????????????????????????????????????

“…setiap pemburu dan pemuja kekuasaan rentan dengan kecenderungan meninggalkan (mengabaikan) amanat mencintai rakyat dan lebih mengutamakan mengejar dan memenuhi “nafsu” seperti memperkaya (memuaskan) diri…”

Oleh: Abdul Wahid*

Cinta adalah ketika kebahagiaan orang lain lebih penting daripada kebahagiaan diri sendiri.” (H Jacson Brown, Jr, pengarang buku Life s Little Instruction).

MUNGKIN bagi publik, Jacson Brown itu bukan penulis yang akrab dengan kita atau, kita belum pernah mengenal sama sekali. tetapi setidaknya dari apa yang ditulisnya, kita bisa belajar tentang hidup, khususnya dalam memasuki makna atau “kesejatian” hidup sebagai individu, elemen masyarakat, dan barangkali subyek struktural (pemerintahan).

Dari yang ditulisnya tentang cinta itu, saya mencoba belajar menjawab dan meresapi pertanyaan “mengapa cinta” itu berhubungan dengan kebahagiaan orang lain daripada kebahagiaan diri sendiri?  Mengapa yang menjadi parameter utamanya justru orang lain, dan bukan diri sendiri?

Jacson Brown seolah menegaskan, bahwa tidak ada cinta di dunia ini sepanjang yang dipikirkan masih diri sendiri, sementara orang lain, sesama, atau masyarakat masih dilupakan, atau tidak perlulah bicara cinta, jika orang lain atau sesama masih dinomorduakan atau bahkan tidak masuk dalam ranah kepeduliannya.

Jacson Brown juga seolah mengajak setiap subyek sosial, ekonomi, kekuasaan, hokum, dan lainnya di muka bumi ini untuk bergiat dalam menabur dan menyuburkan rasa cinta yang bermakna “selalu” untuk orang lain dan mengikis apapun (sikap, ucapan, dan perbuatan) yang berpola mengistimewakan dan menahbiskan kepentingan diri sendiri.

Apa yang disampaikan Jacson Brown secara tidak langsung memotivasi kita untuk menumbuhkembangkan cinta secara “radikal”, bukan setengah-setengah terhadap hajat hidup orang lain. Kebahagiaan orang lain ini wajib dijadikan sebagai “proyek unggulan” jika setiap orang atau sekelompok orang dalam hidup bermasyarakat dan bernegara ini memang mendekalarasikan dirinya sebagai “pecinta”.

Saat “berselancar” di ranah filosofinya Jacson Brown itu, saya kemudian mencoba mencari titik temunya dengan sosok Mahfud MD yang belakangan ini menjadi “lakon” setelah batal digandeng menjadi cawapresnya Presiden Joko Widodo.

Di menit-menit akhir sebelum Jokowi menyampaikan ke publik, sosok Mahfud MD masih paling santer diberitakan sebagai kandidat yang akan mendampingi Jokowi di Pilpres 2019. Sayangnya, di menit akhir itu jugalah, Mahfud MD harus menerima kenyataan tidak digandeng Jokowi.

Memang “sangat manusiawi” jika realitas politik itu mengecewakan. Namun yang justru sangat istimewa (exstra ordinary), setidaknya menurut saya, pak Mahfud (sapaan akrab) menunjukkan sikap melebihi apa yang diidealisasikan oleh Jacson Brown.

Rimba Politik

Pak Mahfud tidak menampakkan kekecewaan. Apa yang disampaikan pak Mahfud di ILC yang disebut sebagai “acara bukak-bukak an” atau testimoni Mahfud MD,  merupakan paparan dari realitas politik dari momen ke momen supaya  publik bisa mencerna sendiri tentang sepak terjang politisi atau sipapaun yang memasuki “rimba” politik.

Dari cerita Pak Mahfud, kita mendapatkan pelajaran, bahwa namanya di “rimba” politik, ada seseorang atau sekelompok orang yang unjuk kekuatan diri dan golongan, ada yang mendisain “permainan”, dan ada pula yang  diam dan cukup “mengamini” berbagai bentuk sikap dan

“Permainan” di dunia politik itu juga tidak sedikit kita temukan ragamnya di dunia lain seperti sector perekonomian, hukum, budaya, dan lainnya. Para subyek atau pemain mencari, memburu, dan memainkan obyek yang bisa dikondisikan (dipermainkan) agar bisa mendatangkan keuntungan berlaksa dan berlapis.

Contoh kasus untuk membenarkan praktik “ketoprakan” itu tidak sulit ditemukan. Di sekeliling kita atau terkait dengan tugas, kewenangan, dan kewajiban kita, kita terkadang tidak bisa berbuat banyak saat menyaksikan para pemain “mempermainkan”  proyek-proyek pembangunan atau “memainkan” sumberdaya negara.

Kembali ke soal pak Mahfud, sikapnya setelah gagal digandeng Jokowi cukup lugas. Beliau menyatakan misalnya “itu sudah pilihan pak Jokowi, sesuai pertimbangan politik yang matang. Kita harus mengutamakan keselamatan Negara ini daripada sekedar nama Mahfud MD”.

Jacson Brown menggunakan parameter soal kebahagiaan orang lain sebagai pembuktian cinta, sementara Pak Mahfud mengajak setiap kita untuk berkorban  demi menghormati konstruksi hidup bernegara, seperti mengutamakan keselamatan Negara, dan bukan mengistimewakan kepentingan diri sendiri.

Kalimat yang disampaikan pak Mahfud itu jelas sebagai ajakan bahwa “kita harus mengutamakan keselamatan Negara ini”. Artinya pak Mahfud menempatkan sikap memilih menjadikan “Negara” ini sebagai obyek yang lebih dicintai daripada jabatan apapun, termasuk cawapres.

Hanyalah “Segmentasi” dari Konstruksi Besar Negara

Itulah yang saya maksudkan, bahwa Jacson Brown terbatas menyampaikan ajakannya yang bersifat personal atau menghadirkan “kebahagiaan orang lain”, sementara pak Mahfud mengajaknnya melalui jalur kenegaraan atau berskala makro pemerintahan, yang berimplikasi “kebahagiaan” multi sektor.

Setidaknya dari ajakan itu, semoga tafsir saya tidak salah, bahwa pak Mahfud mengingatkan setiap manusia Indonesia untuk selalu berupaya “memberikan yang terbaik” pada Negara, dan bukan “memberikan yang terbaik dan terbanyak” untuk  diri sendiri, keluarga, atau koncoisme.

Ajakan itu juga sebagai kritik terhadap setiap pemburu dan pemuja kekuasaan, bahwa sikap dan opsi oportunis dan “penasbih” di ranah kekuasaan ini rentan dengan kecenderungan meninggalkan (mengabaikan) amanat mencintai rakyat dan lebih mengutamakan mengejar dan memenuhi “nafsu” seperti memperkaya (memuaskan) diri.

Pak Mahfud telah memberikan atau menguatkan “model” relasi kekuasaan yang mengharuskan setiap diri manusia (pelaku) wajiblah tetap menjadi “khalifah” baik terhadap dirinya, organisasinya, masyarakatnya, maupun kekuasaan yang didudukinya.

Andaikan saja pak Mahfud menjadi cawapres dan terpilih menjadi Wapres, berarti apa yang diinginkan oleh Jacson Brown mestilah bisa diwujudkan, karena “kebahagiaan seseorang” ang menjadi parameter cinta, adalah bagian utama dan sangat asasi dari proyek kehidupan bernegara (berpemerintahan).

“Cawapres” di mata Pak Mahfud hanyalah “segmentasi” dari konstruksi besar Negara, sehingga setiap diantara kita yang memang akan atau mencita-citakan menduduki jabatan itu, apalagi jabatannya melebihi cawapres, maka haruslah ditempatkan tidak melebihi derajatnya negara. sehingga meski pak Mahfud atau lainnya tidak menjadi cawapres, eksistensinya sudah berada di “aras” kesejatian pengabdian sebagai negarawan. (*)

*Abdul Wahid adalah Wakil Direktur Program Pascasarjana Universitas Islam Malang dan Pengurus Pusat AP HTN/HAN

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.