Suasana Upacara Bendera Sarungan di Masjid Al-Ikhlas. (FT/NIZAM ALKAFI)

SIDOARJO | duta.co – Tiap tanggal 17 Agustus, jamaah Masjid Al-Ikhlas di Perumahan Graha Permata Sidorejo Indah, Desa Sidorejo, Krian, Sidoarjo  menggelar upacara pengibaran Bendera Merah Putih.

Apel tahunan yang dihelat di halaman masjid ini, diawali dengan pembacaan tahlil, doa untuk para syuhada kemerdekaan. Tampak gambar Bung Karno, Bung Hatta, KH Hasyim Asy’ari (pendiri NU) dan KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah).

Diawali doa bersama dan pembacaan sholawat nabi. (FT.NZM)

“Adalah kewajiban kita sebagai bangsa, menjaga negeri ini agar tetap berada dalam cita-cita para pendiri NKRI yang meletakkan Pancasila sebagai dasar negara. Di samping itu, untuk memastikan tidak ada jamaah yang terpapar paham radikal,” jelas Badrus Soleh, Sekretaris Masjid Al-Ikhlas kepada duta.co, usai upacara bendera, Sabtu (17/8/2019).

Menurut Soleh, kalau selama ini ada indikasi masyarakat tertentu yang terpapar radikalisme, maka, dengan digelarnya Upacara Pengibaran Bendera, dapat dipastikan bagaimana kondisi masyarakat menghadapi kabar tersebut.

“Jadi tidak perlu geger soal kabar ‘terpapar’ radikal, dengan ini (Upacara 17 Agustus) semua akan dikenali. Saya yakin andai seluruh masjid di Indonesia menggelar hal yang sama, hasilnya, pertama, tidak akan ada pintu masuk bagi paham radikal. Kedua, generasi muda akan tersambung memorinya dengan para pejuang kemerdekaan,” jelasnya.

Peserta upacara dari kalangan ibu-ibu.

Bertindak sebagai inspektur upacara (Irup) Purnawirawan TNI Angkatan Laut (AL), Waluyo. Meski tampil dadakan, lantara petugas (irup) dari Desa tidak datang, prosesi berjalan hikmat, amanat yang disampaikan cukup menggetarkan jamaah.

“Adalah tugas kita sebagai bangsa untuk terus menjaga NKRI, menjaga dasar negara, menjaga konsensus nasional demi kemerdekaan bersama. Yang dilakukan jamaah masjid Al-Ikhlas ini (upacara red), merupakan bentuk konkret kepedulian terhadap kelangsungan bernegara. Apalagi sebelumnya ada doa tahlil untuk para pejuang kemerdekaan. Semangat ini harus dirawat sampai akhir hayat,” jelas Waluyo dalam amanatnya.

Paduan suara yang sudah terlatih setiap tahunnya,

Ketua RW 10, Suhardiman, juga memberikan apresiasi yang sama. Menurutnya, kegiatan ini sangat positif untuk membangkitkan semangat juang dalam mengisi kemerdekaan. “Ini sekaligus pelajaran penting bagi generasi penerus, agar mereka tidak lepas dari cita-cita para leluhur, pendiri negeri ini. Apalagi hari ini, kita tengah dihadapkan dengan perang global,” tegas Suhardiman.

Ketua RW 10 Suhardiman dan staf (Solihan) saat diwawancara Sidoarjo TV.

Hal yang sama disampaikan Abdul Wahid, Ketua Takmir Masjid Al-Ikhlas. Menurutnya, kegiatan upacara bendera ini akan terus ditingkatkan sebagai pengingat pentingnya kita mensyukuri nikmat kemerdekaan.

Tampak Pak Tar, panggilan akrabnya (tengah atas) anggota TNI AL yang rajin melatih para petugas upacara bendera.

“Kelemahan bangsa ini terlalu cepat melupakan jasa-jasa pahlawannya. Apalagi hari ini anak-anak kita sedang menghadapi globalisasi, modernisasi dan digitalisasi. Kalau sampai anak-anak kita terputus dengan semangat juang para syuhada, maka, dampaknya bukan saja mereka tidak hafal Pancasila, tetapi, lebih parah lagi tidak peduli dengan dasar negara Republik Indonesia. Di saat seperti itu, paham-paham ekstrem dan radikal akan mendekte mereka. Itulah pentingnya, kita istiqomah dalam memagari cita-cita luhur bangsa ini,” tegasnya. (nzm)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry