LAMPUNG | duta.co – Hari ini, Kamis (23/12/21) jagat twitter ramai dengan #AsadaliMenang. Bahkan Hashtag ini menjadi trending topics, setidaknya sampai berita ini terunggah. Ada banyak saran, foto yang diunggah. @juaninda10 misalnya, menyebut, bahwa, NU merupakan jamiyah diniyah ijtimaiyah, salah satu harga mati #AsadaliMenang.

Sementara, @mnypn8 berharap agar KH As’ad Said Ali bersedia maju demi menyelamatkan NU dalam kepungan politik. Untuk mempimpin perjuangan NU, KH As’ad Said Ali akhirnya pun bersedia lohh.., ini berkat dari dorongan dari kyai, PC dan PW NU juga, #AsadaliMenang.”

Puluhan ribu harapan nahdliyin, terunggah di jagat twitter. Dengan demikian, KH Asad Said Ali diyakini berpotensi menjadi ‘kuda hitam’ atau pemecah kebuntuan saat ada dua kandidat kuat Ketua Umum PBNU yang sama-sama menyimpan madlorot besar.

Selain harapan terhadap Kiai As’ad, netizen nahdliyin juga berharap NU memegang teguh keputusan Khitthah 1926 NU. Ini karena NU merupakan soko guru NKRI. “NU harus menjadi ‘tentara’nya NKRI. Tidak boleh berpolitik praktis. Tidak boleh digerogoti Parpol. Sosok Kiai As’ad paling pas untuk memimpin NU lima tahun ke depan,” jelas warga nahdliyin lainnya.

Ada juga yang menyertakan doa KHR Ahmad Azaim Ibrahimy, ulama Kharismatik, tawadlu, dan berpenampilan sederhana dari Situbondo Jawa Timur. Tampak foto Lora Azaim, berikut harapannya terhadap Muktamar ke-34 NU.

Berdoa, memohon, bermunajat kepada Allah subhanahu wa ta’ala; semoga proses muktamarnya berjalan baik, berjalan benar. Jika prosesnya baik, hasilnya diharapkan baik juga: Lahir kepengurusan yang baik, yang membawa maslahah, menyejukkan dan tentunya meneguhkan akidah ahlussunnah wal jama’ah. Jika NU baik, maka, NKRI akan menjadi baik,” demikian doa cucu mediator NU untuk Muktamar ke-34 NU.

Selain itu, ada juga netizen yang menyertakan 10 poin harga mati yang pernah dipopulerkan KH Afifuddin Muhadjir seperti suara @juanIndra10. Ia berharap, ketika KH As’ad Said Ali memimpin NU, dipastikan 10 poin harga mati itu, terjaga dengan baik.

Siapa Kiai As’ad?

Nama Kiai As’ad sebagai calon Ketua Umum PBNU ini, seakan mengulang Muktamar ke-33 di Jombang, Jawa Timur, enam tahun lalu. Sayang, saat itu Kiai As’ad memilih mundur. Kali ini, nahdliyin berharap tidak mundur, demi NU.

KH As’ad Said Ali lebih kita kenal sebagai pejabat intelijen. Pria kelahiran Kudus, Jawa Tengah pada 19 Desember 1949 tersebut sudah berkecimpung di Badan Koordinasi Intelijen (Bakin) tak lama setelah lulus kuliah.

Ketika belajar di Pondok pesantren Al-munawwir, Krapyak, Yogyakarta, dia juga mengambil kuliah jurusan Hubungan Internasional Fisipol UGM. Atas inisiatif tokoh NU Subnah ZE, Kiai As’ad masuk ke Bakin. Di lembaga intelijen itu, Kiai As’ad cukup lama bertugas di wilayah Timur Tengah seperti Arab S, Yordania, Suriah, dan Lebanon. Dia juga pernah bertugas di Eropa dan Amerika Serikat.

Setelah Bakin berganti nama menjadi Badan Intelijen Nasional (BIN), Kiai As’ad menjabat sebagai wakil kepala selama Sembilan tahun sejak era Presiden Abdurahman Wahid atau Gus Dur hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Berkat pengalamannya tersebut, Kiai As’ad mendapatkan gelar Doktor Horonis Causa dari Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang. Di NU, Kiai As’ad sedari muda aktif di badan otonom NU seperti IPNU dan GP Ansor.

Pada 2010-2015, dia mendampingi KH Said Agil Siradj sebagai wakil ketua umum PBNU. Kiai As’ad bertanggung jawab pada kaderisasi PBNU serta mengepalai berbagai program perdamaian dunia. Sekarang kita mengenal  namanya Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU). Lembaga ini sudah mendunia, dan telah menjadi kebanggan nahdliyin di mana-mana. (mky)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry