Keterangan foto hops.id

“RRC sengaja mendiasporakan rakyatnya ke seluruh penjuru dunia. Faktor kesengajaan politik itulah, yang menyebabkan banyak pihak di dunia menyebut sebagai skenario politik luar negerinya.”

Oleh: Choirul Anam*

GURU Besar Ekonomi Universitas Indonesia (UI), Prof. Sri Edi Swasono, merasa prihatin dengan membanjirnya TKA (Tenaga Kerja Asing) asal Cina masuk Indonesia. Ia menggambarkan bagaikan invasi terhadap sebuah negara. Indonesia—sejak pemerintahan Jokowi– seolah mengabaikan gerbang dari rasa nasionalisme.  Abai terhadap ancaman dari luar.

“Kewaspadaan adalah harga dari nasoinalisme. Kita harus siap membayarnya, karena kita tidak terlalu waspada,” ujar Prof. Sri Edi seperti dikutip kantor berita RMOL, menanggapi keluar-masuknya TKA Cina. “Mereka datang tanpa visa, coba kita pergi ke Cina. Wuh ngurus visanya susah,”ujarnya.

Itu pula sebabnya, Prof Sri merasakan Indonesia saat ini seperti kembali ke masa penjajahan. Bahkan, Dr. Margarito Kamis, menjulukinya: “Indonesia Seperti Negara Bagian China”. “Jadi, saya rasa invasi terhadap Indonesia sudah berjalan. Selama ini yang belum dibicarakan adalah bahwa invasi sudah terjadi di Indonesia,”tegasnya. Apalagi, pernah ada kabar Pemerintahan Jokowi mewacanakan “Dwi Kewarga-negaraan,” yang tidak pernah diakui di Indonesia.

“Ada apa ini? Bhinneka Tunggal Ika, Tanhana Dharmma Mangrva itu diktum Lemhanas. Artinya, tidak ada kewajiban loyalitas ganda, mendua. Jadi kita hanya mengakui satu warga negara, yaitu cinta pada Ibu Pertiwi, Indonesia,”kata Prof Sri Edi menyinggung wacana pembahasan RUU Dwi Kewarganegaraan, yang pernah diwacanakan di Kemenkumham.

Kekhawatiran tehadap membanjirnya TKA Cina ke Indonesia sangat bisa dimengerti, karena menurut M. Hatta Taliwang, Indonesia sudah lama menjadi target untuk dijadikan tanah baru bagi mereka. Apalagi, “Cina di Indonesia dan Cina perantauannya, sudah mulai masuk dalam dunia pertarungan politik praktis dengan mendirikan parpol, dan menguasai parpol lainnya dengan tujuan politik menjadi Presiden Indonesia,”tulis Hatta.

Selain itu, kekhawatiran terhadap Cina perantau itu, terutama karena RRC menganut paham “Dwi Kewarganegaraan” (Ius Sanguinis). “Sekalipun Ahok misalnya, warga negara Indonesia, namun bagi RRC dia (Ahok) adalah juga warga negaranya. Loyalitas ganda inilah lebh banyak merugikan Indonesia yang menganut azas kewarganegaraan Ius Solli (loyalitas pada satu negara di mana dia dilahirkan),” tutur Hatta Taliwang.

Berbeda dengan keturunan Arab, India, Pakistan, Persia dan lainnya. Terhadap mereka, Indonesia tidak ada masalah, karena negaranya menerima asas Ius Solli. Apalagi mereka pada umumnya sudah berbaur dengan budaya dan agama pribumi Indonesia.

M Hatta Taliwang yang juga Direktur Institut Soekarno-Hatta, lantas membedah problem besar Cina di dunia. Ia mengutip lima rumusan John Memphi: Chineese Problem in The World. Salah satunya adalah First Emporium, RRC = Mainland China (Mother land—Tanah Leluhur). Nah, jadi, Overseas Chineese—Cina Perantauan—yang ada di Indonesia, tetap menganggap Tiongkok adalah segala-galanya. Mereka tetap setia dan loyal terhadap tanah leluhur, yakni RRC.

Apalagi, RRC memang sengaja mendiasporakan rakyatnya ke seluruh penjuru dunia. Faktor kesengajaan politik itulah, yang menyebabkan banyak pihak di dunia menyebut sebagai skenario RRC di luar negeri atau kebijakan politik luar negeri RRC. Tiongkok sengaja memotivasi warganya untuk melakukan overseas dengan tujuan politik luar negeri yang lebih besar.

Dan terbukti, “warga overseas chineese di banyak negara menguasai sumber daya negara lain dengan nafas “post neo-colonialism”. Contohnya, antara lain, di Indonesia, Singapura, Malaysia, Filipina dan Thailand,”tegas Hatta.

Skenario Oberseas Chineese yang disengaja itu, tentu melibatkan negara RRC. Atau dapat diperjelas dengan istilah Overseas Chineese merupakan planted agent RRC di luar negeri. Maka itu, tidaklah keliru bila banyak negara menolak secara halus atau kasar kedatangan orang-orang Cina ke negaranya. Tapi kenapa Indonesia malah membentangkan karpet merah untuk TKA Cina bro?

Dulu, 30 tahun lalu, Mochtar Riady pernah bilang di depan banyak pengusaha Cina. Dan memenya sampai saat ini masih berseliweran di medsos. Seperti bercanda, tapi mimiknya serius. “Apa kepanjangan LIPPO dengan logo ular melingkar? L= Lama2, I = Indonesia, P = Pasti, P = Punya, O = Owe”. Lama-lama Indonesia Pasti Punya Owe,”katanya disambut tepuk tangan.

Lalu Mochtar menambahkan: ”Orang Indonesia pintar, tapi males bisnis, pinginnya uang banyak. Tinggal kasih uang dia akan baik sama kita. Sering-sering kita undang dia makan, kita kasih angpao, kita jangan minta apa-apa dulu. Dia butuh uang untuk anaknya sekolah, kasih saja, apa mau dia, kasih saja. Kalau dia senang, kita minta apa pasti dibantu,”kata bos Lippo group itu, menceritakan pengalamannya.

“Kalau kita sudah kuat, kuasai aturan dan UU untuk keperluan kita. Makin kuat lagi kuasai media, makin kuat lagi kuasai politik. Kalau ada yang protes, suruh habisi oleh pejabat pribumi yang sudah punya pangkat yang selalu kita bantu…” Coba! Ngeri juga bro!

Apa yang dikatakan Mochtar Riady, rupanya, saat ini sudah terbukti. Dan dia (juga keturunannya) termasuk sembilan naga yang melingkari Indonesia. Tapi apakah dia benar-benar bisa memiliki Indonesia? Nanti dulu! Banyak juga pengusaha sebangsanya, menjuluki bos Lippo itu sebagai “penipu licin dan kejam”.

“Mochtar Riady, James Riady, dan Lippo groupnya, adalah pria terhormat, murah hati, kaya raya dan penginjil yang disegani. Tapi, kenyataannya, apa yang sesungguhnya dia lakukan?  Pada hari Senin s/d Jum’at dia bohongi orang. Dan Sabtu-Minggu dia bohongi Tuhan,” tulis Mr. John yang, kerajaan  bisnis keluarganya, ditelan mentah Mochtar Riady, dengan cara licin dan kejam, tanpa dia sadari sebelumnya.

Dan memang begitulah, pada umumnya Cina rantau berbisnis. Tidak mengenal halal-haram, karena memang tidak beragama. Kalaulah dibilang sebagai penginjil disegani seperti kata Mr.John terhadap Mochtar Riady, itu pun bukan karena gerak hati nuraninya. Melainkan untuk  mengeruk harta dunia sebesar-besarnya.

Perkembangan terbaru diberitakan oleh Warta Ekonomi.co.id (Kamis, 22 Oktober 2020), miliarder Cina kini selangkah lebih maju dari Amerika. Survei Harun melaporkan bahwa daratan Cina menambahkan 257 miliarder baru bersaing dalam dolar AS pada Agustus 2020. Secara keseluruhan Cina memiliki 878 miliarder. Sementara AS punya 700 miliarder. Padahal, pada tahun 1999, tak ada satupun miliarder Cina.

Menurut Quartz di Jakarta (Kamis, 22 Oktober 2020), Cina kini memiliki 2.398 individu dengan kekayaan bersih lebih dari 2 miliar yuan atau Rp 4,2 triliun, yang merupakan batas kekayaan dalam daftar tersebut. Jika ditotal kekayaan gabungan mereka mencapai USD 4 triliun (Rp 58.836 triliun), mungkin sebesar dengan PDB Jerman.

Menurut Hatta Taliwang, pada tahun 2015 penduduk RRC berjumlah 1.367.485.388 jiwa. Artinya, ada 1,37 miliar orang yang harus dikasih makan tiga kali sehari, dicukupi sandang-pangan dan juga tempat tinggal. Itu belum termasuk Cina Perantauan (Overseas Chineese) yang, pada 2008, diperkirakan berjumlah 300 juta jiwa yang memencar di seluruh penjuru dunia. Dan mereka sudah sangat exist terutama di bidang ekonomi.

Kemudian, sekitar lima tahun lalu, tulis Taliwang, ada catatan 70 juta kader Partai Komunis Cina (PKC), mendapat tugas untuk membahas strategi dan taktik Cina menjadi negara superpower. Kader-kader itu bertugas memberikan usulan kongkrit untuk diputuskan dan dilaksanakan PKC. Faktor inilah, dan juga dikaitkan dengan Overseas Chineese sebagai planted agent RRC, serta sifat ekspansionisme geopolitik dalam konsep Cina Raya, telah cukup membuat khawatir negara-negara di seputar Cina.

Etnis Cina di Indonesia, masih kata Hatta, menurut Kompas sekitar 8 juta orang. Sementara Dr. Sri Bintang Pamungkas, menduga sekitar 25 juta orang. Tapi menurut mantan Dubes kita di RRC, Mayjen (Purn) Sudradjad, berkisar 5% atau lebih kurang 12 juta orang.

Tapi jumlah itu, tentu belum termasuk yang belakangan masuk dan terus mengalir hingga musim pandemi Covid-19 ini. Mungkin bisa ditanyakan kepada Menko bidang Kemaritiman dan Investasi, Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Panjaitan, berapa jumlah persisnya bro!

Yang terang, “elit etnis Cina di Indonesia, berperan dari bermain di belakang layar sampai tampil langsung untuk mendominasi politik kekuasaan Indonesia. Dengan kata lain, etnis Cina di Indonesia, sedang berusaha keras untuk menggeser posisi politik Pribumi Nusantara sebagai penguasa nasional,”tulis Hatta Taliwang dalam artikelnya yang panjang (19 halaman).

Nah, pertanyaannya, semboyan Bos Lippo, Mochtar Riady, “Kalau kita sudah kuat, kuasai aturan dan UU untuk keperluan kita”. Apakah semboyan itu masih berlaku dan perlu diwujudkan di era reformasi berpandemi Covid-19 ini?

Dan apakah sejumlah UU, Perpres, Perppu, terutama UU Ciptaker, yang dibuat pemerintah dan disahkan DPR secara terburu-buru, tanpa mau mendengar dan menerima masukan atau partisipasi publik. Juga tanpa naskah final, dan baru seminggu sesudahnya bermunculan berbagai versi naskah final UU Ciptaker, tapi berbeda-beda tebal halamannya. Sampai kemudian kalangan buruh, mahasiswa, pelajar dan semua elemen masyarakat bersusah-susah menolak keras UU Ciptaker disertai unjuk rasa damai di mana-mana. Nah, apakah semua itu ada kaitan erat dengan wasiat  mendiang Mochtar Riady yang mesti dituruti dan dipenuhi? (bersambung).

*Choirul Anam, adalah Pendiri dan Penasehat PPKN (Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyah). Pembina GERAK (Gerakan Rakyat Anti Komunis) Jawa Timur.

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry