Gubernur DKI Anies Baswedan tengah menghadapi isu baru soal kata pribumi. (FT/BRILIONET)
Pribumi di sini baik-baik. Belanda yang sudah menjajah ratusan tahun saja, tidak ada rasa dendam tuh, masih bebas touring di Nusantara ini. Sejak kapan tamu bisa komplain, saat ada seorang ayah yang memberikan semangat kebangkitan bagi anak-anaknya?

Oleh Irene Radjiman*

SAYA Irene Radjiman, Irene adalah nama baptis saya, Radjiman adalah nama ayah saya. Dari kecil hingga sebelum menikah, saya dididik secara Katolik oleh ayah saya. Padahal ibu saya seorang muslimah. Setiap minggu, ayah saya selalu menyuruh saya untuk sekolah minggu, ibu saya tidak pernah komplain, karena kepemimpinan ada di tangan ayah saya.

Saat rumah kami dipenuhi ornamen tanda salib, gambar Yesus, patung Bunda Maria. Ibu saya juga tidak pernah teriak:”Bhineka Tunggal Ika…!!! NKRI harga mati….!!!! Karena ibu saya tahu diri, di dalam rumah itu, beliau adalah minoritas.

Saat pertama kali muncul seorang mualaf di keluarga kami, yaitu kakak pertama saya, kakak saya juga tidak pernah meminta didirikan mushala di rumah kami, padahal rumah kami sangat besar dan lebih dari cukup kalau hanya untuk membangun mushala. Ditambah secara finansial kakak saya yang mualaf sangat-sangat makmur dibanding yang lainnya, namun tidak dia gunakan hartanya untuk suatu tindakan yang ‘tidak tahu diri’.

Saat saya (akhirnya) menyusul menjadi mualaf dan tidak diperbolehkan melangsungkan pernikahan di rumah ayah, saya juga tidak komplain, karena saya ‘tahu diri’.

Apakah yang dilakukan alm. ibu saya, kakak saya & saya sendiri, apakah karena kami takut pada ayah? Bukaaaannnn, kami menurut dan diam karena yang dilakukan ayah saya bukan hal yang prinsip.

Ayah saya hanya menyuruh saya sekolah minggu, bukan melarang ibu saya shalat. Ayah saya hanya tidak bersedia saya menikah di rumahnya, bukan tidak memperbolehkan saya memilih keyakinan saya sendiri.

Saat saya dilarang memakai hijab di rumah ayah saya, saya lepas hijab saya saat bersama ayah. Tapi saat saya keluar untuk menemui tamu, saya pakai kembali. Saat ayah saya marah, saya katakan: “Ayah, ini adalah pakaian saya sekarang, ayah tidak bisa larang, ini kewajiban saya memakainya”. Ayah saya bisa mengerti.

Inilah Islam. Agama yang sangat sempurna dan jelas mengatur, kapan harus diam untuk ‘tahu diri’ dan kapan harus ‘tetap pada hak kita’. Ini adalah ‘lakum dinukum waliyadin’.

Tetangga kami 90% pribumi muslim, mereka selalu ada saat kami susah, mereka selalu bersedia membantu saat ayah saya punya hajat, mereka bersedia silaturahmi di hari natal walau bibir mereka tidak mengucapkan ‘Selamat natal’. namun kedatangan mereka membuktikan bahwa mereka menganggap kami ada, dan kami juga bagian dari mereka.

Bahkan mushala di tempat kami sering dijadikan ‘meeting room’ oleh warga, ayah saya juga hadir. Ayah juga tidak pernah komplain, ataupun teriak : “Kenapa perkumpulan warga harus di mushala, ini kan negara Pancasila yang ber-bhineka tunggal ika…!!!”

Itu artinya ayah saya juga ‘tahu diri’ bahwa beliau adalah minoritas di lingkungannya. Walaupun beliau adalah tuan tanah, tidak menjadikan beliau pongah merasa berhak komplain sembarangan, membabi buta.

Sekarang kenapa harus jadi masalah kata-kata ‘Pribumi’ dalam pidato Anies Baswedan? Apa yang salah? Bukankah pidato beliau bagus, menyemangati pribumi, sebagai pemilik sah negeri ini yang seharusnya menjadi tuan rumah di rumah mereka sendiri. Menjadi warga negara kelas 1, bukan warga negara kelas 3..!!! Apa yang salah?

Bila anda merasa pribumi, bangkitlah…!!! Bantu bahu membahu bersama saudara-saudara pribumi. Bila anda merasa bukan pribumi, artinya anda adalah tamu ‘anda tidak berhak komplain apapun…!!! Ini bukan rumah anda…!!!’

Pribumi di sini baik-baik. Belanda yang sudah menjajah ratusan tahun saja, tidak ada rasa dendam tuh, masih bebas touring di Nusantara ini. Sejak kapan tamu bisa komplain, saat ada seorang ayah yang memberikan semangat kebangkitan bagi anak-anaknya?

Sudah bertamu, merampok, tuan rumahnya dilaporkan, eehhh tuan rumahnya malah dikasih tausyiah lagi sama perampoknya. Jadilah tamu yang tahu diri. (*)

*Tulisan ini beredar di media dan sosial, demi kebersamaan layak direnungkan isinya.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.