui regulasi dan birokrasi.

Kadang-kadang, sebuah film mampu menyentuh hati masyarakat lebih dalam daripada seribu lembar kebijakan.
Melalui seni dan budaya, nilai-nilai kemanusiaan dapat ditanamkan dengan cara yang lebih efektif, lebih menyentuh, dan lebih membekas dalam ingatan publik.

Di sinilah pentingnya kepemimpinan yang mampu mengintegrasikan berbagai instrumen pembangunan.

Bukan hanya pendekatan administratif, tetapi juga pendekatan kultural. Bukan hanya pendekatan struktural, tetapi juga pendekatan emosional. Karena manusia tidak hanya dibangun oleh logika, tetapi juga oleh rasa.

Lebih jauh lagi, apa yang dilakukan Khofifah mencerminkan model kepemimpinan integratif. Beliau tidak melihat pembangunan sebagai sektor-sektor yang berdiri sendiri.

Pendidikan, keluarga, budaya, kesehatan mental, perlindungan perempuan, penguatan karakter, dan pembangunan ekonomi dipandang sebagai satu ekosistem yang saling terkait.

Ketika keluarga kuat, anak-anak tumbuh sehat.
Ketika anak-anak tumbuh sehat, pendidikan menjadi lebih efektif. Ketika pendidikan berhasil, produktivitas meningkat. Ketika produktivitas meningkat, kesejahteraan masyarakat ikut tumbuh.

Dan ketika kesejahteraan tumbuh, stabilitas sosial akan semakin kuat. Inilah pembangunan yang utuh. Pembangunan yang melihat manusia sebagai pusat dari seluruh proses kemajuan.

Pada saat yang sama, pidato Khofifah yang menekankan pentingnya peran ibu dan ayah menunjukkan kualitas kepemimpinan yang empatik.

Empati bukan sekadar kemampuan merasakan penderitaan orang lain. Empati adalah kemampuan memahami kebutuhan terdalam manusia. Bahwa setiap anak membutuhkan kasih sayang ibu. Bahwa setiap anak membutuhkan kehadiran ayah. Bahwa setiap keluarga membutuhkan ruang untuk tumbuh bersama dalam harmoni.

Empati seperti inilah yang melahirkan kebijakan-kebijakan yang berorientasi pada manusia (people centered development).
Bukan sekadar mengejar angka statistik pembangunan, tetapi menghadirkan kualitas hidup yang lebih baik bagi masyarakat.

Dan pada akhirnya, seluruh pesan yang terkandung dalam kegiatan ini bermuara pada satu hal penting, yaitu kepemimpinan berkelanjutan.

Sebab keluarga yang kuat hari ini akan melahirkan generasi yang kuat esok hari.
Generasi yang kuat akan melahirkan bangsa yang kuat di masa depan.

Maka investasi terbesar sebuah bangsa sesungguhnya bukan hanya pada infrastruktur, tetapi pada ketahanan keluarga.

Karena jalan menuju Indonesia Emas 2045 tidak hanya dibangun melalui jalan tol, kawasan industri, atau transformasi digital.
Tetapi juga dibangun dari doa seorang ibu, keteladanan seorang ayah, dan kehangatan sebuah keluarga yang mampu menjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah perubahan zaman.

Dan di situlah letak keistimewaan kepemimpinan Khofifah Indar Parawansa.

Ia tidak hanya membangun Jawa Timur sebagai provinsi yang maju secara ekonomi, tetapi juga konsisten membangun peradaban yang berakar pada nilai, karakter, kasih sayang, dan kemanusiaan.

Karena sejatinya, peradaban besar selalu lahir dari keluarga-keluarga yang kuat. Dan keluarga yang kuat adalah fondasi utama lahirnya bangsa yang bermartabat. Wallahu A’lamu Bisshawab.

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry