Oleh: Suparto Wijoyo*

RUMAH-rumah dan gedung-gedung itu terempas sambil menuangkan cerita duka. Gempa yang melanda Palu, Donggala, dan Mamuju sejak  28 September 2018 itu terus menorehkan gelisah. Anggota kerabat akademik saya masih belum ditemukan meski terasa desah nafas yang pasrah. Gempa dan langgam tsunami yang menyerta amatlah menindih dan melukiskan duka yang tidak terkirakan sebelumnya. Gempa dengan kekuatan 7,4-7,7 skala Richter itu  membekaskan sengsara di kampung halaman  yang tertelan bumi. Inilah kejadian gempa yang disertai fenomena likuifaksi berupa tanah yang mencair. Fakta yang kemudian terekam adalah munculnya lumpur dan air yang merembes dari rekahan tanah untuk selanjutnya “menelan struktur bangunan di atasnya” tanpa mampu disangga siapa pun.

Beribu orang menjadi korban dan rumah-rumah itu tiada membekaskan  asalnya kecuali sebatas narasi kisah bahwa di sini pernah ada kehidupan, ada perkampungan, ada rumah tangga, ada keluarga bangsa. Ribuan lagi diperkirakan masih tertimbun puing dan bongkahan beton yang menunjukkan betapa dahsyatnya hentakan gempa. Bencana telah menggambarkan dirinya yang perkasa  hingga manusia seperti “gabah diinteri”. Semua teriak dan tangisan tidak dapat ditolak dengan lelehan air mata yang tumpah membasuh nasib di hari-hari ini.

Duka mereka adalah duka kita sewarga negara Indonesia. Perihnya luka mereka menjeritkan perihnya hati yang membuncahkan rasa persaudaraan yang semakin kukuh. Ragam bantuan mengalir dalam lenggok yang sangat berliku akibat  tidak berfungsinya fasilitas umum sebagaimana mestinya. Fokus infrastrukur perlu dipikir ulang saat situasi yang berat  berangsur memenuhi harapan betapa uluran tangan atas nama kemanusiaan harus terus disorongkan. Doa dan seruan membantu terus dihimpun berbagai komunitas sebagai pertanda bahwa masyarakat terpanggil untuk meringankan beban saudaranya.

Dalam situasi yang masih sangat panik dalam deretan detik-detik menarik nafas untuk mampu berdiri membangun kesadaran, terdapat suatu tindakan “reflektif yang menjalar” berupa penjarahan. Berpuluh-puluh pelaku kini tengah diinterogasi  tentang laku yang zalim dan haram menurut rujukan agama serta melanggar hukum sesuai  Pasal 363 KUHP. Tindakan menjarah milik orang lain adalah perbuatan kriminal dan tidak boleh dilegitimasi seperti yang pernah tebersit dari pernyataan punggawa negara. Sikap penguasa yang memberikan pemakluman menandakan bahwa rakyat dipersilakan bertindak liar tanpa kenal norma  negara yang berbilang negara hukum.

Penjarahan di kala terjadi bencana adalah lambang tentang gagap dan disfungsionalnya negara dalam menjalankan peran melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah sesuai  amanat Pembukaan UUD 1945. Negara seperti sedang lengah dan tidak cekatan memenuhi kebutuhan pangan para korban. Ini menjadi bukti bahwa UU Penanggulangan Bencana tidak dijalankan semestinya.   UU Penanggulangan  Bencana mengatur agar pemerintah bertindak cakap mengatasi bencana dalam fase saat  terjadi maupun pasca, bahkan pada waktu sebelum terjadinya bencana. Dengan pengaturan ini  agar negara sigap menghadapi situasi apa pun yang melanda demi mandat demokrasi untuk menjaga rakyatnya.

Dalam konteks inilah saya teringat buku “Why Nations Fail: The Origins of Power, Prosperity, and Poverty”  karya Daron Acemoglu dan James A Robinson (2012). Sebuah buku yang menggugat peran negara dengan pertanyaan utama ‘Mengapa Negara Gagal’ dengan selisik pembahasan mengenai ‘awal mula kekuasaan, kemakmuran dan kemiskinan’. Jejaring sosial dan kelembagaan yang tidak terencana dengan matang menyebabkan penjarahan menyeruak selaksa “pasukan semut” keluar dari lubang persembunyiannya yang terkena air comberan.

Potret sosioekologis itu memberikan referensi penataan kawasan yang sesuai dengan potensi alam. Pemanfaatan ruang yang disusun berbasis ekosistem  kegempaan musti disusun dengan penyediaan  lumbung-lumbung pangan  untuk mengantisipasi  situasi sulit pada saat bencana. Penjarahan ini viral di medsos yang terlihat tidak saja  menjarah sembako melainkan “pengangkutan kolosal” saat bencana terhadap barang-barang yang menandakan kemewahan: toko emas diceritakan terjamah, uang, dan mesin ATM  serta perabot elektronik yang terangkut. Kesannya sangat terorganisasi untuk melakukan perburuan harta karun sepola  kisah dalam novel Mark Twain yang berjudul “Petualangan Tom Sawyer”  (2007).

Penjarahan saat gempa  menyajikan laku sosial yang  ganjil dalam peradaban bangsa yang tidak terketemukan di Aceh maupun Lombok yang selama ini mengalaminya. Derita korban harus dientas apalagi yang sudah “jatuh tertimpa tangga”. Namun,  belum tuntas hal ini disikapi oleh negara, muncul informasi ke ruang publik tentang penganiayaan terhadap aktivitis yang amat kondang kaloka, Ratna Sarumpet. Emak-emak ini babak belur dan tidak mampu kuimajinasikan betapa brutalnya tindakan pelaku penganiayaan atasnya. Selama 10 hari sejak 21 September beliau tidak muncul ke khalayak, dan baru tanggal 2 Oktober ramai dibincang orang. Babakan berikutnya adalah antiklimaks yang sangat dramatik bahwa itu semua diakuinya sebagai “kebohongan”. Rabu 3 Oktober dia menggelar jumpa pers dengan ucapan yang terbata tentang kebohongan yang sudah dihantar penuh haru ke pasangan nomor 02.

Apabila aktivis sekelas Ratna Sarumpet saja dapat ‘melakukan’ itu dan sekelas Prabowo Subianto dapat dikibuli  atas apa yang dialaminya, apalagi sebatas kita-kita. Kelindan ucapnya kini memasuki ruang labirin yang penuh tanya dengan kemungkinan yang serba samar. Pengakuan berlaku bohong itu jangan-jangan sebuah ‘kejujuran’ lain untuk ‘menyapa’ penguasa yang tampil seperti pemain film yang membutuhkan peran pengganti. Adakah kekuasaan negara atau justru kekuatan Ratna Sarumpet  dapat menjadi seperti ’likuifaksi’ yang sanggup menelan siapa pun dan apa pun.

Akhirnya  saya membuka Kitab Suci Alquran, tepat di Surat Al-Maidah ayat 105: yaaa ayyuhallaziina aamanuu ‘alaikum anfusakum, laa yadhurrukum man dholla izahtadaitum, illallohi marji’ukum jamii’an fa yunabbi’ukum bimaa kuntum ta’maluun. Sebuah firman yang amat terang pesannya: jagalah dirimu dan fokuslah kepada Allah. Selanjutnya bacalah sendiri dan ucapkanlah DIRGAHAYU TNI.

*Koordinator Magister Sains Hukum dan Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.