Kiai Ma'ruf tak perlu khawatir, Prabowo-Sandi sangat hormat kepada ulama. (FT/IST)

“HTI tiba-tiba disulap menjadi ‘monster’ yang menakutkan. Ideologi Pancasila seakan mau diterkam, dilumat habis oleh kelompok radikal pengusung khilafah. Walhasil, muncullah pekerjaan baru, deradikalisasi dengan menghabiskan banyak duit.”

Oleh: Muhtazuddin*

CUCU pendiri NU (KH Wahab Chasbullah) H Agus Solachul A’am Wahib memohon agar Cawapres 01, KH Ma’ruf Amin mengakhiri narasi perang ideologi dalam Pilpres 2019. Membenturkan ideologi dalam Pilpres 2019 sangat berbahaya. Bisa menciptakan benturan horisontal. Kasarnya, perang saudara. Setuju!

Sebelumnya, ketika rapat konsolidasi dengan Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) Kendal, Kiai Ma’ruf menegaskan, persaingan pemilihan presiden 2019 bukan lagi sekadar pilih sosok, tetapi perang ideologi antara ideologi radikal versus moderat.

Masih soal Kiai Ma’ruf. Seperti ditulis kompas.com, mantan Rais Aam PBNU ini juga mengaku berat untuk bisa menang di Sumatera Barat. “Besok saya akan ke Padang. Terus terang Sumatera Barat ini termasuk yang agak berat. Sampai wakil presidennya kiai saja sampai enggak nembus,” begitu Kiai Ma’ruf. Nah?

Isu yang diusung Kiai Ma’ruf ini, tergolong baru. Sebelumnya, Pilpres 2014, isu perang ideologi radikal vs moderat,  termasuk khilafah (HTI dan Wahabi) tidak dominan. Kalah dengan isu blusukan, masuk selokan, ngintip gorong-gorong. Tapi, hari ini (Pilpres 2019) jualan blusukan sudah tidak relevan, masuk gorong-gorong atau ‘termangu’ di lokasi gempa apalagi, bisa jadi bahan tertawaan orang.

Setidaknya empat tahun sudah, isu radikal ‘digodok’ menjadi komoditi politik. Pembubaran HTI menjadi entry point untuk merawat isu tersebut. HTI disulap menjadi ‘monster’ yang menakutkan. Ideologi Pancasila seakan mau diterkam, dilumat habis oleh kelompok radikal pengusung khilafah. Walhasil, muncullah pekerjaan baru, deradikalisasi dengan menghabiskan banyak duit.

Padahal, kalau mau mikir (kata Cak Lontong) untuk mengganti Pancasila dengan khilafah harus melalui parlemen, Senayan. HTI? Partai saja tidak gablek (punya). PKS? Hidup enggan mati tak mau. Belum lagi di PKS juga banyak warga nahdliyin. Tidak masuk akal. Baru serius kalau yang mengusung khilafah itu PKB, PPP, PAN, ini bisa bikin kita puyeng. Tapi, apa mungkin?

Lalu siapa yang berkepentingan menggoreng isu khilafah, radikal? Bisa saja Syiah (yang antipasti dengan wahabi), atau kader PKI yang sekarang mendapat ‘perlindungan’ politik. Karena selama ini, baru sekarang kader PKI merasa aman dan tenteram. Atau juga ‘tengkulak-tengkulak’ politik yang butuh pekerjaan dari proyek deradikalisasi, sehingga perlu digelar apel, kirab dan lain sebagainya.

Nah, begitu Prabowo-Sandi memang, isu khilafah (radikal) pasti tidak laku lagi. Tidak akan ada model aksi pembubaran pengajian. Masalah-masalah khilafiyah, termasuk tuduhan bid’ah  akan kembali ke jalur aslinya, diselesaikan melalui bahtsul masail. Di sinilah kader-kader handal NU bisa memberikan pencerahan, menyuguhkan dalil-dalil tak terbantahkan, bukan asal menang. Indah bukan? Waallahu’alam. (*)

*Muhtazuddin, wartawan Duta Masyarakat di Jombang.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.