
CATATAN PERADABAN
Dr. H. ROMADLON SUKARDI, MM
“Membaca Peristiwa, Merawat Nilai, Menata Masa Depan.”
DARI ujung paling selatan Jawa Timur, semangat santri untuk negeri menggema. Upacara Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 tingkat Provinsi Jawa Timur yang mengusung tajuk *”Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”* tidak digelar di gedung megah perkotaan, melainkan dipusatkan di jantung keulamaan, Pondok Pesantren Tremas, Pacitan — tempat di mana sanad ilmu dan nasionalisme bersatu.
Ada saatnya alam mengajarkan sesuatu yang tidak selalu bisa kita pelajari dari ruang kelas, ruang rapat, atau podium pidato. Ketika langit lama tidak menurunkan hujan, sumur mulai menyusut, tanah mengeras, tanaman merunduk, dan warga harus menghitung ulang kebutuhan air untuk minum, memasak, mandi, serta menyambung kehidupan, saat itulah kita diingatkan: air bukan sekadar benda yang mengalir dari keran. Air adalah kehidupan.
Kemarau yang berkepanjangan bukan hanya persoalan cuaca. Ia dapat menjelma menjadi persoalan kemanusiaan, ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, ekonomi keluarga, kelestarian lingkungan, bahkan ketahanan sosial. Di sejumlah daerah, kekeringan berarti perjalanan lebih jauh untuk memperoleh air bersih. Bagi petani, ia bisa berarti kecemasan terhadap tanaman dan biaya produksi. Bagi keluarga yang hidup dalam keterbatasan, ia menambah beban yang tidak ringan.
Di tengah keadaan itulah, ikhtiar pemerintah diuji. Bukan hanya oleh seberapa cepat bantuan datang, melainkan juga oleh seberapa kuat kepemimpinan mampu menggerakkan banyak pihak untuk bekerja bersama.
Dari ruang kebijakan menuju kebutuhan rakyat
Pemerintah Provinsi Jawa Timur di bawah kepemimpinan Gubernur Khofifah Indar Parawansa telah melakukan sejumlah langkah untuk menghadapi kekeringan dan ancaman kebakaran hutan dan lahan. Ikhtiar tersebut mencakup distribusi air bersih, pencarian sumber air, pengembangan jaringan perpipaan, modifikasi cuaca, serta penanganan kebakaran melalui berbagai strategi di lapangan.
Langkah-langkah itu patut dibaca secara proporsional: bukan sebagai alasan untuk menganggap persoalan telah selesai, melainkan sebagai bagian dari kerja pemerintahan yang perlu terus diperkuat, diawasi, dan didukung bersama.
Pada 3 Oktober 2026, diberitakan bahwa 25 daerah di Jawa Timur mengajukan bantuan air bersih akibat kekeringan. Angka ini menunjukkan bahwa persoalan air bukan kejadian yang berdiri sendiri di satu desa atau satu kabupaten. Kekeringan telah menjadi tantangan lintas wilayah yang memerlukan koordinasi, pemetaan kebutuhan, dan distribusi sumber daya secara tepat sasaran.
Di sinilah makna kehadiran pemerintah menjadi nyata: memastikan warga yang kesulitan memperoleh air tidak dibiarkan menghadapi persoalannya sendirian.
Air bersih: bantuan yang menyentuh martabat manusia
Salah satu bentuk ikhtiar yang paling mudah dirasakan masyarakat adalah distribusi air bersih. Pada 18 September 2026, Gubernur Khofifah turun langsung menyalurkan bantuan air bersih di Dusun Bulu, Desa Mantup, Kabupaten Lamongan.
Bantuan tersebut dilaporkan menyasar 105 kepala keluarga atau sekitar 590 jiwa, dengan dukungan mobil tangki berkapasitas 5.000 liter, tandon air, tandon lipat, dan jeriken. Pemerintah juga melakukan pemetaan sumber air untuk mencari jalan keluar yang lebih berkelanjutan.
Kita mungkin melihat air itu hanya sebagai beberapa tangki yang datang dan kemudian pergi. Namun, bagi keluarga yang telah menunggu, air tersebut bisa berarti tersedianya air untuk memasak, menjaga kebersihan, memenuhi kebutuhan anak-anak, dan mengurangi kecemasan sehari-hari.
Di balik satu tangki air, ada kerja petugas, pengemudi, perangkat desa, relawan, dan warga yang menyiapkan distribusi. Ada pula tanggung jawab pemerintah untuk memastikan bantuan tidak berhenti pada seremoni, tetapi benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan.
Meski demikian, bantuan darurat tidak boleh menjadi satu-satunya jawaban. Tangki air dapat mengatasi kebutuhan mendesak, tetapi tidak dengan sendirinya menyelesaikan persoalan sumber air. Karena itu, distribusi bantuan perlu berjalan beriringan dengan pembangunan infrastruktur, perlindungan daerah resapan, dan pengelolaan sumber air yang berkelanjutan.
Air bersih hari ini harus menjadi jembatan menuju ketahanan air pada masa depan.
Mencari sumber air, membangun harapan
Dalam menghadapi kekeringan, Pemprov Jawa Timur juga menempuh langkah yang lebih struktural melalui pencarian sumber air dan pembangunan jaringan perpipaan.
Salah satu upaya yang pernah diberitakan adalah pengembangan sumber mata air di kawasan Gunung Arjuno untuk mendukung kebutuhan warga di sejumlah dusun di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Pemerintah mengidentifikasi sejumlah mata air dan merencanakan penyaluran air melalui jaringan perpipaan yang panjangnya diperkirakan mencapai belasan kilometer.
Upaya seperti ini penting karena penanganan kekeringan tidak cukup hanya dengan menunggu langit mendung. Pemerintah perlu bekerja berdasarkan data hidrologi, pemetaan sumber air, kelayakan teknis, kondisi lingkungan, dan kebutuhan masyarakat.
Pengeboran sumur di beberapa titik juga dilaporkan menjadi bagian dari upaya penanganan kekeringan, meskipun hasilnya tidak selalu sama. Ada titik yang memberikan hasil, ada pula yang belum menemukan sumber air memadai.
Di sinilah kita perlu memahami bahwa kerja mengatasi kekeringan bukan pekerjaan sulap. Tidak semua pengeboran pasti berhasil, tidak semua sumber air dapat langsung dimanfaatkan, dan tidak semua wilayah memiliki karakter geologi yang sama. Karena itu, setiap program harus didasarkan pada kajian teknis, keterbukaan informasi, evaluasi hasil, serta pemeliharaan infrastruktur setelah dibangun.
Pemerintah perlu terus bekerja. Masyarakat perlu ikut menjaga. Para ahli perlu menyumbangkan pengetahuan. Dunia usaha dapat mengambil bagian melalui program tanggung jawab sosial yang tepat sasaran. Organisasi kemasyarakatan dapat membantu menghubungkan kebutuhan warga dengan sumber daya yang tersedia.
Dengan cara itulah ikhtiar hari ini tidak berhenti sebagai bantuan sesaat, tetapi tumbuh menjadi investasi sosial dan lingkungan.
Modifikasi cuaca: ikhtiar teknologi, bukan pengganti ikhtiar lingkungan
Pemprov Jawa Timur juga mengupayakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu penanganan kekeringan. Operasi ini dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi awan dan informasi meteorologi, dengan tujuan meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah sasaran.
Dalam pemberitaan pada September 2026, Gubernur Khofifah menyampaikan bahwa operasi modifikasi cuaca telah dimulai pada 3 September, disertai langkah lain seperti distribusi air bersih, pencarian sumber air, dan pembangunan sumur bor.
OMC menunjukkan bahwa pemerintah berupaya memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam menghadapi persoalan lingkungan. Namun, penting pula untuk memahami batasannya. Modifikasi cuaca tidak menjamin hujan turun di setiap lokasi dan tidak dapat menggantikan kebijakan jangka panjang dalam menjaga daerah tangkapan air, memperbaiki tata kelola air, serta mengurangi kerusakan lingkungan.
Teknologi adalah salah satu ikhtiar manusia. Hasilnya tetap bergantung pada kondisi atmosfer dan faktor alam lainnya.
Karena itu, pendekatan yang paling masuk akal adalah menggabungkan ilmu pengetahuan, kesiapsiagaan pemerintah, konservasi lingkungan, dan partisipasi masyarakat. Kita tidak boleh mempertentangkan ikhtiar ilmiah dengan ikhtiar spiritual. Keduanya dapat berjalan berdampingan dalam ruang masing-masing.
Ketika hutan terbakar, yang terancam bukan hanya pepohonan
Kemarau juga meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan. Di Jawa Timur, kawasan pegunungan dan taman nasional memiliki nilai ekologis yang sangat penting: menjaga keanekaragaman hayati, menopang ekosistem, melindungi tanah, dan menjadi bagian dari sistem tata air.
Pada Agustus 2026, BPBD Jawa Timur diberitakan mengerahkan teknologi drone water spray berkapasitas sekitar 150 liter untuk membantu pemadaman kebakaran di kawasan Ranu Pani, Gunung Bromo. Upaya penanganan juga melibatkan pemadaman manual.
Dalam penanganan kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, strategi darat dan udara juga dilaporkan digunakan, termasuk pengerahan petugas di lapangan, drone, dan helikopter untuk mendukung pemadaman.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa menghadapi kebakaran di kawasan pegunungan tidak selalu mudah. Medan yang terjal, akses yang terbatas, kondisi angin, dan karakter vegetasi dapat menyulitkan petugas. Karena itu, kesiapan peralatan, koordinasi lintas instansi, keselamatan personel, serta keterlibatan masyarakat sekitar menjadi sangat penting.
Namun, pemadaman hanyalah satu bagian dari pekerjaan besar. Pencegahan harus berjalan sebelum api muncul: edukasi kepada pengunjung, pengawasan aktivitas berisiko, kesiapan sumber daya, deteksi dini, penegakan aturan, dan pemulihan kawasan yang terdampak.
Hutan bukan sekadar kumpulan batang dan daun. Ia merupakan bagian dari rumah besar kehidupan. Ketika hutan rusak, dampaknya dapat merembet ke tanah, satwa, sumber air, pertanian, dan kehidupan masyarakat yang bergantung pada keseimbangan alam.
Karena itu, menjaga hutan bukan hanya urusan petugas kehutanan atau BPBD. Ia adalah tanggung jawab bersama.
Konservasi: merawat hari ini untuk kehidupan esok
Di luar penanganan darurat, upaya konservasi juga perlu mendapat perhatian. Dalam kegiatan di kawasan Gunung Arjuno pada 2025, Khofifah diberitakan mengajak masyarakat merawat lingkungan, antara lain melalui penyerahan bibit cemara gunung dan eucalyptus kepada para pendaki.
Kegiatan penanaman pohon tentu tidak boleh dipandang sebagai solusi instan untuk kekeringan. Pohon membutuhkan waktu untuk tumbuh, dan keberhasilan konservasi ditentukan oleh kesesuaian jenis tanaman, kondisi tanah, tata kelola kawasan, serta pemeliharaan jangka panjang.
Tetapi pesan dasarnya sangat penting: pencegahan bencana harus dimulai jauh sebelum bencana datang.
Kita tidak dapat terus-menerus meminta alam menyediakan air jika pada saat yang sama daerah resapan rusak, sumber air tercemar, sungai diperlakukan sebagai tempat pembuangan, dan hutan kehilangan daya dukungnya.
Menanam pohon harus disertai merawat pohon. Membuat sumur harus disertai pengelolaan air tanah. Membangun jaringan perpipaan harus disertai pemeliharaan. Mengirim bantuan air harus disertai rencana agar warga tidak terus-menerus bergantung pada bantuan darurat.
Inilah perbedaan antara sekadar merespons bencana dan membangun ketahanan menghadapi bencana.
Kepemimpinan membutuhkan dukungan, bukan sekadar pujian
Pada 7 April 2026, Khofifah juga mengajak berbagai pihak bersiap menghadapi potensi kemarau panjang dan ancaman kebakaran hutan dan lahan. Kesiapsiagaan, mitigasi, peringatan dini, pemulihan lingkungan, dan koordinasi menjadi bagian penting dari respons yang dibutuhkan.
Catatan ini tidak bermaksud menyatakan bahwa seluruh persoalan telah terselesaikan atau bahwa setiap kebijakan pasti berhasil. Pemerintah tetap perlu terbuka terhadap evaluasi, memperjelas prioritas, memastikan bantuan menjangkau kelompok rentan, dan mengukur hasil setiap program berdasarkan dampaknya bagi masyarakat.
Namun, kita juga perlu bersikap adil dalam membaca kerja pemerintahan. Ketika pemerintah berupaya mendistribusikan air, mencari sumber air, melakukan modifikasi cuaca, mengerahkan petugas pemadam, dan mendorong konservasi, ikhtiar tersebut patut diperhatikan secara objektif.
Kritik tetap diperlukan, tetapi kritik yang sehat seharusnya membantu memperbaiki keadaan, bukan sekadar memperbanyak kekecewaan. Dukungan juga penting, tetapi dukungan yang bermakna bukanlah pujian tanpa pertanyaan. Dukungan terbaik ialah ikut bekerja, mengawasi, menyumbangkan gagasan, dan memperkuat solusi.
Maka, izinkan saya menyampaikan satu kalimat yang sederhana, tetapi penting untuk kita renungkan bersama:
Jangan biarkan Ibu Gubernur Khofifah Indar Parawansa bekerja sendirian.
Kalimat ini bukan ajakan untuk memusatkan seluruh tanggung jawab pada seorang pemimpin. Justru sebaliknya. Kalimat ini merupakan ajakan agar kita tidak menyerahkan semua beban kepada pemerintah, sementara masyarakat hanya menunggu, mengeluh, atau saling menyalahkan.
Gubernur memiliki kewenangan dan tanggung jawab pemerintahan. Pemerintah kabupaten dan kota mempunyai peran penting dalam pelayanan di wilayahnya. Desa dan kelurahan mengetahui kondisi warga secara lebih dekat. Dunia usaha memiliki sumber daya dan kemampuan inovasi. Perguruan tinggi mempunyai ilmu pengetahuan dan tenaga ahli. Organisasi kemasyarakatan memiliki jaringan, kepercayaan publik, serta kekuatan untuk menggerakkan masyarakat.
Jika semua unsur itu berjalan sendiri-sendiri, hasilnya akan terbatas. Tetapi jika disatukan dalam tujuan yang jelas, ikhtiar yang semula berat dapat menjadi lebih kuat.
Ulama, umara, dan masyarakat: *menyatukan doa dengan kerja nyata
Dalam tradisi keagamaan kita, doa bukan alasan untuk meninggalkan ikhtiar. Sebaliknya, doa meneguhkan kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan, sementara tanggung jawab untuk berbuat baik tetap berada di pundak kita.
Karena itu, menghadapi kemarau panjang, kekeringan, dan ancaman kebakaran hutan, kita dapat menghidupkan dua gerakan sekaligus: gerakan spiritual untuk mengetuk pintu rahmat Allah dan gerakan sosial untuk meringankan beban sesama.
Saya mengajak para ulama, kiai, nyai, pengasuh pesantren, keluarga besar Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, MUI, Dewan Masjid Indonesia, Muslimat NU, Fatayat NU, Ansor, Banser, PMII, IPNU IPPNU, IPM, IMM, Aisiyah, Al-Irsyad, organisasi kepemudaan, perguruan tinggi, komunitas lingkungan, dunia usaha, serta seluruh elemen masyarakat Jawa Timur untuk memperkuat kebersamaan.
Kita dapat menyelenggarakan istighatsah, shalawat nabi Muhammad Saw, memperbanyak shalat taubah, istighfar, Khatmil Qur’an, menghidupkan doa bersama, dan melaksanakan salat istisqa sesuai tuntunan agama serta kesiapan masing-masing daerah. Kegiatan tersebut dapat menjadi momentum untuk bermuhasabah, memohon pertolongan Allah, dan memperkuat kepedulian sosial.
Mengiringi Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2026, momentum ini juga dapat dimaknai sebagai ajakan agar pesantren dan masyarakat memperkuat khidmah kepada umat dan alam. Jika memungkinkan, kegiatan doa bersama dapat disinergikan dengan pemerintah daerah, tokoh agama, dan masyarakat setempat, tanpa mengabaikan kebutuhan teknis serta keselamatan warga.
Doa kita bukan hanya untuk satu kabupaten, satu kelompok, atau satu pemimpin. Kita memohon kebaikan bagi seluruh Jawa Timur dan Indonesia: *hujan yang cukup, membawa manfaat, tidak menjadi sebab bencana; air bersih yang mudah dijangkau; pertanian yang terjaga; hutan yang terlindungi; dan masyarakat yang kuat menghadapi kesulitan.*
Namun, sesudah doa, mari kita bergerak. Masjid dan pesantren dapat menggalakkan hemat air. Organisasi sosial dapat membantu memetakan keluarga yang paling membutuhkan. Relawan dapat mendukung distribusi bantuan secara terkoordinasi. Dunia usaha dapat berkontribusi pada sarana air bersih dan konservasi. Pemerintah bersama masyarakat dapat memastikan setiap sumber daya digunakan secara tepat sasaran.
Doa dan kerja nyata bukan dua jalan yang saling meniadakan. Keduanya dapat berjalan beriringan.
Sak iyek, sak eko projo
Dalam kearifan Jawa, kita mengenal semangat *sak iyek, sak eko projo:* menyatukan langkah, menguatkan tekad, dan bekerja untuk kepentingan bersama.
Di tengah kemarau, ungkapan itu menemukan makna yang sangat nyata. Air tidak mengenal batas organisasi. Api tidak memilih siapa yang akan terdampak. Kekeringan tidak bertanya siapa yang mendukung pemerintah dan siapa yang berbeda pandangan politik.
Ketika sumber air menyusut, semua orang membutuhkan air. Ketika hutan terbakar, semua orang berkepentingan menjaga lingkungan. Ketika warga kesulitan, kemanusiaan seharusnya berdiri lebih tinggi daripada perbedaan.
Inilah saatnya kita membuktikan bahwa kebersamaan bukan sekadar slogan dalam pidato atau tulisan di spanduk. Kebersamaan harus hadir dalam tangki air yang sampai ke desa, sumber air yang dirawat, pohon yang tumbuh, hutan yang terlindungi, dan warga yang tidak lagi harus menanggung kesulitan sendirian.
Kepemimpinan yang baik membutuhkan masyarakat yang peduli. Masyarakat yang kuat membutuhkan pemerintah yang bekerja. Dan keduanya membutuhkan nilai moral yang menjaga agar kekuasaan tidak kehilangan kemanusiaan serta partisipasi masyarakat tidak kehilangan arah.
Mengetuk langit, membenahi bumi
Pada akhirnya, kemarau mengajarkan kita tentang kerendahan hati. Kita dapat membangun bendungan, menggali sumur, memasang pipa, mengembangkan teknologi, dan menyusun kebijakan. Semua itu penting. Tetapi kita juga harus menyadari bahwa alam memiliki keteraturan yang tidak boleh kita rusak, dan manusia memiliki keterbatasan yang perlu kita akui.
Bagi kita yang beriman, inilah saatnya memperbanyak istighfar, memperbaiki hubungan dengan Allah, dan memperbaiki hubungan antarmanusia. Bagi kita sebagai warga negara, inilah saatnya memperkuat gotong royong, menjaga lingkungan, serta mendukung kebijakan yang berpihak kepada kebutuhan masyarakat.
Mari mengetuk langit dengan doa, sembari membenahi bumi dengan kerja nyata.
Mari mendukung ikhtiar Gubernur Khofifah Indar Parawansa dan Pemprov Jawa Timur, seraya tetap mendorong evaluasi, perbaikan, dan keberlanjutan program. Jangan biarkan pemerintah berjalan sendiri. Jangan pula membiarkan masyarakat menghadapi kekeringan tanpa perlindungan yang memadai.
Sebab Jawa Timur bukan hanya wilayah administratif. Ia adalah rumah bersama, tempat jutaan manusia menggantungkan kehidupan, tempat para petani menanam harapan, tempat santri belajar mengabdi, dan tempat generasi mendatang berhak menerima lingkungan yang tetap layak dihuni.
Semoga Allah SWT menurunkan hujan yang cukup, lebat pada waktunya, membawa manfaat, menyuburkan bumi, mengisi sumber-sumber air, menumbuhkan tanaman, serta menjauhkan kita dari bencana.
Allāhumma yā Karīm, anzil ‘alainā minas-samā’i mā’an midrāran, waj‘alhu ghaītsan nāfi‘an, wa lā taj‘alhu ghaītsa ‘adzābin wa lā hadmin wa lā gharaq.
“Ya Allah, Dzat Yang Maha Mulia, turunkanlah kepada kami hujan yang melimpah. Jadikanlah hujan itu hujan yang membawa manfaat, bukan hujan yang mendatangkan azab, kerusakan, atau bencana.”
Semoga para0 pemimpin diberi kekuatan, para petugas diberi keselamatan, para petani diberi ketabahan, masyarakat yang terdampak diberi pertolongan, dan seluruh elemen bangsa diberi kesadaran untuk saling menguatkan.
Sebab peradaban tidak hanya diukur dari megahnya bangunan dan tingginya pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari carakita menjaga alam, menolong sesama, dan bergandengan tangan ketika kehidupan sedang diuji.
Jawa Timur, mari bersatu dalam doa, bersinergi dalam kerja, dan bergotong royong dalam menjaga kehidupan. Wallāhu a‘lam bish-shawāb.*





































