Sesaat sebelum muolai kerja bakti mereka mendapat arahan khusus. bagaimana membersihkan benada-benda kuno. (FT/mky)

SURABAYA | duta.co – Puluhan Kader Muda Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Timur, Minggu (22/11/2020) memasuki Gedung Museum Nahdlatul Ulama  (NU) di Jl Gayungsari Timur 35 Surabaya.

Mereka menggelar bhakti sosial, membersihkan sudut-sudut Museum NU yang menjadi jujugan nahdliyin serta para pengamat NU, baik dalam mau pun luar negeri.

Bhakti Sosial yang dikuti Kader Muda PKS Surabaya dan Sidoarjo itu, sekaligus untuk menyambut Musyawarah Nasional (Munas) V di Bandung, Jawa Barat pada akhir November 2020.

H Irwan Setiawan Ketua Umum Dewan Pengurus Wilayah Partai Keadilan Sejahtera Jawa Timur (Baju Hitam) saat mengecek kerja peserta Bhakti Sosial. (ft/mky)

“Terima kasih, terima kasih! Anak muda harus tahu sejarah perjuangan para masyayikh. Di Museum NU ini, kita bisa belajar mengikuti jejak beliau. Rawat dan jaga peninggalan para masyayikh! Jangan lupa baca al-fatihah untuk beliau,” demikian H Irwan Setiawan Ketua Umum Dewan Pengurus Wilayah Partai Keadilan Sejahtera Jawa Timur di depan peserta Bhakti Sosial.

Kegiatan ini dikawal Ustad Muhammad Aziz, Ketua Bidang Pembangunan Keumatan DPW PKS Jawa Timur. “Ya! Kami ingin ikut menjaga peninggalan para kiai. Museum NU ini banyak memberi pemahaman kepada gererasi muda bagaimana pertumbuhan, perkembangan serta perjuangan ulama NU. Kami dan kader-kader muda PKS sangat berterima kasih, diberi kesempatan menjaga ‘warisan’ para masyayikh,” jelas Ustad Muhammad Aziz kepada duta.co.

Sebelum memulai perkerjaan, mereka berkumpul di ruang ‘Walisongo’. “Beberapa hari lalu, Pak Ketum (H Irwan Setiawan Ketua Umum Dewan Pengurus Wilayah Partai Keadilan Sejahtera Jawa Timur red.) berkunjung ke sini. Beliau terkagum melihat ‘jejak perjuangan’ para kiai. Lalu meminta kita belajar dari perjuangan para kiai, dan ikut menjaga ‘warisan’ para masyayikh,” tegas Ustad Aziz alumni Fakultas Ushuluddin – UMI – Makassar ini di depan para peserta Bhakti Sosial.

Menurut lelaki kelahiran Surabaya, 05 Mei 1965 ini, banyak potret sejarah penting yang ada di Museum NU. Dari bagaimana kiai-kiai NU menjaga Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah, sampai gigihnya memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia ini.

“Dari Museum NU ini kita bisa belajar banyak. Silakan kader-kader muda PKS datang ke mari,” tegas Pendiri dan Pengelola Rumah Belajar Riyadus Sholihin, notabene Direktur Utama BTI Ship Design tersebut.

Ustad Ainurrohim, tenaga ahli kebersihan (masjid-masjid) dalam briefing-nya, menegaskan, bahwa, perawatan benda-benda Museum, butuh keahlian tersendiri. Ia lalu menjelaskan foto-foto klasik yang menempel tanpa kaca.

”Jangan sampai terkena atau terpercik air. Cara membersihkan harus hati-hati, syukur disertai bacaan al-fatihah untuk almaghfurlah,” tegasnya.

Sementara Ustdz Kahfi Suharto, salah satu pengelola Museum NU pun berterima kasih atas atensi kader Muda PKS Jatim. Menurutnya, selama ini, tidak banyak orang peduli terhadap Museum NU. Padahal, di sini, tersimpan barang-barang penting terkait perjuangan para kiai NU.

Ustdz Kahfi Suharto, salah satu petugas pengelola Museum NU. FT/MKY)

“Bahkan para pengamat luar negeri sering datang ke mari untuk melihat lebih dekat, seperti apa jejak perjuangan para kiai NU di Indonesia. Ulama-ulama Afganistan pun berembuk di tempat ini, ketika mereka hendak mendirikan ormas keagamaan yang sama (seperti NU) di sana,” jelasnya.

Masih menurut Ustad Kahfi, apa yang dilakukan PKS — membawa Kader Muda-nya masuk Museum NU — adalah tepat. Kader-kader politik perlu membaca dan mengambil teladan bagaimana para kiai NU berjuang untuk NKRI tempo dulu.

“Dengan begitu, politisi santri nanti tidak lepas kendali, tetap sambung dengan perjuangan para masyayikh. Ini mestinya yang dilakukan partai. Terima kasih! Setelah PKS, harapan kami partai lain bisa mengikuti,” jelasnya. (mky)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry