
JOMBANG | duta.co – Di tengah derasnya arus modernitas dan kemajuan teknologi, Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kecamatan Peterongan kembali menegaskan pentingnya peran akal dan pengendalian hawa nafsu dalam menjaga keimanan. Pesan itu disampaikan dalam pengajian rutin di Masjid Mancar, Peterongan, yang dihadiri ratusan jamaah dari berbagai kalangan, Senin (28/10/25).
Dalam suasana khusyuk dan penuh keakraban, Gus Ainur Rifqi mengajak jamaah merenungi hakikat akal sebagai karunia terbesar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Menurutnya, akal bukan sekadar alat berpikir, tetapi sarana untuk mengenal kebenaran dan menuntun manusia menuju ketaatan kepada Sang Pencipta.
“Orang yang menaati perintah Allah itulah yang disebut ‘Aqil’ atau berakal. Sebaliknya, orang yang durhaka kepada Allah, meskipun diberi akal, disebut ‘Jahil’ atau bodoh,” tegasnya di hadapan jamaah.
Gus Ainur menyoroti fenomena zaman sekarang, ketika kecerdasan manusia lebih banyak diukur dari kemampuan akademik, logika, dan keberhasilan material. Padahal, kata dia, kecerdasan sejati adalah kemampuan mengendalikan hawa nafsu yang bisa menjerumuskan manusia pada kesesatan.
“Cerdas itu bukan soal nilai akademik, tetapi tentang siapa yang bisa menundukkan hawa nafsunya,” lanjutnya.
Menurutnya, banyak orang cerdas secara intelektual justru gagal secara moral dan spiritual karena tidak mampu menaklukkan keinginan diri. “Nafsu itu seperti api yang jika tidak dikendalikan akan membakar seluruh amal. Maka, gunakan akal sebagai kendali dan iman sebagai arah,” tambahnya.
Lebih jauh, Gus Ainur Rifqi menegaskan bahwa akal tanpa iman hanya akan melahirkan kesombongan, sedangkan iman tanpa akal berpotensi menjadi fanatisme buta. Keduanya harus berjalan beriringan agar manusia mampu memahami kehendak Allah dengan kesadaran yang jernih.
“Orang beriman tapi tidak mau berpikir, mudah ditipu oleh hawa nafsu. Sebaliknya, orang yang pintar tapi tidak beriman, akan menggunakan ilmunya untuk menentang kebenaran,” jelasnya, dikutip dari PCNUJombang.
Pesan ini terasa relevan di tengah realitas sosial hari ini. Banyak kalangan muda terjebak pada pencarian popularitas digital, mengejar validasi sosial, dan mengabaikan keseimbangan rohani. Di sinilah LDNU Peterongan berperan aktif membangun kesadaran spiritual yang berakar pada tradisi keilmuan dan keteladanan ulama.
Melalui pengajian rutin seperti ini, LDNU Peterongan terus berupaya menghadirkan dakwah yang tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga reflektif. Dakwah yang mengajak umat memahami makna hidup secara utuh: berpikir dengan akal, beriman dengan hati, dan bertindak dengan kesadaran.
“Akal adalah cahaya, iman adalah arah. Bila keduanya menyatu, hidup akan dipandu menuju ridha Allah,” tutup Gus Ainur Rifqi. (din/pcnu)





































