Oleh Suparto Wijoyo*

RAMADHAN ini penuh liku. Nuansa sedih dengan bombardir yang menimpa Iran amatlah menambah perih. Kawasan Timur Tengah hari-hari ini menggambarkan beta rapuhnya persatuan umat Islam, tepatnya para pemimpin alias para sultan di Timur Tengah. Sudah tahu bahwa kekuatan energi migasnya ada dalam dirinya, maka apabila mereka kompak sesungguhnya USA dan Israel tidak berdaya. Tapi itulah realitas yang kita saksikan, maka kekuatan itu justru menjadi semacam kutukan bagi kawasan Timur Tengah. Akhirnya kita semua menyimak dengan dalam bahwa  Ramadhan tidak membuat Israel tersadarkan atas nama toleransi misalnya.

Itulah bangsa yang tidak memberikan teladan apapun mengenai ketaatan kepada komitmen dunia yang disebut hukum internasional. Serangan yang menewaskan ratusan warga Palestina, sebelum menyerang Iaran tempo hari (28 Februari 2026 bersama orang tua asuhnya USA), di sesi Ramadan ini, justru terjadi termasuk dalam rentang menengadahkan harapan di masa lailatul qodar. Ramadan yang menyerta dalam perang bersenjata tampak dipunggungi Israel. Bicara kemanusiaan tiadalah pada alasnya dengan Israel. Saya dalam tahapan ini tentu agenda mudik selalu dalam renungan untuk kondisi di Gaza maupun Iran akhir-akhir ini.

Israel Negara yang keberadaannya diartifisialkan pemenang perang dunia kedua sebangsa Amerika Serikat. Negara yang hadirnya oleh pihak yang mengganp Palestian sebagai liyan. Tragedi kemanusiaan itu terus berlanjut di Gaza, di Teheran justru saat umat sedang menjalanakn ibadah puasa Ramadan. Simaklah beragam media massa. Korban serangan Israel di Gaza atau di Libanon yang terkabarkan pada lengkap dengan foto-fotonya, hati kemanusiaan siapapun pasti tergunjang. Peristiwa yang menggelegak dalam suasana menjemput Idul Fitri 1447 H, merupakan simbol abadi keangkuhan Israel. Negara ini sesungguhnya sedang memamerkan kedunguannya pada tataran yang sangat menggelisahkan umat manusia.

Apa yang terjadi di Jalur Gaza adalah perlambang bahwa kemanusiaan sedang dipermainkan oleh sebuah negara yang sebenarnya tidak mimiliki argumentasi ekologis-humanis maupun teologis untuk bertindak brutal. Tidak ada alasan yang cukup kuat bagi Israel untuk menggempur dan membantai jiwa raga warga Palestina, kecuali kerakusan atau justru karena ketidakmengertiannya. Dalam konteks dan kontens demikian rasanya sulit membedakan antara kecerdasan  dan keculasan Yahudi-Israeliyah. Tampaknya kesombongan Israel telah melupakan peran penting yang mestinya diemban oleh Israel dengan komunitas agamawi orang-orang Yahudi. Mereka pada tataran yang paling Illahiyah sesungguhnya dapat memainkan fungsi fundamental sebagai penjaga ”Ekosistem Tuhan” dan menghargai keberadaan bangsa Palestina yang lebih dulu berentitas yuridis dengan yuridiksi ekologisnya sebagai sesama penghuni ”tanah yang diperjanjikan”. Palestina yang bermuatan Jalur Gaza secara geopolitik dan teologisnya wajib diperlakukan secara damai dan haram dianiaya.

Dalam spektrum teologis dan ekologi keagamaan, Isreal dapat mengemban peran sekecil apapun sebagai ”Negara Pemandu” kerukunan umat manusia dalam beragama dan menjadilah mereka sebagai perekat kehidupan yang berdurasi relegius yang harmonis. Ekosistem ketuhanan yang berada di Israel dan Palestina seyogianya menjadikan keduanya memiliki komitmen untuk memayungi semua warga agama dan penghuni Palestina serta umat manusia dimanapun berada. Israel sebenarnya mempunyai kesempatan sebagai pengemban amanat Tuhan yang terdepan dalam memberikan kesantunan kemanusiaan. Ekosistem Teologis itu ada di jantung wilayah yang kerap mendatangkan tragedi atas nama Tuhan. Itulah Jerusalem. Seperti yang dikatakan oleh Discovery Channel: Hanya segelintir kota yang telah menjadi tuan rumah bagi banyak agama dan aliran politik seperti Jerusalem. Bagi orang Yahudi, kota ini adalah ibukota tanah air mereka dan lokasi Tembok Barat. Bagi umat Kristiani, the Garden of Gesthsemane and Golgotha are here. Dan bagi Muslim, it’s a city inextricably tied to the rise of Islam with such holy sites as the Dome of the Rock. Saya membayangkan kapan-kapan dapat mudik ke Kota Tuhan, kota yang memberikan ruang untuk tiga iman.

Dengan demikian, seyogianya Israel mampu melakukan peran strategis yang mampu menjadi tempat tumpuan kedamaian semua umat: Yahudi, Kristen, dan Islam. Pengeboman di Jalur Gaza menandakan bahwa Israel belum menyadari secara substantif fungsinya sebagai penjaga dan bukan penjegal jejaring ekosistem ketuhanan yang berada dalam rentang Palestina. Keberadaan Kota Jerusalem niscaya secara akli dan kodrati menjadikan Israel mengawal perjalanan umat Kristiani maupun Islam yang termasuk tinggal di Jalur Gaza. Apabila Israel dengan orang-orang Yahudinya (Jews) mampu menyelami kisah peradaban yang pernah tumbuh dan akan terus berkembang dalam sejarah kemanusiaan, niscaya Israel tidak akan melakukan tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan tersebut. Pesan penting sebagai Jews adalah penghayatan atas status agungnya untuk berdampingan dengan Christians dan Muslims. Atas nama Tuhan dan kemanusiaan, Isreal harus menghargai umat Kristiani dan Islam yang bercengkerama di tanah Palestina dengan membuktikan diri bahwa nurani Yahudi memanglah penuh kedamian dan kasih. Selama Israel dengan jiwa-jiwa keyahudiannya bertindak dan melakukan gerakan arogan dengan membantai warga Palestina, maka selama itu pula tidak ada rasa hormat kepadanya yang dipersembahkan oleh dunia internasional.

Kutukan dan kecaman kepada Israel yang menghiasi berbagai pemberitaan sekarang ini mestinya menyentakkan mereka untuk sadar bahwa tabiatnya sangat tidak bermartabat dan menghina serta merendahkan derajat Yahudi sendiri. Konflik abadi yang mewarnai Jerusalem dan seantero wilayah Israel sebagai hasil agresi mustinya dipangkas oleh generasi Israel modern. Sayangnya, orang-orang Yahudi Israel tidak cukup mempunyai kemauan dan tekad yang kuat untuk memangkas peredaran peradaban kekerasan. Isreal telah bertindak abai bagi kemanusiaan.

Jalinan ekosistem Kota Tuhan yang mewarnai Isreal dan Palestina semestinya mampu memompa kedahsyatan kehidupan egaliter yang dapat dikembangkan dari pusat esensial Kota Jerusalem. Akankah Israel bertindak yang tidak sehaluan dengan keberadaanya sebagai elemen dasar holyland tiga agama? Apabila ini tidak diatasi dan disadari dengan ketulusan jiwa Pemerintahan Israel, maka selama itu pula Isreal menabuh genderang perang dan perlawanan pada ketertiban dunia. Israel berarti tidak hendak mendamaikan bumi sambil mambasuh luka dunia dengan penuh keteduhan. Israel mutlak menyadari bahwa sejarah peradaban pada titik kulminasinya akan selalu mencapai tataran yang tetap memenangkan kemanusiaan dengan derajat ketuhanannya yang sejati. Apabila Sekjen PBB sudah mengecam langkah brutal Israel masih tidak didengar apalagi dianggap, atau kecaman masyarakan dunia yang bernaung di PBB tidak digubris, tampaknya orang Jawa perlu mengambil prakarsa terdepan untuk “menjewer” Israel. Saatnya sejarah orang Jawa diintrodusir dalam kerangka jejaring peradaaban kepada Israel untuk saling mengerti dan selanjutnya memahami apa artinya bangunan terminologis yang ribuan tahun ini terjalin.

Saya memiliki daya kepercayaan bahwa ada hubungan kehidupan antara komunitas Yahudi dengan Jawa dalam jejaring eksostem teologis. Tuhan mencipta sebuah bangsa menurut Alquran berbangsa-bangsa agar saling mengenal dan tentu sambil merujuk kedekatan teologisnya. Atas nama Tuhan dan kemanusiaan dapat ditebar suatu studi yang mendalam agar Yahudi dapat diperingatkan atau memperhatikan seruan orang-orang Jawa sebagai kesatuan kosmologis dunia yang menyejukkan. Ini tentu saja membutuhkan penelitian dan pemahaman komprehensif yang mencoba terbuka dalam hubungan dilalogis-kosmopolis-ekologis dan teologis. Hubungan Jawa dan Yahudi terutama dengan kesatuan hakikat umat Bani Israel tentu dapat ditelusiri pada kisah-kisah kenabian Musa alaihissalam serta saudara-saudaranya. Bahkan Ibu Kota Isreal yang bernama Tel Aviv diyakini para penstudi komtemporer memiliki hubungan, paling tidak secara semantik-tematik dan ideomatik yang paling terang dengan Jawa.

Terhadap hal ini Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) pernah menyatakan dan mempertanyakan kenapa Tel Aviv bernama Jaffa Tel Aviv, kenapa pusat-pusat Yahudi di Amerika, Kanada, Belanda, Australia, dan lain-lain bernama Jaffa. Apa hubungan antara “j” dan “w” dalam kata Jewish atau Yahudi dengan kata Jawa, Yehovah, dan seterusnya? Saya sendiri memang menjadi terinspirasi untuk berpandangan terdapatnya “jalinan keadaban”: antara Jawa dengan Yahudi. Sama dengan kata Ingris untuk menyebut orang Yahudi yang dilansir dengans penamaan Jews, tidak adakah hubungan antara Jews dengan Jawa, Jaffa dengan Java, Yehovah dengan Jewish kemudian berkembang secara simplistik dengan sebutan Jawa?

Cak Nun selanjutnya memberitahukan bahwa di sebuah negara di Eropa (bukan Belanda) ada sejumlah kelompok di muka bumi yang memiliki bahan tentang Jawa, yang orang Jawa sendiri tidak tahu apa-apa mengenai dirinya. Anak buah Nabi Musa yangn merindukan makanan-makanan tropis: kacang, mentimun, bawang merah, bayam, serta sayur-sayuran. Atau anak buah Nabi Musa yang ditimpa kutukan tropis oleh Allah menjadi kera, padahal kalau bukan manusia pulau-pulau kera pasti tak takut dikutuk menjadi kera karena mereka tidak pernah mengenal kera.

Dari dimensi relasional tematik yang sederhana antara peradaban Yahudi dan Jawa jangan-jangan memang memiliki relevansi untuk saling mengingatkan dan substitutif. Oleh karena itu saatnya orang-orang Jawa atau dalam skala yang lebih besar adalah Negara Indonesia untuk bertindak terdepan mengingatkan Israel. Jawa yang dalam kisah kenabian Musa tersebut di atas terlihat lebih tua daripada Yahudi, maka dengan diplomasi peradaban kiranya dapat ditekankan bahwa Jawa sebagai saudara tua Yahudi kini mengambil ancang-uncang untuk “menjewer adiknya” yang masih tetap nakal. Adakah keberanian dan niatan orang-orang Jawa untuk tampil sebagai pemandu zaman mendiagnosa watak dasar Israel dengan Yahudinya agar lebih familier dengan warga Palestina yang nota benenya adalah saudara-saudara mereka sendir sesama penjaga penghuni holyland yang diperjanjikan itu.

Maukah orang Jawa mencoba mengambil peran fenomenal untuk menyadarkan Israel dengan selalu bilang dengan nyanyian klasik orang-orang Jawa: apabila Israel tidak menggubris nasehat orang-orang Jawa, maka orang-orang Jawa cukup menembangkan lantunan: ojodi-ojodi wong tuwo iku malati atau jangan dik-jangan dik, janganlah mengingkari nasehat saudara tua (Jawa), sebab saudara tua itu bisa mengutukmu. Adakah Isreal takut dengan kutukan orang-orang Jawa? Waktu jualah yang akan membuktikan dan saatnya orang Jawa bertindak mengaji dirinya. Ramadan membuka ruang belajar kepada diri sendiri. Lanjutkan untuk mudik. Jaga stamina. Salam ke keluarga di kampung halaman.

*Suparto Wijoyo adalah Guru Besar Hukum Lingkungan dan Wakil Direktur III  Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, Ketua Bidang Hukum dan Kerjasama MUI Provinsi Jawa Timur, Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur

 

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry