Presiden Joko Widodo dan Menag Lukman Hakim Saifuddin menyaksikan Wapres Jusuf Kalla menaburkan bungan di pusara pahlawan TMP Kalibata Jakarta, Jumat. (FT/KEMENAG)

JAKARTA | duta.co – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berpesan agar generasi muda bisa  memaknai kepahlawanan, yang tidak harus sama seperti para pendahulu kita yang mereka merebut kemerdekaan dari para penjajah.

“Tetapi sekarang tantangannya bagi generasi muda adalah mengisi kemerdekaan itu dengan kerja-kerja nyata, kerja yang membangun bangsa ini untuk terus berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa lainnya yang lebih dahulu maju,” demikian pesan Menag ketika diminta pesannya bagi generasi muda terkait Peringatan Hari Pahlawan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta, Jumat (10/11) kemarin.

Ditemui usai upacara yang dipimpin Presiden Joko Widodo, Menag mengatatakan, Hari Pahlawan yang kita peringati setiap tahun dilakukan untuk mengingat betapa jasa-jasa pahlawan kita luar biasa

Dan yang tidak kalah pentingnya, ujar Menag, selain kita mendoakan dengan cara memperingati ini, kita selalu diingatkan untuk melanjutkan perjuangan para pendahulu kita yang telah mewariskan negara yang luar biasa memiliki kekayaan, kemajemukan luar biasa tetapi tetap bisa menjaga persatuannya.

“Ini adalah sesuatu yang diwariskan oleh mereka dan harus kita rawat dengan baik,” ujar Menag.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin juga didapuk memimpin doa. Upacara yang dipimpin Presiden Joko Widodo sekaligus sebagai Inspektur Upacara berjalan khidmat. Doa yang dipanjatkan Menteri Agama Lukman Hakim saifuddin diantaranya berbunyi:

“Ya Allah, Tuhan Alam Semesta. Dalam keheningan dan kesyanduan suasana keharibaan-Mu kami persembahkan puji syukur serta doa. Curahkanlah rahmat dan kasih-Mu kepada para pahlawan kesatria mereka yang telah gugur sebagai kusuma bangsa. Ampunilah mereka lipat gandakanlah pahala atas keikhlasan pengabdian dan pengorbanan mereka dan masukkanlah mereka ke dalam kelompok harnba-hamba-Mu yang berhak menikmati surge.”

“Ya Allah, Tuhan Yang Maha Memberi. Berilah kami kekuatan, kesabaran, dan petunjuk-Mu penentram hati untuk meneruskan cita-cita dan perjuangan pahlawan kami. Berilah kami kemampuan memelihara dan mengisi kemerdekaan ini mewujudkan bangsa yang berdaulat, berkepribadian, dan berdikari penuh rahmat-Mu yang tiada bertepi.

Jangan Bilang Bid’ah

Sudah tidak relevan bicara soal bidah ziarah kubur. Selain banyak hujjah yang memperkuat,  ziarah kubur sudah menjadi perilaku rutin warga mayoritas Islam Indonesia, nahdliyin. Mereka terbiasa mengunjungi makam orang tua, kerabat, sahabat, kiai, dan makam para wali di tanah air ini.

Ganjaran Allah SWT. bagi para peziarah sudah menanti. Betapa tidak? Mereka biasanya mengisi upacara ziarah dengan membaca ayat-ayat Alquran atau rangkaian zikir tahlil dan shalawat. Mereka menerima pahala yang berlipat, untuk ibadah ziarahnya itu sendiri dan rangkaian bacaan yang mereka lafalkan.

Ziyaratul quburi mustahabbatun‘alal jumlah littazakkuri wal i‘tibar. Waziyaratu quburis shalihin mustahabbatun liajlit tabarruki ma‘al i‘tibar. Ziarah kubur adalah sunah untuk mengingatkan manusia pada kematian dan membaca pertanda di hadapan mereka. Sedangkan menziarahi kubur orang saleh adalah juga sunah untuk membaca pertanda di hadapan mereka dan mengalap berkah. Begitu kata Imam Ghazali dalam Ihya Ulumid Din.

Dengan otomatis, ziarah termasuk ibadah yang sangat dianjurkan. Banyak manfaat yang mereka terima dari ibadah ziarah. Ini bukan ibadah yang berat dan asing mengingat ziarah sudah mengalami tradisi yang panjang dalam sejarah umat Islam di Indonesia.

Makam Sunan Kalijaga, di desa Kadilangu, Demak, Jawa Tengah misalnya. Setiap harinya dikunjungi oleh ribuan peziarah dari berbagai pelosok, terlebih lagi musim lebaran dan liburan sekolah.

Tentu, niat para peziarah adalah kunci utama dalam melakukan ibadah ini. Dalam segala bentuk ibadah, umat Islam selalu menanamkan dalam hati untuk mendekatkan diri dan meningkatkan takwa kepada Allah.

Terlebih lagi, makam para wali dan orang saleh di Indonesia sangat banyak. Ini sangat memungkinkan sekali bagi mereka untuk mengalap berkah. Sementara, keberkahan sendiri bagi kehidupan nahdliyin adalah nilai yang membekali mereka bukan hanya menghadapi tetapi juga mengatasi segala persoalan kehidupan.

Upaya mendekatkan diri kepada Allah, dan kecintaan mereka kepada para wali dan orang saleh, adalah langkah strategis sehingga Allah memberikan kebaikan dunia dan akhirat bagi mereka.

Nabi Muhammad saw sendiri mengajarkan kepada umatnya tentang tata cara ziarah kubur. Salah satu buktinya, ketika di depan Siib, lokasi dekat makam Uhud, Nabi mengucapkan, assalamualaikum bima shabartum fanikma uqbaddar.

Ucapan tersebut, menurut Mustasyar PBNU KH Sya’roni Ahmadi suatu ketika, menunjukkan bahwa arwah yang berada di alam kubur itu mendengarkan apa yang disampaikan zairin (peziarah).

Sehingga sebagaimana tuntunan Islam, terang Kiai Sya’roni kepada yang telah mendahului agar senantiasa didoakan dengan bacaan Alquran serta dzikir. Alhasil orang yang sudah meninggal lanjutnya sangat mengharapkan kiriman doa dari orang yang masih hidup.

“Sehingga orang-orang menyebut tradisi ini dengan kintun donga (kirim doa, red),” tambah kiai asal Kudus saat menyampaikan mauidloh dalam Haul ke-2 KH Muchlisul Hadi di maqbarah Sekar Petak Margoyoso Kalinyamatan Jepara.

Pernyataan yang diuraikan kiai kharismatik asal Kudus itu sejalan dengan hadits amal yang bisa dilakukan orang yang masih hidup kepada yang sudah meninggal yakni mendoakan dan memintakan ampunan.

Mendoakan orang yang sudah meninggal terhitung sebagai pahala. Dalam hal itu dua imam besar beda pendapat. Jika Imam Hanbali yang memperoleh ganjaran si mayit tetapi yang mendoakan akan mendapatkan pahala sebagaimana yang diperoleh mayit.

“Menurut Imam Syafii yang memperoleh ganjaran yang mendoakan tetapi yang didoakan juga memperoleh pahala sebagaimana yang mendoakan,” urai Kiai Sya’roni. (mk,kmg)

 

BAGIKAN

Tinggalkan Balasan