“Upaya membalik fakta sejarah dengan membangun opini bahwa PKI adalah korban peristiwa G 30 S 1965, bukan pelaku kudeta berdarah, sudah dimulai sejak Temu Raya mantan Tanapol di Hotel Cempaka, Jakarta, 2007.

Oleh: Choirul Anam*

TERKAIT isu bangkitnya neo-komunis atau komunis gaya baru (KGB), GP Ansor tua zaman old atau bisa juga disebut Ansor zaman olden, tetap wajib waspada dengan disiplin tinggi. Pasalnya, seperti kata Najwa Shihab, mengutip ahli virus, sifat virus Wuhan itu baru bisa mati, jika inangnya mati. Sifat ideologi komunis hampir sama dengan Covd-19 itu. Komunisme baru bisa dikatakan mati, jika penganutnya sudah menggelepar tak bernyawa.

Komunis atau PKI di Indonesia, memang sudah bubar. Tapi penganut ideologinya, bahkan mantan gembong CC PKI yang dibebaskan Presiden Habibie pada 1995, masih berkeliaran dan segar bugar. Ada bukti kuat mereka melakukan konsolidasi mantan Tanapol PKI, plus anak keturunannya, menyebarkan berbagai macam buku komunisme sampai kemudian menerbitkan buku “Aku Bangga Jadi Anak PKI”. Dan buku-buku itu bebas beredar secara luas.

Sejak itu, mereka juga melakukan infiltrasi ke jaringan eksekutif maupun legislatif, dan ormas pemuda maupun tua serta penguasa yang terlena, dengan semangat dendam kusumat membolak-balikan fakta sejarah. Mereka berkemauan keras untuk melanjutkan perjuangan yang pernah gagal, baik pada pemberontakan Madiun September 1948 maupun kudeta berdarah  G 30 S/PKI 1965.

Karena itu, GP Ansor zaman olden wajib tetap waspada. Jangan sampai terlena sedikit pun. Melalui tulisan panjang ini, saya berharap kepada sahabat-sahabat Ansor tua di mana pun Anda berada, segeralah menyambung tali silaturrahim yang produktif demi anak cuku dan nahdliyin pada umumnya. Biarlah GP Ansor zaman now lebih asyik memburu mainan “Islam Radikal” atau “Khilafah HTI”.  Karena mereka sudah tidak lagi percaya akan bangkitnya KGB.

Komunisme sudah bangkrut. Uni Soviet sudah rontok, RRC sudah berubah jadi super kapitalis. Tinggal Kuba dan Korea Utara, sebentar lagi juga akan mengikuti induknya, Tiongkok. Mana mungkin komunis Isndonesia bisa bangkit sendiri tanpa sandaran. Memang benar. Tapi jangan lupa, paham komunis mati itu hanya dalam hal ekonomi. Sebagai ideologi ekonomi, komunisme sudah mampus dihajar kapitalisme.

Tapi ingat doktrin Lenin (nama aslinya: Vladimir Ilyich Ulyanov), pendiri Uni Soviet (1870-1924), pernah merumuskan dan memberikan aksioma tentag agama, begini:”…Marxisme melihat semua agama modern dengan segala tempat-tempat sembahyangnya dan semua organisasi agama, sebagai alat dari golongan berjuis untuk mempertahankan penjajahan mereka, dan untuk meracuni masyarakat kelas buruh. Agama, sebagaimana didefinisikan oleh Marx, adalah candu bagi rakyat.”

“Setiap pikiran tentang agama dan setiap pikiran tentang Tuhan, dan setiap detik sangkaan bahwa Tuhan itu ada, merupakan suatu kejahatan yang paling berbahaya, suatu penyakit yang paling gila di dunia ini. Marxisme yang berdasarkan materialisme sama sekali tidak percaya kepada Tuhan YME. Marxisme dengan tegas dan keras berlawanan dengan semua agama. Marxisme akan memerangi semua agama, terlebih dulu agama-agama yang berorganisasi akan dibasmi, dan akhirnya semua agama di dunia akan dilenyapkan,”tegas Lenin (Choirul Anam: KH. Abdul Wahab Hasbullah, Hidup dan Perjuangannya, Cetakan II, Juli 2017).

Kebangkrutan komunisme di bidang ekonomi, bukan berarti komunis benar-benar mati dan tidak bergerak. Mereka masih punya basis perjuangan lain seperti yang diajarkan Lenin. Apalagi jejak komunis di Indonesia terbukti, berusaha keras untuk melenyapkan agama. Pemberontakan Madiun 1948 yang dipimpin “Gubernur Militer” Sumarsono, yang menewaskan hampir 2000 orang, korban terbesar adalah kiai dan santri.

Begitu pula kudeta berdarah G 30 S/PKI 1965. Selain tujuh jenderal TNI AD diculik dan dibunuh secara keji dan kejam, juga banyak kiai-santri dan rakyat tak berdosa jadi korban. Bahkan enam puluh dua (62) anggota GP Ansor dan Fatayat NU di Banyuwangi, dibunuh secara biadab  setelah diberi makan bercampur racun.

Kader PKI mantan Tanapol, atau kader baru penganut komunisme dan anak keturunan yang jelas-jelas “bangga jadi anak PKI”, menurut banyak pengamat, sudah sejak lama bangkit dan bergerak mengerahkan tenaga, pikiran, dan segala sumberdaya—dengan bantuan komunis RRC—untuk melenyapkan agama, khususnya Islam.

Mereka berusaha keras, paling tidak, untuk menjauhkan umat, terutama generasi mudanya, dari agama. Karena itu, ketika ada muballigh tenar dari NU menyatakan “Nabi Muhammad SAW waktu kecil tidak terawat, rembes dan umbelen”, mereka merasa kegirangan mendapatkan amunisi untuk menjadikan agama Islam sebagai bahan ejekan. Karena penganut komunisme sangat bernafsu menghapus prinsip ketuhanan.

Ada testimoni menarik dari seorang mantan Tanapol bernama Sudirman Timsar Zubil (biasa disapa Timsar), yang viral di medsos sekitar sebulan lalu. Ia terpidana mati dan dijebloskan ke tahanan/penjara berbaur dengan gembong-gembong PKI kalangan sipil dan  bekas militer. Para Tanapol PKI yang dari sipil kebanyakan mantan pengurus CC PKI, sedangkan yang mantan mliter pada umumnya berpangkat pamen.

Sejak Januari 1977, Timsar hidup bersama mereka dengan penuh canda dan tawa bagaikan keluarga. Artinya, para Tanapol PKI itu bercerita bebas apa adanya kepada Timsar baik mengenai rencana infiltrasi maupun kebangkitan kembali KGB, tanpa ada kekhawatiran sedikitpun. Mengapa? Karena, selain sudah seperti keluarga, mereka juga tahu ketegaran sikap Timsar ketika majelis hakim menanyakan: apakah terpidana mati menyatakan banding atau mengajukan permohonan grasi, langsung dijawab “segera laksanakan eksekusi mati,” kata Timsar.

Karena itu, mereka bebas bercerita apa saja kepada Timsar, layaknya keluarga dan tak ada yang perlu dirahasiakan, karena nanti toh Timsar dieksekusi mati. Dan pergaulan hidup bersama Tanapol itu  berlangsung selama 22 tahun, sampai kemudian Timsar dan semua Tanapol PKI itu dibebaskan Presiden Habibie, pada 5 Januari 1999.

Di dalam tahan/penjara, Timsar sering berdialog dengan Tanapol tentara, Kolonel Maliki, tentang kisahnya sampai ketangkap. Dari kisah itu, Timsar menyimpulkan, bahwa pembunuhan tujuh jenderal di Lubang Buaya, sama sekali bukan persoalan internal TNI AD semata. Begitu pula keterangan yang diperoleh dari Isnanto, mantan anggota CC PKI yang dipindahkan dari daerah asalnya, Sala.

Isnanto adalah kawan bermain catur Timsar. Tugas Isnanto membina para pejabat dari semua lapisan yang bersimpati pada PKI. Isnanto divonis hukuman mati lalu mengajukan permohonan grasi, tapi ditolak oleh Presiden Soeharto.

Dari pergaulan hidup bersama selama 22 tahun itu, Timsar menuliskan di awal testimoninya, “Aku menegaskan…PKI memang berusaha untuk bangkit kembali”. Lalu setelah lama menghirup udara bebas, Timsar ketemu mereka lagi pada acaara “Temu Raya” mantan Tanapol di Hotel Cempaka, Jakarta. “Kami sama-sama masuk di stering comite,”tulisnya. Acara Temu Raya ini disponsori oleh Yopi Lasut, Ketua Yayasan Hidup Baru, yang sering membesuk Tanapol, hingga punya hubungan akrab dengan semua Tanapol dari berbagai aliran, baik kiri maupun kanan.

Sebagai anggota tim pengarah, Timsar mengikuti berbagai pertemuan untuk menyiapkan materi yang akan dibahas baik dalam sidang pleno maupun komisi, terutama materi Tatib (Tata Tertib) Temu Raya. Namun, Timsar mulai curiga karena hampir semua pokok-pokok pikiran yang dikemukakan didominasi Tanapol kiri, yang mempunyai target tercapainya kesepakatan dan pernyataan bersama, minimal tentang dua hal: pertama, tuntutan dibatalkannya TAP MPRS No. 25 Tahun 1966 tentang larangan ajaran komunis, dan kedua, pelurusan sejarah.

Pelurusan sejarah yang dimaksud mereka, adalah pembentukan opini bahwa PKI adalah korban peristiwa 195, bukan pelaku. “Tanapol kiri terlalu percaya diri dan memandang rendah peserta yang lain (Tanapol kanan). Mereka juga tidak malu berbohong di hadapan ratusan peserta Temu Raya tersebut,”tulis Timsar di halaman 4.

Peristiwa berbohong bersama itu terjadi, ketika Timsar diminta datang ke ruang rapat “Komisi Pelurusan Sejarah”. Setiba di ruang rapat, ternyata sudah ada 20 orang mantan Tanapol aliran kiri (eks PKI) semua. Tidak seorang pun dari mantan Tanapol kanan. Lalu Timsar diminta duduk di depan  untuk memimpin sidang. Timsar mengawali sidang dengan mempertanyakan: “keberadaan Komisi Pelurusan Sejarah ini dalam rapat-rapat stering comite tidak pernah dibicarakan, dan tidak juga pada sidang pleno pengesahan Tatib acara,”kata Timsar.

Ternyata, beberapa dari mereka langsung angkat bicara meyakinkan bahwa  “Komisi Pelurusan Sejarah” itu ada, dan sudah pula disahkan dalam sidang pleno. Sebagai tim pengarah yang dari awal ikut merancang materi sidang, Timsar berkata dalam hati: “Sungguh aku baru kali ini bertemu orang-orang dalam rapat mau dan berani berbohong bersama-sama. Mungkin mereka mengira dengan cara seperti itu bisa mempengaruhi dan meyakinkan aku.”

Menghadapi tekanan kebohongan bersama-sama itu, Timsar dengan tegas mengatakan: ”Aku akan bertanya dulu kepada teman-teman dari Tanapol kanan. Bila mereka mengatakan memang ada “komisi pelurusan sejarah”, aku akan kembali memimpin sidang. Tapi jika tidak, maka aku tidak akan kembali.”

Ternyata, tidak satu pun mantan Tanapol kanan yang membenarkan adanya “komisi pelurusan sejarah”. Sehingga, Timsar tidak kembali ke ruang sidang, dan melakukan konsolidasi dengan Tanapol kanan untuk menyikapi tekanan kebohongan mereka. Dan dalam pertemuan singkat itu disepakati Timsar menjadi juru bicara Tanapol kanan pada sidang pleno terakhir.

Benar sebagaimana diperkirakan, pada sidang pleno terakhir, mereka yang hadir di ruang rapat “Komisi Pelurusan Sejarah”, meminta diberi kesempatan berbicara untuk menyampaikan laporan. Selesai mereka berbicara, Timsar langsung membantah. Dan itu terjadi sampai beberapa kali. Mereka baru berhenti setelah Casman Prawiro, mantan Tanapol kiri yang mereka segani berbicara: “Dalam hal ini (maksudnya: keberadaan komisi pelurusan sejarah—red) apa yang dikatakan Saudara Timsar memang benar (maksudnya: komisi itu memang tidak ada–red),”kata Casman di hadapan 800 orang mantan Tanapol peserta Temu Raya.

Nah, jadi, upaya membalik fakta sejarah dengan membangun opini bahwa PKI adalah korban peristiwa G 30 S 1965, bukan pelaku kudeta berdarah, sudah dimulai sejak Temu Raya mantan Tanapol di Hotel Cempaka, Jakarta, pada 2007. Tetapi gagal karena ada perlawanan mantan Tanapol kanan bernama Sudirman Timsar Zubil alias Timsar.

Senada dengan Timsar, adalah penegasan Drs. Arukat Djaswadi dari CICS (Center for Indonesian Communist Study) yang juga ketua Umum GERAK (Gerakan Rakyat Anti Komunis) Jawa Timur. Arukat yang sudah 18 tahun lamanya mengendus gerakan KGB, menyimpan setumpuk bukti bangkitnya kembali komunis gaya baru (bersambung).

Choirul Anam, adalah Pendiri dan Penasehat PPKN (Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyah). Pembina GERAK (Gerakan Rakyat Anti Komunis) Jawa Timur.

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry