By Isfandiari MD

KEKASIH Allah atau wali  ada diantara kita. Kadang  seolah gelandangan, orang gila, teronggok di sudut pasar. Tampilan kakek tua, tak banyak bicara dikisahkan punya karomah luarbiasa. Atau terpantau di zona sepi, hutan, gua, padang rumput terhampar beratap langit. Beliau mencari keheningan menuntaskan hasrat spiritual bercekrama lekat dengan sang Pencipta. Mereka ada, jadi ‘paku’ jaga harmoni alam agar berjalan sesuai  relnya.

Gambaran benar tapi sering salah tafsir. Sejatinya tak murni begitu. Jika ada hasrat ingin menonjol di radar Tuhan, inti dikejar bukan hanya lelaku ekstrem dalam giat demikian. Tak harus jalani gaya hidup bak pertapa, menjadai berbeda diantara kerumunan dan ikhiar jadi misterius dalam olah rasa  pencapaian. Semua orang dibukakan pintu lebar menjadi wali dan punya cita-cita menjadi usefull dalam pergaulan antarmanusia. Modal awal pembersihan jiwa (tazkiyatul nafs) dalam dunia tasawuf. Proses pembersihan ini tak menyasar dapatkan karomah, kesaktian atau geliat luarbiasa, ajaib dalam kacamata orang awam. Inti dunia wali adalah  maqam atau kedudukan spiritual tinggi dalam proses ibadah.

Sejalan yang diwartakan ulama sufi klasik semisal Imam Al-Djunaid asal Bagdad atau Syaikh Abu Thalib dari Mekah, termaktub dalam kitab Qut al-Qulub. Dari pijakan itu semua orang punya kans menuju ke sana.  Bebuka ikhtiar tentu dalam skala prioritas. Awanya mendahulukan dan menyempurnakan yang wajib (fardhu) untuk kemudian maksimal dalam sunah seperti ibadah tahajud dhuha, menjaga wudhu diberikan ketajaman mata hati (bashirah). Insya Allah datang kepekaan melihat dunia bukan ‘rasa’ nafsu tapi murni kebenaran hakiki. Jadi wali bukan diniatkan menyiksa diri. Proses mengurangi makan, tidur, sedikit bicara atau menyendiri semata-mata ikhtiar pembersihan jiwa longgarkan hati yang tersumbat. Jika sukses, insan itu akan ada dalam kondisi muraqabah dan mahabbah. Selalu jaga perasaan karena diawasi Allah dan rasa cinta mendalah dan kerinduan. Semua polah tingkahnya di dunia atasdasar cinta, kasmaran pada Allah. Eksesnya luar biasa, seluruh jenis ibadah bukan karena takut neraka atau rindu iming-iming surga tapi semata mengambil hati Tuhan, merasakah romantisme kedekatan dengan sang maha Sempurna.

Tata laku dalam  keseharian bakal terasa. Ia bukan lagi orang misterius yang menyendiri dalam gelap atau hening. Sosialisasi dengan sasama mahluk jadi indikatornya. Menjadi sangat dermawan (khidmah) lalu selalu dahulukan kepentingan orang lain di atas hajat pribadi. Dalam kitab Futuwwah karya Syaikh Abd-Al Qadir al Jilani disebut, tipe mereka ini sudah minus iri dengki dan tanpa dendam. Memandang mahluk dalam kasih sayang, selalu berpikir meringankan beban mahluk Allah lainnya. Sangat istiqamah, konsisten menjada semua itu. Tak ada terpikir mendapatkan karamah yang didengung-dengungkan banyak orang sebagai tanda kesaktian sampai pada hal diluar nalar manusia. Jikalau dapat, hanyalah bonus dan wujud perhatian Allah untuk meringkankan perjuangan dalam ibadah dan syiar.

Jadi begitulah, orang awam yang setuju lelaku sosial baik dan diperjuangkan semampunya, ia punya kans jadi wali. Selalu kangen, rindu pada Allah, ingin sekalu dekat lewat cara berikan kasih sayang pada ciptannya, pintu kewalian bisa terbuka. Berjuang keras meminimalisir rasa benci, dendam, lancung, aniaya, pertebal benteng spriritual di atas materi, ia sedang berjalan menuju maqam wali. Sebaliknya, insan yang kelihatan alim, pendakwah, ustad ajengan tapi sombong atas ilmunya. Enteng cacimaki merasa paling benar, selalu marah-marah dan ngotot akan reward and punisment (surga-neraka) dalam ibadah. Atau bertingkah lebay , ja’im agar terlihat mulia sebagai orang alim, sepertinya bakal sulit menggapai maqam orang yang masuk radar sebagai kekasih-Nya.

Wali bisa hadir dalam berbagai casing. Ulama, pejabat, orang kebanyakan, pelajar, politisi, olahragawan, seniman dan seterusnya. Sebuah derajat yang layak diperjuangkan dalam durasi hidup pendek secara dzohir.

Selamat berjuang!

 

 

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry