H Choirul Anam (Cak Anam) FT/IST

“Ketika PWNU Jatim masih berkantor di Jl Raya Darmo 96 Surabaya, Habib Salim Segaf Aljufri pernah diundang hadir sebagai Tutor Penataran Guru Madrasah Aliyah LP Maarf se-Jatim.”

Oleh: Choirul Anam*

SELAIN tergantung parpol induk, dan parpol pun terikat oleh pemodal, maka politisi yang bercokol sebagai elite NU dan Ansor zaman now, pasti akan meneruskan arah kebijakan dan sikap turunannya pada ormas yang dikooptasinya. Sehingga, akan sangat mudah membedakan mana orang NU dan Ansor masa kini dengan  NU dan Ansor tempo dulu.

Ibarat manusia, NU dan Ansor zaman dulu tampil sebagai personifikasi umat nahdliyin dan rakyat pada umumnya, yang terdiri dari berbagai latar-belakang profesi, misalnya, guru, dokter, pengacara, tentara, pedagang, tukang kayu/batu, petani, nelayan dan buruh. Sehingga, jika ada kebijakan pemerintah yang merugikan buruh, misalnya, seperti lahirnya UU Omnibus law. NU dan Ansor tempo dulu langsung tampil dengan tegas, tegar dan terpercaya melakukan pembelaan terhadap nasib kaum pekerja atau buruh.

Berbeda jauh dengan NU dan Ansor masa kini. Meski tahu dan paham bahwa UU Omnibus law akan membuat rakyat menjadi budak di negeri sendiri, dan memberikan kemudahan investor asing dan aseng untuk menyedot kekayaan alam Indonesia sepuas-puasnya, institusi perjuangan yang didirikan para kiai ini, masih harus berpikir seribu kali untuk melakukan tindakan.

Harus pula melihat sikap induk partai dan petunjuk juragan alias cukong, sampai kemudian tidak berbuat apa-apa, atau pura-pura berbuat (dengan menyuruh bawahannya) agar tetap sesuai skenario pemodal.

Arah kebijakan, orientasi dan sikap pengurus NU dan Ansor zaman now semacam itu,  terrekam dalam jejak digitalnya yang bertebaran di media sosial atau media online, juga media cetak dan elektronik. Dan jejak digital itu sulit dihapus, kecuali dibantah sebagai hak jawab. Karena tak pernah ada bantahan, maka menjadi benar adanya.

Salah satu contoh keanehan GP Ansor masa kini, misalnya. Baru-baru ini nahdliyin dikejutkan dengan tampilan seorang anggota BANSER bernama Abu Janda. Dengan mengenakan seragam loreng BANSER, ia ceplas-ceplos kanan-kiri menghujat dan mengutuk Islam radikal, terutama khilafah HTI, sampai kemudian menyatakan: teroris punya agama, dan agamanya adalah Islam.

Nah, jadi, teror-teror yang melanda dunia, yang dilakukan sekelompok teroris bersenjata itu agamanya Islam. Apalagi kemudian dikaitkan dengan ISIS dan khilafah HTI, semakin bertambah berat lagi stigma Islam sebagai agama teroris. Tapi karena masyarakat sudah tahu Banser Abu Janda kebal hukum, terlindungi kekuasaan, dan kekuasaan terkendali oleh taipan, maka nahdliyin dan umat Islam pada umumnya hanya bisa mengelus dada, perih hatinya.

Untungnya, dunia internasional tidak gampang percaya teroris itu Islam, atau Islam agama teroris. Bahkan jurnalis Australia, John Pilger, setelah melakukan kajian mendalam peristiwa teror di dunia menyimpulkan: pada hakikatnya tidak ada perang melawan terorisme dan radikalisme. Yang ada justru perang menggunakan alasan terorisme dan radikalisme. “Dan korban terbesarnya adalah umat Islam,” tulis Pilger pada meme yang viral di medsos.

Lebih dalam lagi adalah pengalaman Ramzi—nama samaran jurnalis muslim Perancis—yang berhasil menyusup dan membaur ke dalam jaringan teror bawah tanah ISIS, selama enam bulan lamanya. Ramzi menyatakan “tidak menemukan Islam selama berbaur bersama teroris ISIS.” Bahkan sekelompok teroris ISIS yang menamakan diri “Tentara Allah”, sama sekali tidak tahu dan tidak mengerti apa itu Islam.

Ramzi menegaskan, teroris yang menamakan diri “Khilafah ISIS” itu, ternyata “bentukan Yahudi Israel untuk merusak Islam”. Hasil penyusupan Ramzi selama musim panas 2015 hingga Januari 2016 dengan menggunakan rekaman kamera tersembunyi, sempat diberitakan The Independent, pada Selasa, 3 Mei 2020. Dan ditayangkan di beberapa stasiun televsi dunia—sebagaimana disiarkan CNN Indonesia, baru-baru ini.

Akhirnya, nahdliyin dan umat Islam pada umumnya hanya bisa bergumam: “Orang luar saja tidak mengakui teroris agamanya Islam”. Bahkan slagan “perang melawan radikalisme dan terorisme” hakekatnya tidak ada. Dan slogan itu justru dijadikan alasan untuk memerangi umat Islam, dan terbukti korban terbesar menimpa umat Islam. “Lha kok bisa-bisanya Banser Abu Janda mengatakan teroris agamanya Islam,” kata jama’ah tahlil usai berdzikir.

Bukan hanya GP Ansor dan Banser Abu Janda saja yang mengutuk radikalisme dan terorisme. PBNU Kiai SAS (Said Aqil Siraj) juga melakukan hal yang sama. Menjelang Pilpres 2019 lalu, mengumandangkan “perang” melawan “Islam radikal” atau “Islam garis keras”.

Alasannya? PBNU ashabul qoror yang menjagokan Jokma (Jokowi-Ma’ruf Amin) membangun narasi: “Pilpres bukan sekedar memilih presiden dan wakil presiden. Tapi lebih dari itu, merupakan pertarungan “Islam garis lunak” (maksudnya NU) melawan “Islam garis keras” (yang dmaksud: FPI, HTI, PAN dan PKS) yang mendukung pasangan Probowo-Sandi.

Dan NU, kata Kiai SAS, tidak boleh membiarkan pemerintahan dikuasai “Islam garis keras”, berbahaya! Artinya, Jokma harus memang dengan segala apa pun caranya. Penegasan ini langsung direspon Ketua NU Jawa Timur, KH. Marzuki Mustamar, dengan mengidentifikasi kelompok “Islam radikal”, “Islam garis keras” tertuju pada FPI, HTI, PAN dan PKS. Keempat kelompok “Islam radikal” itu, menurut Kiai Marzuki Mustamar, harus dijauhi oleh nahdliyin—untuk tidak menyebut “dilenyapkan”.

Saya mengira sikap “permusuhan” itu, hanya berlaku saat musim Pilpres 2019 saja. Sehingga, bisa dipahami untuk memenangkan Jokama jagoannya. Eh…ternyata tidak. Sampai hari ini pun, kiai yang suka tampil bermantelkan PKB itu, masih tak henti-hentinya meminta warga NU untuk menjauhi empat kelompok Islam yang dia anggap “radikal” dan “garis keras”.

“Siapapun nahdliyin yang berhubungan, apalagi bergabung dengan FPI, HTI, PAN dan PKS, bukan hanya kadar ke-NU—an nya saja yang dipertanyakan atau diragukan. Tapi bai’at NU-nya dinyatakan lepas,” tegasnya melalui video pendek yang viral di medsos, belum lama ini.

Pernyataan Marzuki Mustamar sempat meresahkan warga NU Jawa Timur. Bahkan banyak kiai yang mempertanyakan: “Marzuki itu mulai kapan aktif di NU. Kok seperti orang yang ora ngerumangsani ning rumongso biso”—tidak tahu diri bahwa dirinya itu t[dak tahu apa-apa,” kata beberapa kiai sepuh NU di Jawa Timur.

Memang, tuduhan Marzuki itu, bisa dikategorikan fitnah dan dosa. Cobalah tengok PKS! Menurut Marzuki Mustamar, PKS termasuk kelompok “Isam radikal” atau “Islam garis keras” yang wajib dijauhi warga NU.

Bahkan berhubungan silaturrahim biasa saja, dianggap batal bai’at NU-nya. Padahal, pimpinan tertinggi PKS (Ketua Majelis Syura), adalah Habib Dr, Salim Segaf Aljufri MA., yang baru saja kemarin terpilih kembali sebagai Ketua Majelis Syura PKS, adalah seorang habib yang sangat dihormati di kalangan nahdliyin—terutama di kalangan kiai NU di Jawa Timur.

Bahkan ketika PWNU Jatim masih berkantor di Jl. Raya Darmo 96 Surabaya, Habib Salim Segaf Aljufri pernah diundang hadir sebagai Tutor Penataran Guru Madrasah Aliyah LP Maarf se-Jatim, di kantor PWNU lama itu. Maklum waktu itu, Marzuki Mustamar, mungkin belum jadi NU. Dan lagi, banyak kiai NU yang mengikuti Habib Salim Segaf ketika menghadiri aqad nikah keluarganya di Tuban, banyak pula habaib yang hadir waktu itu. Tetapi, saat  doa maulid simthut duror, justru Habib Salim Segaf Aljufri yang diminta bacakan do’a. “Habib Salim itu dari dulu NU. Kalau Marzuki baru kemarin jadi NU,” kata seorang kiai NU yang sering mengikuti pertemuan dengan Habib Salim.

Mungkin yang dimaksud Marzuki bukan Habib Salim Segaf, tapi pimpinan PKS lainnya. Siapa, hayo? Ketua Dewan Syariah Pusat PKS, Dr KH Surahman Hidayat, Lc.MA, juga NU. Presiden PKS, H Ahmad Syaikhu, juga NU alumni pesantren Buntet, Cirebon. Jadi, jangan sembarangan menuduh. Selain menjadikan fitnah, juga berpotensi mendatangkan dosa.

Itulah bedanya NU dan Ansor masa lalu dengan masa kini. Selain menggerus banyak tradisi shalih, juga semangat silaturrahim antara yonior dan senior melemah, bahkan nyaris putus. Sehingga, arah kebijakan dan sikap organisasi, selain tergantung petunjuk politisi, juga memotong dan bahkan buta sejarah perjuangan masa lalu. Terkait isu aktual  bangkitnya neo-PKI misalnya, NU dan Ansor zaman now juga belum sepenuhnya bercermin pada sejarahnya sendiri (bersambung).

Choirul Anam*, adalah Pendiri dan Penasehat PPKN (Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyah). Pembina GERAK (Gerakan Rakyat Anti Komunis) Jawa Timur.

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry