
“Justru dalam keheningan itulah, makna istimewa puasa di tanah Inggris, UK (United Kingdom) atau Inggri Raya mulai terasa. Ramadan di negeri minoritas mengajarkan ketulusan.”
Oleh: Ahmad Syaifullah*
PUASA Ramadan itu kewajiban yang ditetapkan Allah SWT kepada setiap Muslim yang baligh, berakal, dan mampu menjalankannya. Perintah ini sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi sarana penyucian jiwa, pengendalian diri, serta penguatan ketakwaan.
Di mana pun seorang Muslim berada, kewajiban puasa tetaplah sama. Baik di negeri dengan mayoritas Muslim maupun di negara dengan komunitas Muslim sebagai minoritas, Ramadan tetap hadir membawa pesan spiritual yang mendalam.
Namun, suasana dan pengalaman menjalankannya tentu dapat berbeda. Di tanah UK, tepatnya di Inggris, puasa memiliki warna tersendiri yang menghadirkan makna istimewa.
Islam di Inggris telah tumbuh dan berkembang selama puluhan tahun. Komunitas Muslim di negara ini berasal dari beragam latar belakang: Asia Selatan seperti Pakistan dan Bangladesh, Timur Tengah, Afrika, hingga diaspora dari Asia Tenggara. Di kota-kota besar seperti London, dan Birmingham tempat penulisn tinggal keberadaan Muslim cukup signifikan dengan banyaknya masjid, pusat komunitas Islam, sekolah, dan organisasi keagamaan. Meski demikian, umat Islam tetap menjadi minoritas di tengah masyarakat yang multikultural dan sekuler. Kondisi ini membentuk pengalaman beragama yang unik, termasuk saat menjalankan ibadah puasa.
Ketika Ramadan tiba di Inggris, suasananya tidak serta-merta berubah drastis seperti di Indonesia. Hari-hari tetap berjalan seperti biasa. Aktivitas perkantoran, sekolah, transportasi umum, dan pusat perbelanjaan berlangsung normal. Tidak ada nuansa khusus yang terasa di ruang publik sebagaimana yang biasa kita temui di tanah air. Tidak ada spanduk Ramadan yang terpasang di jalan-jalan umum, tidak ada pengumuman sahur atau buka puasa melalui pengeras suara kota. Ramadan hadir lebih hening, lebih personal, dan terasa sebagai ibadah personal dan ritual yang tumbuh dari dalam diri.
Puasa di Inggris juga menghadirkan perbedaan mencolok dalam hal suasana menjelang berbuka. Di Indonesia, kita terbiasa melihat jajanan takjil berjejer di pinggir jalan, pasar dadakan yang ramai, dan aneka menu berbuka yang menggugah selera. Di Inggris, hampir tidak ada pemandangan seperti itu di ruang publik. Tidak ada penjual kolak, gorengan, atau es buah di sudut-sudut jalan. Tidak ada hiruk pikuk orang berburu takjil menjelang magrib. Jalanan tetap tertib dan relatif tenang. Ketiadaan itu pada awalnya mungkin terasa asing, bahkan sunyi.
Selain itu, tidak ada fenomena kenaikan harga bahan pokok yang mencolok sebagaimana sering terjadi di Indonesia saat Ramadan. Tidak ada lonjakan penumpang transportasi umum menjelang mudik atau libur panjang keagamaan. Sistem transportasi di Inggris tetap berjalan stabil sesuai jadwal. Masyarakat umum menjalani hari seperti biasa, tanpa perubahan signifikan seakan tidak dalam Ramadan. Bagi seorang Muslim yang terbiasa dengan atmosfer Ramadan di Indonesia, suasana ini bisa menghadirkan rasa sepi yang tak terduga.
Satu hal yang juga sangat terasa adalah tidak adanya suara adzan yang berkumandang keluar dari masjid. Di Inggris, masjid-masjid menggunakan pengeras suara internal. Adzan hanya terdengar di dalam ruangan, tidak menggema ke lingkungan sekitar. Kita tidak akan mendengar suara adzan subuh yang membangunkan sahur, atau adzan magrib yang menjadi penanda berbuka puasa di seluruh penjuru kota. Begitu pula dengan suara tadarus yang biasanya mengalun setiap malam di Indonesia, menjadi pengantar tidur, hiasana malam dan menyambut pagi. Di Inggris, suasana malam Ramadan cenderung hening. Tidak ada lantunan ayat suci yang terdengar hingga ke luar masjid.
Namun justru dalam keheningan itulah, makna istimewa puasa di tanah Inggris, UK mulai terasa. Ramadan di negeri minoritas mengajarkan ketulusan. Tanpa dukungan atmosfer massal, ibadah menjadi lebih personal dan penuh kesadaran. Kita berpuasa bukan karena lingkungan sekitar ikut berpuasa. Bukankah begitu? (*)





































