Jombang | duta.co – Puluhan bus dan kendaraan pribadi satu per satu memasuki kawasan Alun-alun Jombang, Minggu (4/1) sore. Lokasi ini menjadi titik kumpul ribuan jamaah dari Madura, Jombang, serta sejumlah daerah lain yang akan mengikuti rangkaian Napak Tilas Isyarah Pendirian Nahdlatul Ulama (NU).

Kedatangan jamaah bertepatan dengan lantunan adzan Magrib yang menggema dari Masjid Alun-alun Jombang. Suasana religius pun terasa semakin khidmat. Di bawah langit yang mulai gelap, jamaah tampak beristirahat sejenak, menunaikan salat, dan mempersiapkan diri untuk perjalanan spiritual menelusuri jejak lahirnya jam’iyah terbesar di Indonesia itu.

Sekitar pukul 20.00 WIB, setelah beristirahat dan mendapatkan arahan dari panitia, jamaah melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Pesantren Tebuireng. Rute ini menjadi pengingat peristiwa bersejarah saat Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari menerima tongkat dan tasbih dari Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura. Isyarah spiritual tersebut diantarkan oleh KH As’ad Syamsul Arifin Situbondo, yang kemudian dimaknai sebagai penanda lahirnya Nahdlatul Ulama.

Berdasarkan pantauan duta.co, hujan yang turun mengiringi langkah jamaah tidak menyurutkan semangat. Para dzurriyah, kiai, santri, dan jamaah dari berbagai latar belakang tetap melangkah dengan penuh kekhusyukan. Bahkan, sebagian jamaah tampak berlari kecil menuju Masjid Agung Baitul Mukminin, menjaga ritme perjalanan di tengah cuaca yang basah.

“Alhamdulillah sudah sampai Jombang. Meski hujan, tetap semangat,” ujar salah satu jamaah sambil menikmati nasi pecel hangat yang disediakan panitia.

Napak Tilas Isyarah Pendirian NU bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan juga laku spiritual untuk mengingat kembali nilai keikhlasan, perjuangan, dan sanad keilmuan para ulama pendiri NU. Di tengah derasnya hujan, langkah-langkah jamaah seakan menjadi doa yang berjalan—mengikat masa lalu, hari ini, dan masa depan jam’iyah.
(din)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry