
“Semoga para santri dan pengasuh Ponpes Al Khoziny diberikan kekuatan menghadapi musibah ini. Termasuk puluhan anak-anak kita yang menjadi korban dan kini tengah berjibaku dalam kesembuhan.”

Oleh Imam Budi Utomo*
MUSIBAH menimpa Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo. Bangunan Musholla yang sudah mendekati finish ini, tiba-tiba ambruk. Bangunan ini sudah masuk tahap penyelesaian. Lantai satu dan dua sudah rampung, kini memasuki penyelesaian lantai tiga. Saat musibah terjadi (waktu ashar), paginya, lantai tiga yang bakal difungsikan sebagai menjadi pusat kegiatan santri ini dilakukan pengecoran.
Pengasuh PP Al Khoziny KH R Abdus Salam Mujib, menjelaskan, bangunan tersebut sebenarnya masih dalam tahap pengerjaan. Menurut Kiai Salam bagian bawah musholla sudah difungsikan, sementara lantai atas rencananya digunakan sebagai hall atau pusat kegiatan santri. “Masih pengerjaan. Ini sedang pengerjaan lantai terakhir. Pagi tadi dilakukan pengecoran di lantai atas,” katanya lirih sebamana diunggah jatimupdate.id.
Kabar dari RS Siti Hajar, ditemukan data seorang santri bernama Mohammad Alfian Ibrahim dengan alamat Kali Anyar, Madura dinyatakan meninggal dunia. “Innalillahi wa innailaihi rajiun. InsyaAllah anak Ibrahim, syahid. Ia meninggal usai salat ashar di tengah sibuk belajar. Semoga keluarga pesantren dan di rumah diberi ketabahan,” demikian WhatAap dari GM duta.co, Dr Eko Pamudji.
Alarm Nasional
Kita tahu, bahwa, pesantren adalah rahim Nahdlatul Ulama (NU). Di mana pesantren sejak dulu hingga sekarang menjadi pusat penyiaran Islam dan tempat pendidikan. Pesantren didirikan sebagai media pengabdian kepada Allah SWT untuk menjunjung tinggi agama Islam atau li i’la’i kalimatillah guna membangun peradaban Islam. Hal tersebut sebagaimana kondisi pesantren zaman dahulu yang mencerminkan kesederhanaan secara menyeluruh.
Masalahnya: Sadarkah kita bahwa pesantren telah menjadi organ vital dalam membangun kehidupan berbangsa, bernegera berbasis pada keyakinan yang kokoh? Sadarkah kita, bahwa, kemerdekaan negeri ini juga tidak bisa lepas dari insan-insan pesantren yang berjuang tanpa pamrih, kecuali berharap ridha Allah SWT.?
Maka, musibah yang menimpa Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo ini harus menjadi alarm nasional, bagaimana kita menggugah semangat pemerintah, pemangku kebijakan untuk lebih cermat membaca kebutuhan-kebutuhan dasar pesantren.
Meninggalnya santri Al Khoziny, M Alfian Ibrahim — syahid dalam medan juang sebagai santri – mengingatkan kita betapa pentingnya menegakkan Islam yang rahmatan lilalamin — sebagaimana visi-misi Al Khoziny.
Semangat belajar dari almarhum Mohammad Alfian Ibrahim harus terus menyala. Tidak boleh surut apalagi mundur gegara musibah. Musibah ambruknya musholla ini harus menjadi pelajaran bersama, betapa sinergitas semua pihak dalam menopang kebutuhan untuk mengimbangi semangat belajar anak-anak kita (sebagaimana santri Al Khoziny), harus terjalin apik.
Semoga para santri dan pengasuh Ponpes Al Khoziny selalu diberikan kekuatan untuk menghadapi musibah ini. Termasuk puluhan anak-anak kita yang menjadi korban dan kini tengah berjibaku dalam kesembuhan. Amien. (*)





































