
SURABAYA | duta.co – Kompetisi sepakbola putri sudah dus tahun terakhir bergulir. Mulai usia 10 tahun, 12 tahun, 15 tahun hingga 18 tahun.
Surabaya sudah terjun di kompetisi ini, baik di tingkat regional hingga ajang nasional. Terutama event yang digagas Djarum Foundation.
Legenda sepak bola Persebaya, Coach Jackson F. Tiago, angkat bicara mengenai potensi luar biasa yang dimiliki Kota Surabaya dalam pengembangan sepak bola putri.
Namun ia menekankan tantangan terbesar saat ini adalah masalah penyebaran informasi dan pembangunan ekosistem dari tingkat akar rumput (grassroots).
Coach Jackson mengakui bahwa gaung sepak bola putri di Surabaya masih belum merata ke semua kalangan. Ia bahkan merefleksikan pengalamannya sendiri yang baru mengetahui adanya tim sepak bola putri Surabaya setelah terjun langsung dalam ajang MilkLife Soccer Challenge (MLSC).
“Rumah saya di Surabaya, tapi aku baru tahu ada tim sepak bola putri Surabaya begitu saya terjun di MLSC. Itu berarti berita kita masih belum menjangkau semua kalangan yang ada di sana,” ungkap Coach Jackson.
Padahal dari segi potensi, ia meyakini Surabaya memiliki modal yang sangat besar. Keberadaan basis suporter wanita Persebaya yang dikenal sebagai ‘Bonita’ menjadi bukti nyata bahwa animo perempuan Surabaya terhadap sepak bola sangatlah tinggi.
Dikatakannya, Surabaya tidak harus membebankan tanggung jawab penuh pada klub profesional seperti Persebaya untuk sepak bola pitri. Coach Jackson justru mendorong hidupnya ekosistem sekolah dan Sekolah Sepak Bola (SSB).
“Menurut saya, yang harus ada adalah apa? SSB sebanyak mungkin di Surabaya untuk menjadi wadah untuk putri-putri kita berlatih. Tidak perlu Persebaya saja. Karena bagaimanapun, MLSC itu bukan klub, tapi sekolah. Alangkah baiknya kalau lingkungan sepak bola putri di Surabaya kita hidupkan,” jelasnya.
Bocoran Rumus Talent Scouting Srikandi Cup
Sebagai tim talent scout di ajang Hydroplus Soccer League All-Stars 2025/2026, Coach Jackson juga membeberkan bagaimana cara ia memantau bakat-bakat muda dari Jawa Timur (Surabaya dan Malang) untuk diproyeksikan ke ajang Srikandi Cup.
Ia menegaskan proses pemilihan tidak dilakukan secara subjektif, melainkan menggunakan rumus khusus yang diindikasikan oleh Coach Take. Terdapat 7 poin utama yang menjadi patokan penilaian yakni komunikasi, aspek kompetitif, mental, fisik, teknik, football Intelligence (kecerdasan bermain) dan karakter tim.
Ketika ditanya mengenai apakah ada pemain dari kelompok umur U-15 dan U-18 asal Surabaya dan Malang yang masuk kriterianya, pelatih asal Brasil ini memastikan bahwa bakat-bakat tersebut ada, terutama dari tim-tim yang berhasil lolos ke fase grup.
“Pasti ada. Dari Malang ada beberapa, dari U-18 ada, dari U-15 juga ada. Hampir semua peserta ada nama-nama yang menarik, terutama yang lolos fase grup. Di momen itu mereka menunjukkan aspek kompetitif sesama pemain,” pungkasnya. ril/lis





































