drg Laily Rachmawati sudah mendampingi Prof Nuh selama 37 tahun. DUTA/ist

SURABAYA | duta.co – Tidak hanya warga Nahdlatul Ulama (NU) yang senang dengan kesuksesan Muktamar ke-34 Lampung. Istri Prof Mohammad Nuh, drg Laily Rachmawati juga ikut senang dan lega.

Karena sejak Prof Nuh ditunjuk sebagai Ketua Steering Committee Muktamar ke-34 ini, drg Laily mengaku terus kepikiran. Doa tidak lepas dia panjatkan apalagi sejak 22 Desember, saat digulirkannya Muktamar.

“Baca di berita, media sosial terjadi ini itu. Saya terus berdoa, supaya semua berjalan lancar. Saya juga yakin, sama seperti Pak Nuh, warga NU itu tidak ada yang arogan. Kalau terjadi hujan interupsi karena muktamirin ingin menyampaikan aspirasinya,” ujar drg Laily, kepada duta.co, Jumat (24/12/2021).

Perempuan yang Desember 2021 ini akan memasuki angka 37 tahun mendampingi Prof Nuh, mengaku bangga, suami yang memberinya satu anak dan dua cucu ini bisa memimpin sidang dengan pujian luar biasa dari para muktamirin. Bahkan diberi pujian tinggi oleh para muktamirin.

Diakui drg Laily, dia sangat mengenal betul karakter suaminya. Sehingga ketika ada riak-riak kecil di Muktamar Lampung ini, Prof Nuh bisa mengatasinya.

“Sebenarnya tidak kaget. Karena saya paham betul karakter beliau. Beliau itu orangnya tidak mudah terpancing. Tidak mudah tersulut. Dan prinsipnya semua pasti ada jalan keluar asal semua mau ‘ditoto’,” tukas perempuan yang kini menjabat sebagai Wakil Direktur Medis RSI Surabaya Ahmad Yani ini.

Prof Nuh pernah mengaku bersedia ditunjuk sebagai Ketua SC, asalkan semua bisa berjalan dengan adem. “Jangan sampai semua kepanasan. Kalau kepanasan nanti yang muncul negative list. Kalau terjabak negative list maka publik akan tahu, oh gitu tah Si A negatifnya, SI B begitu tah,” kata Prof Nuh.

Seharusnya kata Prof Nuh, warga NU bersyukur karena NU sudah akan memasuki usia 100 tahun. Tidak banyak organisasi yang bertahan hingga usia 100 tahun.

“Dan Muktamar ke-34 ini adalah muktamar terakhir di masa 100 NU pertama dan awal memasuki 100 tahun kedua. Jangan sampai muktamar ini gagal karena ini adalah muktamar untuk tonggak estafet kepemimpinan NU ke depan,” tukas Prof Nuh.

Apa yang diinginkan Prof Nuh agar Muktamar ke-34 ini bisa berjalan adem, terbukti bisa diwujudkan. Dengan tenang mantan Mendikbud ini bisa ‘mengendalikan’ para ribuan muktamirin yang menghadiri sidang mulai penetapan tata tertib yang sempat ramai hingga pemilihan dan penghitungan suara.

Di usia yang ke-62 tahun, dengan pengalamannya menjadi pemimpin baik di perguruan tinggi, di kementerian hingga di yayasan, menjadikannya banyak mengetahui karakter orang. Sehingga tak heran, Prof Nuh bisa dan memiliki cara tersendiri bagaimana ‘mengendalikannya’.

Prof Nuh bukan sekadar aset NU yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi tapi teruji juga memiliki kecerdasan emosional yang tak ada tandingannya. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry