Para pembicara dalam acara webinar Peran Ibu Mempersiapkan Makanan Pendamping ASI (Mpasi) untuk Anak yang Sehat, Cerdas, dan Tumbuh Optimal, Sabtu (20/11/2021) siang. DUTA/ist

SURABAYA | duta.co — Makanan bagi bayi yang memasuki masa MPasi (makanan pendamping ASI) harus dimasak sendiri oleh sang ibu, bukan dengan membeli makanan bayi langsung jadi yang dijual di pinggir jalan atau di pasar. Dikhawatirkan hal itu bisa membuat bayi atau balita akan mengalami stunting.

Hal tersebut diungkapkan Dr dr Tan Shot Yen selaku Health Influencer and Education dalam webinar pemberian makan bayi dan anak bertema Peran Ibu Mempersiapkan Makanan Pendamping ASI (Mpasi) untuk Anak yang Sehat, Cerdas, dan Tumbuh Optimal, Sabtu (20/11/2021) siang.

Webinar yang digelar Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) ini dilakukan dalam rangkaian menjalankan kegiatan hibah terkait penanganan nutrisi pada anak di Jawa Timur dari UNICEF (United Nations International Children Emergency Fund). Sekaligus digelar dalam rangka memeringati pekan ASI sedunia.

Info Lebh Lengkap Buka Website Resmi Unusa

Selain dr Tan, hadir dalam acara tersebut drg Lili Apriliyanti, Kepala Bidang Layanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur.

Dikatakan dr Tan saat ini menjadi tren para orang tua membeli bubur di pinggir jalan untuk balita mereka. Hal ini dapat membuat anak kelak mengalami stunting, karena orang tua minim melakukan manajemen waktu yang baik.

“Banyak ibu sekarang bilang memilih beli bubur untuk Mpasi karena tidak ada waktu. Semua itu bohong, karena pada dasarnya semua sudah bisa dilakukan secara bersamaan, berbeda dengan ibu zaman dahulu, yang kalau masak hanya bisa memasak dan kalau mau kirim uang harus pergi naik angkot dulu,” jelasnya.

Tan Shot Yen menyarankan untuk MPAsi anak harus dibuat langsung oleh ibunya. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahan yang digunakan dalam MPAsi itu baik untuk anak mereka.

“Jangan dibiasakan untuk MPAsi jajan di luar atau beli bubur di jalan, karena yang tahu bahan bubur itu hanya Tuhan dan yang membuat bubur itu saja,” terangnya.

Stunting dikatakan dr Tan bukan berbicara masalah berat badan, namun tinggi badan. Anak balita tinggi badannya harus sesuai dengan anak seusianya dan sesuai dengan indikator yang ditetapkan.

Sementara itu, drg Lili Apriliyanti mengatakan Jawa Timur berada di urutan kelima kasus stunting di Indonesia. Dengan hasil ini Dinkes Jatim akan berupaya agar angka tersebut bisa diturunkan melalui penyiapan sumber daya manusia (SDM) di beberapa daerah.

“Sumber daya manusia itu salah satunya adalah nutrisionis. Di mana nutrisionis harus bisa mengelola tata cara untuk mengatasi pemenuhan gizi. Itu mulai dari mengelola kesiapan sumber daya hingga perencanaan apa yang akan dilakukan,” jelasnya.

Wakil Rektor III Unusa, drg Umi Hanik dalam sambutannya mengatakan, pembahasan tentang Mpasi adalah sesuatu yang tidak akan pernah selesai dibahas dan didiskusikan sepanjangn masih ada kehidupan.

“Dalam hal Mpasi, ibu biologis memang yang paling dominan dalam memberikan Mpasi, tapi di lingkungan masyarakat kita ada orang-orang di sekitar ibu biologis anak yang biasanya ikut serta dalam pemberian Mpasi. Paling tidak ini pengalaman peribadi saya,” katanya.

Sedang dr Karina Widowati MPH, Nutrition Officer UNICEF Kantor Perwakilan Surabayamenegaskan pada 2021 ini pihaknya telah bekerjasama dengan Unusa dalam membantu penanganan nutrisi pada anak di Jawa Timur.

Topik bahasan tentang Mpasi penting karena terkait dengan masa pembelajaran bagi anak dalm mengenal rasa dan tekstur setelah melalui masa Asi ekskulisf usia nolsampai 6 bulan.

Dalam proses belajar ini, kata Karina, anak akan membentuk refrensi makan anak pada saat ia dewasa, jika dilakukan dengan benar ke depannya akan bisa mengurangi angka kekurangan gizi dan penyakit-penyakit degeneratif lainnya.

Masa Mpasi pada usia 6 bulan sampai 2 tahun akan terkait dengan pola makan dikemudian hari. “Harapannya dengan Mpasi yang optimal dan benar dapat membentuk tumbuh kembang anak dengan baik, sehingga preferansi stunting bisa diturunkan,” ujarnya.

Terkait kerjasama Unusa dengan UNICEF dalam bentuk hibah, ada empat topik yang menjadi fokus pekerjaan hingga akhir tahun 2021 meliputi Pencegahan Malnutrisi pada Anak Usia Dini (Stunting);

Penguatan Pengeloaan Gizi Buruk Terintegrasi (PGBT); Gizi Ibu Hamil dan Remaja, serta Gizi Saat Bencana. Program ini sedikitnya melibatkan 8 Kabupaten/Kota di Jatim, masing-masing, Surabaya, Sidoarjo, Bojonegoro, Blitar, Tulungagung, Bondowoso, Jombang, Lumajang. ril/hms

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry