
JAKARTA | duta.co – Perang Pecah! Israel yang memulai. Sekitar pukul 09.30 waktu setempat, Israel merudal tempat-tempat vital Iran. Karuan Amerika Serikat (AS), harus cepat membackupnya. Ada pola yang berbeda. Kalau Israel dan AS membabi buta serang Iran, sementara Iran lebih fokus pada pangkalan militer AS di berbagai negara.
“Hanya (pangkalan militer AS) di Arab Saudi yang masih aman. Kalau ini diserang rudal Iran, maka, ancaman serius bagi jamaah haji tahun 2026. Termasuk jamaah dari Indonesia,” demikian disampaikan salah satu mantan pejabat terekam duta.co, Sabtu (1/3/26) dini hari.
Di akun @mediaprabowo, mantan Kepala BAIS TNI, Laksda TNI (pur) Soleman B Ponto, dengan tegas mengatakan, dengan ketegangan Iran Vs AS itu, maka, keikutsertaan Indonesia dalam BOP menjadi penting dalam perdamaian, dalam kondisi geopolitik di Timur Tengah yang memanas antara AS dan Iran. “Saya kira hanya Presiden Prabowo pemimpin dunia yang bisa menjadi penengah konflik ini, mana ada di dunia,” tegasnya di instragram @mediaprabowo.
Menurut Soleman, Presiden Prabowo adalah satu-satunya presiden di dunia yang berdiri di tengah untuk berdiplomasi, karena mempunyai kedekatan dengan Presiden Trump sekaligus sebagai anggota negara OKI (Organisasi Konferensi Islam). “Dalam kesempatan yang sekecil apa pun, Presiden Prabowo tidak ingin berpangku tangan dan memilih terlibat dalam menjaga perdamaian dunia,” tegasnya.
Sementara, seperti dikabarkan bbc.com, Kementerian Luar Negeri Indonesia sudah menyatakan sangat menyesalkan gagalnya perundingan antara AS dan Iran, yang telah berdampak pada eskalasi militer di kawasan Timur Tengah. Indonesia menyerukan seluruh pihak untuk menahan diri dan mengedepankan dialog dan diplomasi.
Indonesia kembali menekankan pentingnya menghormati kedaulatan dan integritas wilayah setiap negara serta menyelesaikan perbedaan melalui cara damai. Menurut Kemlu, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif. “Apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi,” sebut Kemlu Indonesia.
Mengenai nasib WNI, Kemlu mengimbau para WNI di wilayah terdampak tetap tenang, waspada, mengikuti arahan otoritas setempat, dan menjaga komunikasi dengan Perwakilan RI terdekat.
Indikasi Kedodoran
Serangan Iran fokus pada pangkalan militer. Sementara, Israel dan AS terlihat frustasi, menyerang sekolah-sekolah. Presiden Amerika, Donald Trump, sudah menyatakan melancarkan “operasi tempur besar-besaran” di Iran. Israel, juga, menurut Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, menjalankan operasi tersebut bersama AS untuk “menyingkirkan rezim teroris di Iran”.
Rangkaian gempuran AS dan Israel kemudian dibalas Iran dengan melesatkan rudal ke berbagai kota di Israel serta negara-negara Teluk yang menampung kekuatan militer AS. Dalam pernyataan video sebelumnya, Trump mendesak warga Iran memanfaatkan serangan besar besaran terhadap Iran untuk menggulingkan kelompok ulama yang memerintah negara itu. “Ketika kami selesai, ambil alihlah pemerintahan kalian. Itu akan menjadi milik kalian. Ini mungkin satu satunya kesempatan kalian dalam beberapa generasi,” rayunya.
Ia juga mengatakan kepada anggota pasukan keamanan Iran bahwa mereka akan diberi “imunitas” apabila meletakkan senjata. Jika tetap bertempur, lanjut Trump, mereka akan “menghadapi kematian yang pasti”. Hal senada diucapkan Netanyahu. “Waktunya telah tiba bagi seluruh kelompok masyarakat Iran—bangsa Persia, Kurdi, Azeri, Baluchi, dan Ahwazi — untuk melepaskan diri dari belenggu tirani dan mewujudkan Iran yang bebas dan damai,” kata Netanyahu.
Catat, Israel yang Memulai
Sesaat setelah pukul 09:30 waktu Teheran (13.00 WIB), kantor berita Fars di Iran melaporkan bahwa ledakan terdengar di Kota Isfahan, Qom, Karaj, dan Kermanshah, serta di ibu kota Teheran. Di Teheran, kantor Pemimpin Tertinggi Iran serta kantor kepresidenan dilaporkan ikut menjadi sasaran.
Foto foto yang dilihat BBC menunjukkan asap membubung di kawasan Jomhouri Square dan Hassan Abad Square, Kota Teheran. Sejumlah instalasi militer di Kermanshah, Qum, Isfahan, Tabriz dan Karaj, serta fasilitas Angkatan Laut Iran di Kenarak, wilayah selatan negara itu, juga dilaporkan terkena serangan.
Sebuah video dari kota kecil Kamyaran, di wilayah Kurdistan, menunjukkan sebuah pangkalan Korps Garda Revolusi dihantam bom. Hingga kini belum diketahui sejauh mana jumlah korban atau luka luka.
Kantor berita Tasnim menyatakan bahwa wilayah udara Iran telah ditutup sejak serangan terjadi. Di Iran, respons terhadap serangan tersebut sangat beragam. Rekaman video yang beredar di media sosial menunjukkan warga di dekat lokasi ledakan berlarian panik, diiringi teriakan dan tangis.
Namun pada saat yang sama, muncul pula rasa lega dan sebagian tampak merayakan serangan itu lantaran mereka meyakini bahwa kejatuhan rezim hanya bisa terjadi melalui intervensi militer.
Banyak warga telah lama menduga kemungkinan adanya serangan AS. Reaksi masyarakat Iran pun terbelah. “Jika saya mati, jangan lupakan bahwa kami juga ada—mereka yang menolak serangan militer, mereka yang akan menjadi angka semata dalam laporan korban jiwa,” tulis seorang warga Iran di media sosial.
Apa respons Iran?
Rangkaian gempuran itu dibalas oleh Iran. Militer Israel (IDF) mengatakan telah mengidentifikasi rudal yang diluncurkan Iran menuju wilayah Israel, dan menyebut pihaknya tengah bekerja untuk “mencegat dan menindak setiap ancaman jika diperlukan.” “Sirene berbunyi di sejumlah wilayah di seluruh negeri setelah terdeteksinya rudal yang diluncurkan dari Iran menuju Israel,” sebut IDF.
Ledakan dilaporkan terdengar di Kota Haifa dan sejumlah lokasi lain di Israel. Warga Israel juga telah diperingatkan untuk tidak berkumpul dan tidak pergi ke sekolah maupun tempat kerja kecuali jika benar‑benar penting. Otoritas menyatakan pedoman ini berlaku hingga Senin pukul 20.00. Media Israel juga melaporkan bahwa wilayah udara negara itu ditutup untuk penerbangan sipil.
Kantor berita Tasnim, yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi (IRGC), menyatakan bahwa “seluruh pangkalan dan kepentingan AS di kawasan telah menjadi sasaran rudal Iran”. Sejumlah video mulai bermunculan yang menunjukkan serangan balasan Iran di berbagai wilayah Timur Tengah, seperti di Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, dan Yordania.
Pangkalan pangkalan udara AS yang tersebar di kawasan itu diperkirakan menjadi target militer Iran. Di Doha, Kementerian Pertahanan Qatar menyatakan telah mencegat beberapa rudal yang diduga menargetkan Pangkalan Udara al-Udeid, pangkalan militer AS yang terbesar di Kawasan Teluk.
Bahrain juga menjadi salah satu negara Teluk yang turut terkena serangan. Pemerintah Bahrain mengatakan pusat layanan Armada Kelima Angkatan Laut AS “menjadi sasaran serangan rudal”. Armada tersebut bertanggung jawab atas operasi AL AS di kawasan Teluk, Laut Merah, Laut Arab, dan sebagian Samudra Hindia.
Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab dalam sebuah pernyataan menyebut negaranya mengalami “serangan terang-terangan yang melibatkan rudal balistik Iran”. Angkatan Udara AS beroperasi dari Pangkalan Udara Al Dhafra, di selatan Abu Dhabi, bersama Angkatan Udara UEA.
Donald Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat telah memulai “operasi tempur besar besaran” di Iran. Dia menuduh rezim Iran menjalankan “kampanye tanpa akhir berupa pertumpahan darah dan pembunuhan massal yang menargetkan Amerika Serikat”. Presiden AS itu merilis sebuah video di Truth Sosial, tak lama setelah ledakan dilaporkan terjadi di ibu kota Iran, Teheran.
Di sinilah, banyak orang terbelalak, mengapa Prabowo selalu mendekati Trump. “Prabowo telah membaca bahwa ketegangan dunia akan terjadi. Konflik senjata, AS vs Iran bisa menjadi picu perang dunia III. Sementara Indonesia sendiri bukan negara aman dalam konflik itu,” terang sumber duta.co.
Apalagi, faktanya, Indonesia termasuk negara yang tergantung aktivitas ekonomi di Selat Hormuz, Iran. Indonesia dipastikan ikut terdampak jika Selat Hormuz benar-benar ditutup Iran dalam peperangan melawan Israel. Pasalnya, jalur laut sempit antara Iran dan Oman itu menjadi akses perdagangan 20 juta barel minyak perhari (BOPD) alias 20 persen dari total konsumsi global. Hormuz juga merupakan jalur mondar-mandir kapal pengangkut gas alam cair (LNG).
Impor minyak mentah Indonesia yang melewati Selat Hormuz bahkan mencapai 22,8 juta barel. Proyeksi ini terungkap berdasarkan data yang dibeberkan PT Pertamina (Persero). VP Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso menyebut pembelian crude dari Arab Saudi mencapai 19 persen dari total impor. Sedangkan total impor minyak mentah sepanjang tahun kemarin, menurut data Pertamina, ada di kisaran 120 juta barel. Padahal, inilah ancaman Iran untuk membunuh AS. “Indonesia ikut terbunuh,” jelas seorang pengamat. (net, bbc.com)






































