SURABAYA | duta.co – Lima tahun sudah, terhitung sejak 2016, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sukses menggelar Lomba Baca Kitab Kuning (LBKK). Kegiatan ini, telah menyedot minat para santri untuk mengikutinya. Puluhan ribu santri dari ribuan pesantren, telah menjadi saksi jalannya acara ini.

Sesungguhnya, sejumlah partai politik juga melakukan hal yang sama, tetapi, bagi mereka, PKS paling konsisten dalam segala hal.

“Bukan cuma soal hadiah, sistem penilaian juri PKS sangat fair. Ini membanggakan bagi santri. Konsistensi PKS menggelar LBKK ini, menjadi perhatian mereka. Semoga LBKK bisa istiqomah,” demikian H Muhtazuddin, salah seorang pengasuh Pondok Pesantren Halamatul Quran Al-Manshuriyah Jogoroto, Jombang, Jawa Timur kepada duta.co, Kamis (21/10/21).

Banyak nama tokoh pesantren ‘terpatri’ kuat dalam kegiatan ini. Seperti nama KH Mahmud Mahfudz, LC, MH yang selama ini didapuk menjadi Ketua Panitia Nasional. Alumni PP Tebuireng, Jombang, notabene Wakil Ketua Bidang Pembangunan Keumatan dan Dakwah (BPKD) DPP PKS ini, dianggap lebih dekat dengan dunia pesantren, santri dan kiai.

Selain dia, ada juga KH Syuhada Syarkun. Nama Kiai Syuhada selalu berada di jajaran juri nasional. Pun Ketua Fraksi PKS DPR RI, Dr  Jazuli Juwaini, di mana fraksi inilah yang menginisiasi dan menjadikan LBKK sebagai progam unggulan.

Lalu, mengapa LBKK PKS bisa istiqomah? Menurut KH Mahmud Mahfudz, LBKK bukan sekedar seremoni, melainkan, bagaimana merawat keilmuan yang bersumber dari kitab kuning.

“Jadi, Fraksi PKS DPR RI dari pusat hingga daerah, ingin membangun tradisi keilmuan yang merujuk kepada para ulama yang mu’tabar dan kompeten. Kedua ingin mengokohkan cinta kepada para ulama dan santri, dan ketiga ingin meneladani para ulama dan santri. Kalau bukan santri, siapa lagi yang peduli kepada kitab kuning,” jelas Kiai Mahmud Mahfudz.

Sosok Kiai Mahmud ini, memang, ‘lekat’ dengan Kitab Kuning. Politisi santri ini, juga rajin mengkaji kitab-kitab rujukan pesantren, seperti Nashoihul Ibad, karya Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantany Al-Jaawy dan Irsyadus Sari merupakan kumpulan kitab karya Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

RUU Perlindungan Ulama

Tokoh lain, KH Syuhada Syarkun MHi. Ialah kakak kelas Kiai Mahmud di PP Tebuireng, Jombang. Kiai Syuhada selama ini ‘didaulat’ menjadi juri LBKK tingkat nasional.  Kiai Syuhada juga dikenal sebagai ulama yang ‘menjaga’ Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Jombang.

Selain itu, nama Kiai Syuhada juga tercatat sebagai pengajar di Madrasah Aliyah (MA) Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng, juga di Madrasatul Quran Tebuireng serta di  Institut Agama Islam Bani Fattah (IAIBAFA) Tambakberas, Jombang. “Beliau kakak kelas saya di Pesantren Tebuireng,” demikian Kiai Mahmud.

Sementara, Ketua Fraksi PKS DPR RI, Dr  Jazuli Juwaini, menyampaikan, bahwa, program LBKK ini sangat penting. Ini menjadi media kita untuk mencintai para ulama, santri, dan juga pesantren yang telah membawa risalah kebaikan kepada bangsa ini.

“Karenanya, LBKK ini menjadi program unggulan Fraksi PKS DPR RI, kami konsisten setiap tahun. Biasanya bersamaan dengan kegiatan milad Fraksi PKS DPR RI, juga sekaligus memeriahkan Hari Santri Nasional (HSN). Tahun ini 2021, kebetulan sekaligus mensyiarkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW,” ujar Dr Jazuli.

Menurutnya, kiprah Fraksi PKS DPR RI dalam mengayomi isu keumatan begitu jelas. Yakni melalui kontribusi nyata membangun Indonesia bersama para ulama, santri, dan juga pesantren dengan Lomba Baca Kitab Kuning, khususnya kitab Fathul Muin.

Selain itu, ia juga menegaskan bahwa tidak boleh ada penghinaan dan pelecehan kepada ulama maupun tokoh agama lain. Karenanya, Fraksi PKS mengusulkan sebuah RUU yang awalnya RUU Perlindungan Ulama, kemudian, setelah musyawarah  dengan fraksi lain berubah menjadi RUU Perlindungan Tokoh Agama. Ini konsistensi PKS yang, belakangan semakin mendapat penetrasi di hati umat. (mky)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry