Dr Soebandrio Waperdam Kabinet Dwikora (Keterangan foto historia.id)

“Setelah saya jelaskan panjang lebar, para senior bisa memahami, tetapi tetap kukuh memberikan catatan peringatan: “Hati-hati, kader dan anak keturunan PKI itu cerdik dan licik serta menghalalkan segala cara.””

Oleh: Choirul Anam*

NU DAN ANSOR  zaman now, memang jauh berbeda dengan zaman dulu. Setidaknya pada dekade 80-an, zaman awal-awal Gus Dur memimpin NU, yang saya mengikutinya sebagai ketua LTN (Lajnah Ta’lif wan Nasyr). Saya bisa merasakan perbedaannya dengan NU saat ini—setidaknya sejak NU berada dalam kendali Kiai SAS (Said Aqil Siraj).

Juga ketika saya masuk jajaran ketua NU Jawa Timur (1996-2001), zaman Ketua PWNU-nya KH Hasyim Muzadi, saya bisa membedakan secara prinsip dengan NU saat sekarang ini, terutama sejak NU Jawa Timur dipimpin KH Marzuki Mustamar. NU seolah tampil berwajah eksklusif terhadap kelompok atau ormas Islam lain. Bahkan cenderung menganggap kelompok lain sebagai “musuh”—setidaknya memberikan label “Islam radikal” atau “Islam garis keras”.

Ketika saya diminta menjadi ketua Departemen Penerangan PW GP Ansor Jawa Timur, zaman ketuanya al-maghfurlah Anwar Idris (1975), lalu menjadi orang kedua (1985) setelah ketua PW Ansor Allah yarham Imron Rofi’i, sampai kemudian memimpin PW GP Ansor Jawa Timur (1990-1999), saya merasakan begitu jauh perbedaan dan perubahannya dengan GP Ansor dan Banser zaman now.

Perbedaan dan perubahan itu, setidaknya tarasa dalam hal hubungan silaturrahim antara junior dan senior. Zaman saya memimpin Ansor, masih sangat kuat dan kental ikatan silaturrahim. Sehingga, ketika PW dan PC GP Ansor se-Jawa Timur memberlakukan kebijakan: menerima anak keturunan PKI menjadi pengurus Ansor, saya sempat diminta bertemu sejumlah senior pelaku sejarah benturan dengan PKI di Jawa Timur.

Setelah saya jelaskan panjang lebar, para senior bisa memahami, tetapi tetap kukuh memberikan catatan peringatan: “Hati-hati, kader dan anak keturunan PKI itu cerdik dan licik serta menghalalkan segala cara.” Saya pun bisa memahami dan menerima catatan peringatan itu, karena memang merekalah yang berjuang habis-habisan mempertahankan GP Ansor dari ancaman pembubaran Bung Karno atas desakan Ketua CC PKI DN. Aidit.

Seperti telah disinggung dalam tulisan sebelumnya, bahwa dalam suatu sidang kabinet (1964) yang dipimpin Presiden Soekarno, ada usulan dan desakan keras dari DN. Aidit untuk membubarkan GP Ansor. Desakan itu didasarkan pada peristiwa aksi sepihak BTI di karesidenan Kediri, terutama di Blitar, Kediri dan Trenggalek, yang selalu mendapat perlawan dan digagalkan GP Ansor. Namun, desakan Aidit itu ditolak dan dibantah KH. Idham Cholid, yang juga hadir dalam sidang tersebut sebagai Menko Kesra.

Tetapi tidak hanya berhenti sampai di situ. Aidit masih tetap menuntut, jika tidak dibubarkan, GP Ansor Jawa Timur harus dibekukan, karena melakukan tindakan kontra revolusi. Menghambat pelaksanaan landreform, memusuhi rakyat, memusuhi petani dan buruh tani. Usul pembekuan GP Ansor Jawa Timur itu pun ditolak mentah oleh KH. Idham Chalid.

Akhirnya, Sidang Kabinet memutuskan: Pimpinan Wilayah dan Pimpinan Cabang GP Ansor Jawa Timur dipanggil ke Jakarta untuk dihadapkan kepada BPI (Badan Pusat Intelijen) negara yang (kala itu) dipimpin Dr Soebandrio yang juga Waperdam Kabinet Dwikora.

Rombongan GP Ansor Jatim, pada pekan terakhir April 1964, berangkat ke Jakarta dengan kereta api. Dipimpin langsung ketua PW GP Ansor Jatim, H. Koen Sholehuddin dan H. Hizbullah Huda Sutrisno (Sekretaris). Dari Korda Kediri dipimpin M.Z. Kayubi, Ketua Korda sekaligus Ketua PC Ansor Blitar, didampingi H.M. Thayib Dahlan (PC Ansor Kediri), dan Mas Hamid (PC Ansor Trenggalek).

Sebelum berangkat ke Jakarta, ketiga pimpinan GP Ansor yang benturan langsung dengan aksi-aksi sepihak BTI di wlayah karesidenan Kediri itu, menyiapkan BUKU PUTIH kronologi kejadian, dan sepakat mempercayakan kepada MZ. Kayubi sebagai juru bicara dalam pertemuan dengan Kepala BPI Dr. Soebandrio.

Setiba di Jakarta, rombongan disambut Ketua Umum dan Sekjen PP GP Ansor, Yahya Ubaid, SH., dan H.A. Cholid Mawardi. Dari PBNU yang ikut mendampingi adalah KH. Yusuf Hasyim. Pertemuan dengan BPI dilakukan dua kali. Pertama, bertemu dan berdebat dengan Kepala BPI/Waperdam Dr. Soebandrio. Kedua, bertemu dan juga berdebat dengan Sekretaris BPI  Brigjen Sutarto.

Karena sudah siap dengan BUKU PUTIH yang berisi kronologi peristiwa aksi sepihak BTI yang digagalkan GP Ansor di berbagai tempat, dilengkapi data akurat mulai dari tempat kejadian, kapan terjadinya, siapa saja tokoh BTI yang terlibat, dan dalam aksi sepihak masalah pembagian hasil panen, penyerobotan tanah milik orang lain, pembabatan hutan tanpa izin dll., maka baik Dr. Soebandrio maupun Sekretaris BPI Brigjen Sutarto bisa menerima dan GP Ansor Jawa Timur tidak jadi dibekukan.

Namun, Soebandrio sempat mengingatkan, begini: “Di bidang intelijen, saudara GP Ansor masih kalah jauh dengan PKI. Orang-orang PKI tahu persis di mana saudara sekarang berada. Bahkan tahu juga di mana KH. Idham Chalid dan tokoh-tokoh NU lainnya berada. Tetapi, saudara GP Ansor dan PBNU sama sekali tidak tahu di mana DN. Aidit berada sekarang. Saudara harus mengerti hal ini…” tutur Soebandrio.

Setelah berhasil meyakinkan BPI bahwa GP Ansor Jatim berada di pihak yang benar, maka para tokoh senior GP Ansor itu segera menyusun BANSER di seluruh Jatim guna menghalau setiap aksi sepihak BTI dan kawan-kawannya. Semangat juang menghadapi PKI semakin memuncak sampai meletusnya G 30 S/PKI.

Pasca G 30 S/PKI dan ketika saya (selaku ketua PW dan juga pimpinan PC GP Ansor se-Jatim) memberi kelonggaran: merekrut anak keturunan PKI menjadi pengurus GP Ansor, maka saya langsung diminta ketemu para senior. Para senior yang sempat berdiskusi dan memberikan nasehatnya itu, antara lain: KH. Yusuf Hasyim, KH. Koen Sholehuddin, KH. Hizbullah Huda, H. Anwar Idris, H. Sulaiman Biyahimo, H. Umar Buang, H. Hamid Rusdi, dan H. Sulaiman Fadli. Para senior inilah yang, memang pelaku sejarah, berhadapan dan berkonfrontasi langsung dengan PKI beserta semua ormas orderbouw-nya.

Para senior itulah yang mengingatkan saya agar berhati-hati dengan kader dan anak keturunan PKI. Karena, menurut para senior, suatu saat mereka bisa saja menikam dari belakang. Bahkan untuk meyakinkan saya, KH. Hizbullah Huda mengajak saya menemui seorang Pati yang lagi dinas di Kodam V/Brawijaya. Saya diminta mendengarkan pengalaman beliau berdua saat berhadapan dengan gembong-gembong PKI (Choirul Anam, Gerak Langkah Pemuda Ansor, 1990. Abdul Hamid Wilis, Aku Menjadi Komandan Banser, Membela Pancasila Menumpas G 30 S/PKI, 2011).

Pengalaman ini perlu saya ungkap kembali, karena ada sisi baiknya untuk kesinambungan sejarah dan penegakan nilai-nilai dasar perjuangan GP Ansor. Setidaknya, ada kebaikan dalam hal membangun semangat silaturrahim antara yunior dan senior agar visi-misi GP Ansor tetap kuat dan tahan terhadap infiltrasi komunis dalam bentuk apapun.

Sebab, saya melihat dan mendengar sendiri beberapa pernyataan pimpinan GP Ansor zaman naw, sepertinya sama dengan apa yang dikatakan Mendikbud Nadim Makarim awal-awal dia dilantik. “Saya tidak tahu masa lalu, tapi saya punya masa depan”, katanya dengan enteng.

Dan sejak kepemimpinan GP Ansor jatuh ke tangan politisi muda zaman now, ungkapan itu justru meningkat menjadi semacam doktrin yang ditanamkan kepada anggota pemuda NU. “Ansor tidak perlu melihat masa lalu, yang kita hadapi adalah masa sekarang dan akan datang agar lebih maju,” kata Ketum PP GP Ansor dalam suatu pertemuan dengan nada tinggi.

Penegasan semacam itu memang ada baiknya utuk meniadakan lamunan. Tetapi sisi buruknya, justru lebih besar karena bisa melupakan sejarah. Padahal Bung Karno sudah mewanti-wanti Jasmerah—jangan sekali-kali melupakan sejarah. Al-Qur’an sendiri menegaskan: wal tandhur nafsun ma qoddamat li ghad—dan perhatikan sejarahmu untuk hari esokmu.

Tetapi karena Ketum GP Ansor ini, termasuk politis muda yang tajir dan banyak duit, maka persetan dengan masa lalu. Sehingga, tampilan GP Ansor dan Banser zaman naw, seolah mengalami defisit sejarah masa lalu, dan lebih enjoy dengan isu-isu bikinan pihak luar yang sulit dinalar kebenarannya. Memang mudah dipahami, bahwa kamajuan zaman dan teknologi yang begitu cepat, akan melahirkan anak zamannya sendiri. Apakah anak zaman itu masih berpegang pada nilai-nilai yang baik, atau justru larut dalam nilai-nilai baru yang lebih rusak, rupanya bagi NU dan Ansor zaman now, bukan masalah. Bahkan sering terdengar celetukan “memangnya gua pikirin”.

Situasi dan kondisi semacam itu, saya saksikan sendiri dan banyak kawan lain yang berkesan sama. Bahwa pimpinan NU dan GP Ansor sekarang ini termasuk generasi yang beruntung. Mereka kaya raya, banyak uang dan bisa membeli apa saja yang mereka mau. Dalam suksesi kepemimpinan NU dan GP Ansor, baik melalui forum konferensi maupun kongres atau muktamar, saya dan banyak kawan menyaksikan sendiri ada bagi-bagi uang yang begitu banyak.

Dalam hati kami bertanya: dari mana mereka mendapatkan uang sebegitu besar. Dan terutama dalam suksesi kepemimpinan NU di era Kiai SAS. Akhirnya, kami hanya bisa berdo’a semoga yang terpilih menjadi pimpinan bukan mereka yang banyak uang, tapi mereka yang benar-benar mengerti dan faham akan visi dan misi jam’iyah maupun organisasi yang didirikan  para ulama waratsatul ambiya’ (bersambung).

*Choirul Anam, adalah Pendiri dan Penasehat PPKN (Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyah). Pembina GERAK (Gerakan Rakyat Anti Komunis) Jawa Timur.

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry