
CATATAN PINGGIR Dr H ROMADLON SUKARDI, MM
DALAM perjalanan panjang NU, sejarah selalu mengajarkan bahwa Allah SWT kerap menegur umat-Nya bukan melalui kata-kata, melainkan lewat peristiwa alam yang tak dapat ditawar logikanya.
Letusan dahsyat Gunung Semeru yang, meluluhlantakkan desa-desa di Lumajang, banjir bandang di berbagai wilayah Jawa dan Sumatera yang menyapu rumah dan harapan, angin badai yang menerbangkan atap-atap rumah, hingga tanah longsor yang merenggut nyawa dan meninggalkan luka kemanusiaan—semua itu terjadi dalam irisan waktu yang berdekatan dengan memanasnya konflik internal PBNU.
Entah ini kebetulan semata atau sinyal Ilahi yang memiliki makna mendalam, tetapi nurani yang jernih akan menangkap pesannya: “Wahai para pewaris ulama, berhentilah sejenak. Rendahkan hati kalian. Kembalilah kepada-Ku dengan ketulusan dan keikhlasan.” Ketika dialog buntu, musyawarah tak menemukan arah, dan ancaman membawa pertikaian ke ranah hukum justru memperkeruh suasana, maka hanya ada satu mekanisme penyembuhan yang diwariskan para masyayikh: mengumpulkan jutaan napas nahdliyin dalam satu helaan doa—Istighotsah Kubro.
Istighotsah bagi NU bukanlah ritual biasa. Ia adalah detak jantung jam’iyah, penataan ulang batin kolektif, dan spiritual reset button yang berulang kali menyelamatkan bangsa ini dari kegamangan. Tahun 1999 adalah contoh paling monumental: ketika krisis moneter, kerusuhan, dan instabilitas menghimpit Indonesia, NU di bawah kepemimpinan KH A Hasyim Muzadi dan Ketua PW GP Ansor Choirul Anam menggelar Istighotsah Akbar di Lapangan 10 November dan Makodam V Brawijaya.
Doa-doa ribuan jamaah ketika itu bukan hanya menenteramkan hati, tetapi turut menghadirkan kesejukan nasional di tengah turbulensi politik. Kini, ketika Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU saling bersilang pendapat, ketika dawuh kiai sepuh Lirboyo dan Ploso tak sepenuhnya diindahkan, dan ketika instruksi PWNU Jatim kepada PCNU, MWCNU, hingga ranting-ranting tampak seperti hanya berhenti di atas kertas tanpa langkah nyata—maka kebijaksanaan spiritual inilah yang harus kembali dihidupkan.
NU tidak perlu menunggu PBNU yang sedang berada dalam kubangan perbedaan internal untuk bergerak. Justru PWNU di seluruh Indonesia—terutama PWNU di Pulau Jawa, dan lebih spesifik lagi PWNU Jawa Timur—harus mengambil peran moral sebagai perekat, peneduh, dan penengah. Terlalu berbahaya bila PWNU justru ikut hanyut dalam arus konflik antara Syuriyah yang condong ke Jawa Timur dan Tanfidziyah yang diasosiasikan dengan Jawa Tengah. NU membutuhkan langkah cooling down yang terukur, berwibawa, dan tidak memihak. Untuk itulah koordinasi dikenal paling efektif bila diserahkan kepada JATMAN, dipimpin Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa, sebagai representasi thariqah dan penjaga kearifan ruhani. Supaya cepat JATMAN berkoordinasi langsungg dengan masing-masing PWNU.
Formatnya bisa disusun fleksibel: Istighotsah per karesidenan, perwilayahan, atau sekaligus sebagai satu gelombang besar di stadium yang mampu menampung ratusan ribu jamaah. Namun yang wajib menjadi garis merah: tidak ada panggung politik, tidak ada orasi, tidak ada klaim-klaim, tidak ada manuver. Hanya ada satu suara dari para kiai: ajakan untuk kembali berserah diri kepada Allah. Istighotsah Kubro ini akan menjadi wadah penyatuan psikologis warga NU, pendingin suhu konflik, pemurni niat, sekaligus ruang taubat kolektif bagi seluruh komponen bangsa—untuk memohon agar musibah di Indonesia, Palestina, Suriah, dan negeri-negeri muslim lainnya diganti Allah dengan kedamaian dan jalan keluar terbaik.
Sebelum semuanya terlambat—sebelum konflik internal PBNU berubah menjadi jurang hukum yang semakin membelah tubuh jam’iyah—NU harus segera kembali pada jati dirinya yang paling otentik: menengadahkan tangan bersama-sama, dari jajaran kiai hingga rakyat kecil, dari pesantren hingga kampung-kampung terpencil. Sejarah NU membuktikan, ketika para kiai dan jamaah berkumpul dalam jumlah besar di satu tanah lapang, Allah menurunkan keteduhan-Nya. Dari kerendahan hati itulah pintu-pintu solusi terbuka, hati yang keras melunak, dan ego yang membatu mencair. Dan mungkin, justru dari tanah lapang—bukan dari meja pleno, bukan dari rapat tertutup, bukan dari ruang konferensi pers—masa depan PBNU yang lebih teduh, dewasa, inklusif, dan berkelas dunia akan kembali lahir. Semoga. Wallahu A’lamu Bisshawab.(*)





































