SIMULASI PTM - Proses simulasi pembelajaran secara tatap muka di kelas, Rabu (12/8/2020) di SMKN 6 Surabaya sebagai pilot project dibukanya kembali sekolah di era new normal. DUTA/Wiwiek Wulandari

SURABAYA l duta.co – Pembelajaran tatap muka (PTM) akan dimulai 18 Agustus mendatang.

Sekolah-sekolah yang ditunjuk untuk menggelar PTM ini mulai melakukan simulasi dengan protokol kesehatan yang sangat ketat.

Salah satunya yang melakukan simulasi adalah SMKN 6 Surabaya, Rabu (12/8/2020).

Di sekolah ini, protokol kesehatan diterapkan sedemikian rupa. Mulai dari petunjuk arah masuk dan keluar,  pengecekan suhu, physical distancing hingga cuci tangan sebelum masuk kelas, dilakukan dengan tertib oleh para siswa.

Kepala SMKN 6 Surabaya, Bahrun mengatakan simulasi tersebut digelar untuk mengetahui kesiapan dan kekurangan pihak sekolah dalam penyelenggaraan PTM.

Sebab,  penerapan protokol kesehatan tidak hanya dilakukan di lingkungan sekolah,  melainkan juga saat siswa berangkat dari rumah. Pihaknya juga menyediakan 9 thermo gun dan 30 lebih wastafel di sudut sekolah.

“Dari evaluasi di hari pertama kemarin kita masih melihat adanya penumpukan saat pulang. Karena ada yang dijrmput dan bawa motor sendiri. Ini akan kita evaluasi. Afgar tetap tertib dan menjaga jarak,” ujarnya.

Evaluasi lain,  kata dia,  yakni penempatan wastafel, dan tingkat kesadaran siswa untuk menjaga jarak masih minim.  “Memang ini kebiasaan baru. Karena masih belum terbiasa,  jadi guru-guru juga sering mengingatkan untuk tetap menjaga jarak,” imbuh dia.

Dikatakan Bahrun,  dengan waktu simulasi selama empat hari ini,  pihaknya akan membuat pola yang berbeda setiap harinya. Hal ini didasarkan dari evaluasi yang dilakukan setiap harinya.  Selain itu untuk mencari formulas agar kesehatan siswa dan guru juga tetap terjamin.

“Jadi memang untuk protokol kesehatannya kita buat ketat. Meskipun simulasi siswa yang datang juga harus bawa surat pernyataan sehat dari orang tua tidak perlu ke rmah sakit dan puskesmas. Begitupun jika orang tua tidak berkenan anaknya masuk,  ya kita ikutkan belajar daring,” jabarnya.

Dalam PTM nanti,  Bahrun menjelaskan jika materi yang disampaikan akan berfokus pada teori dan pembelajaran adaptif-normatif. Pasalnya,  pembelajaran tatap muka maksimal hanya tiga jam pelajaran.

“Ada pemampatan kompetensi dasar (KD) materi yang akan disampaikan. Kita sudah koordinasi dengan guru mapel (mata pelajaran) karena waktunya hanya 4 jam,  maka ini tugasnya guru-guru untuk berkreasi dengan materi dan waktu yang diberikan terbatas,” tambah dia.

Namun,  untuk pembelajaran materi produktif atau kejuruan,  pihaknya akan menggunakan metode center of teacher.  Di mana, ketika praktikum guru yang akan mempraktikkan dan siswa menganalisanya.

“Untuk metode itu akan diterpkan di jurusan-jurusan yang  praktekkan mandiri seperti kecantikan. Tapi untuk praktik yang dilakukan secara kelompok ini beda lagi. Maka siswa yang melakukan praktik sendiri.  Jumlahnya tergantung tingkat kompleksitas praktik, minimal dua siswa. Tergantung peralatan praktiknya juga,” jelasnya.

Sementara untuk sesi pembelajaran,  pihaknya masih akan membahas tersebut usai mengadakan evaluasi di hari terakhir.

Jika memungkinkan, pihaknya akan membuat 2 sesi dalam sehari untuk 2.412 siswa dengan 76 ruang kelas yang disiapkan. Karena Surabaya berada di zona merah,  maka hanya diperkenankan mengisi setiap kelasnya sebesar 25 persen.

“Sisanya nanti daring. Jadi siswa yang datang di hari Senin tidak akan  lagi ikut di hari berikutnya. Ini akan bergiliran.

Paling tidak seminggu mereka akan melakukan tatap muka sekali. Setiap hari nanti guru-guru yang mengajar juga berbeda-beda. Kita juga akan melakukan sterilisasi ruangan jika memang memungkinkan penggunaan dua sesi,” terang dia.

Selain persiapan teknis, pihak sekolah juga menyiapkan tim penegak disiplin dari tim gugus tugas Covid-19 sekolah yang berasal dari OSIS.

Setidaknya ada 36 siswa yang terlibat dalam tim penegak disiplin ini. Tim tersebut akan membantu sekolah dalam disiplin protokol kesehatan untuk siswa.

Sementara itu,  salah satu siswa kelas 11 jurusan Akuntansi, Yasmine Alissa Salsabella mengaku cukup senang dengan pembelajaran tatap muka.

Sebab ia bertemu dengan teman-temannya.  Kendati begitu ia cukup khawatir dengan keramaian, memgingat Surabaya masih berada di zonaa merah kasus Covid-19.

“Saat masuk cukup aman. Tapi saya lebih suka daring,  karena tidak ada kontak sama lain.  Dan guru tidak bekerja dua kali. Kalau tatap muka gini senang sih karena ketemu temen-temen,” ujar dia. wik

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry