Mohammad Sahril saat mempromosikan Kopi Labuhan ke Kepala Perwakilan SKK Migas Jabanusa, Anggono Mahendrawan dan Kepala Divisi Program Komunikasi dalam Struktur Organisasi SKK Migas, Heru Setiadi, Kamis (17/9/2026). DUTA/endang

MOHAMMAD  Sahril dengan fasih dan bahasa Indonesia yang lancar menjelaskan tentang Kopi Labuhan pada Kepala Perwakilan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Jabanusa, Anggono Mahendrawan dan Kepala Divisi Program Komunikasi dalam Struktur Organisasi SKK Migas, Heru Setiadi, Kamis (17/9/2026).

Saat itu Sahril mendapat kesempatan memamerkan produk hasil olahan masyarakat Desa Labuhan, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan untuk ikut pameran di ajang Lokakarya Media di Hotel Tentrem, DI  Yogyakarta.

Sahril tak sendirian, dia bersama beberapa pelaku UMKM Binaan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Minyak dan Gas (Migas) Jabanusa juga memamerkan produk unggulan masing-masing. Sahril sendiri mewakili kelompoknya yang selama ini menjadi binaan Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO).

Kopi Labuan adalah kopi olahan UMKM Desa Labuan. Kopi bukan sembarang kopi. Melainkan campuran antara biji kopi Robusta dengan biji mangrove jenis avicennia marina.

Menjadi spesial karena rasanya ternyata berbeda. Itu Sahril jelaskan pada dua pimpinan SKK Migas saat mendatangi booth pamerannya. “Di lidah lebih nendang, lebih legit. Di ujung lidah terasa lebih hangat,” katanya sambil menunjukkan kopi kemasan orange berisi 100 gram pada Anggono dan Heru.

Promosi yang dilakukan Sahril samgat yakinkan. Anggono dan Heru terus menanyakan tentang kopi itu.  Sahril sangat terlatih.  Dia memang sudah terbiasa berpromosi. Karena lebih dari 10 tahun dia dan warga di desanya menjadi binaan PHE WMO, sudah sering kali Sahril dan timnya diajak untuk ikut pameran ke berbagi daerah. Apalagi, Sahril juga pernah beberapa kali menang kompetisi Local Hero yang digelar SKK Migas.  Dia terlatih berbicara di depan forum.

Kopi Labuhan, kata Sahril dari segi rasa berbeda dengan kopi pada umumnya. “Dari segi rasa lebih nendang. Pokoknya rasanya berbeda,” katanya.

Lewat pendampingan dari PHE WMO, Sahril mengaku dia dan warga desa bisa terus berinovasi.  Mangrove tidak hanya berguna untuk menahan abrasi tapi juga bisa dimanfaatkan untuk berbagai produk olahan.

“Selama ini kami bikin sirup. Tapi lewat pelatihan yang diberikan PHW WMO dengan UTM (Universitas Trunojoyo Madura), mangrove bisa dijadikan campuran kopi. Nanti bisa untuk yang lainnya,” ujar Sahril.

“Mangrove itu jenisnya banyak dan fungsinya juga banyak. Tinggal kita berinovasi menjadikan mangrove itu bermanfaat buat kita,” tambah Sahril.

Selain promosi lewat pameran, Kopi Labuhan juga dijual di Bakaoo.id. Sahril mengaku banyak pesanan secara online maupun offline. Namun, jika ingin membelinya harus pesan sehari sebelumnya. “Kami buatkan langsung supaya sampai ke konsumen masih baru, fresh,” tandasnya.

Dan ke depan, Sahril memiliki mimpi Kopi Labuhan ini bisa terus terbang tinggi dan dikenal sebagai kopi dari Madura yang memiliki cita rasa yang berbeda dengan kopi di pasaran.

Sebagai Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Sahril mengaku banyak manfaat yang didapat dari kehadiran PHE WMO di desanya.

Wisata Mangrove di desa itu yang dibangun juga oleh PHE WMO kini menjadi jujukan wisata warga Madura. Tidak hanya itu, Desa Labuhan juga dijadikan tempat untuk belajar para siswa, guru, mahasiswa dan dosen. “Dalam sebulan,  jumlah pengunjung bisa mencapai 1.000 hingga 1.300 orang. Kalau hari libur bisa melebihi,” ungkapnya.

Mohammad Sahril dengan Kopi Labuhan produksi warga Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan. DUTA/endang

Kepala Perwakilan SKK Migas Jawa, Bali dan Nusa Tenggara (Jabanusa), Anggono Mahendrawan mengatakan kehadiran KKKS diharapkan bisa memberikan dampak yang baik untuk warga di sekitar wilayah kerja.

“Ada program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) yang harus dilakukan KKKS di lingkungan sekitar dan PPM ini berbeda dengan CSR. PPM masuk dalam biaya operasional perusahaan, kalau CSR itu dari keuntungan perusahaan,” ungkapnya.

PPM ini komitmen menjalankan empat pilar yakni bidang ekonomi,sosial, lingkungan dan tata kelola kelembagaan.

Anggono menegaskan PPM ini tidak ditentukan berapa besarnya. Hal itu disesuaikan dengan kegiatan operasi masing-masing KKKS. “Satu dengan yang lain tidak sama. Kita tidak ada ketentuan berapa persen dari biaya operasi perusahaan dikeluarkan untuk program PPM ini. Semua tergantung dan sesuai kesepakatan antara KKKS dengan SKK Migas,” kata Anggono.  *endanglismari

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry