Keterangan foto (IST)

JAKARTA | duta.co – Ketua Harian Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyyah (PPKN), H Tjetjep Mohammad Yasien SH, MH  angkat topi dengan keberanian para aktivis termasuk Ketua DPD RI Ir H AA Lanyalla Mahmud Mattalitti berikut seluruh anggotanya.

“Rakyat memang butuh pemimpin berani. Berani mengutamakan kepentingan orang banyak. Bukan type pemimpin yang hanya tunduk kepada oligarki. Kondisi saat ini cukup mengerikan, berbahaya untuk masa depan bangsa,” demikian Gus Yasien panggilan akrabnya kepada duta.co, Rabu (27/4/22).

Gus Yasien, Ketua Harian PPKN.

Menurut Alumni PP Tebuireng Jombang ini, tuntutan rakyat, itu tidak neko-neko (aneh-aneh). “Maka, pemimpin jangan rakus kekuasaan. Jangan ada siasat menunda Pemilu 2024. Jangan biarkan hukum tebang pilih, kini ekonomi kian susah. Kalau pemerintah masih tidak mendengar jeritan rakyat, maka, tinggal menunggu waktu, akan terjadi kemarahan yang lebih besar,” tegasnya.

Ya! ‘Lonceng keras’ pertanda akan terjadi aksi besar-besaran, memang, terlihat di Jakarta. Hari ini, Rabu (27/4/22), kabarnya di Jakarta sejumlah aktivis sudah melakukan konsolidasi. “Hadir Bung Rocky Gerung, Syahganda Nainggolan, Jumhur Hidayat, Ferry Juliantono, Faisal Basri, Bursah Zarnubi, Roy Suryo, Usmad Hamid, Zaim Saidi, Herdi Sahrasad, Antonhy Budiawan, Ariady Ahmad, Yusuf Blegur, Chandra Tirtawijaya, Dian Islamiaty, Teguh Santosa dan Andrianto. Konsolidasi ini semakin menguat dan membesar,” jelas sumber duta.co, yang masih enggan disebut namanya.

Menurutnya, situasi saat ini, seperti perang dingin, dan akan semakin menyulitkan Indonesia. “Mengapa? Karena situasi ini bersamaan dengan perekonomian kita yang lesu, rakyat kesulitan membeli kebutuhan pokok, kepemimpinan nasional tampak semakin melemah serta berbagai perpecahan di kalangan masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Tekanan Global

Pun juga tekanan global, ini sangat menyulitkan Indonesia. “Bukan hanya sekedar keinginan super power untuk membuat pilihan sulit bagi Indonesia menentukan pemihakan, tetapi juga perekonomian negara-negara maju akan lebih mengutamakan pertahanan daripada memberikan bantuan bagi negara lain, seperti Indonesia,” tegasnya.

Untuk itu para aktivis menyerukan: Pertama, Indonesia harus segera menemukan jalan konsolidasi kekuatan melalui pengorganisasian massa rakyat yang lebih luas, guna menyongsong kepemimpinan nasional yang solid dan kuat ke depan.

Kedua, mengutuk kekerasan yang dilakukan Rusia terhadap Ukraina sebagaimana Indonesia mengutuk invasi Israel terhadap Palestina. “Dengan begitu, pemerintah tidak boleh tutup mata. Kalau masih tidak mendengar suara rakyat, maka, people power pasti terjadi,” pungkasnya. (mky)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry