Oleh: Abdur Rahman El Syarif

LANGIT Ramadhan menjelang Maghrib selalu menyimpan rahasia yang tak terucap. Bukan sekadar peralihan dari terang ke gelap, tetapi juga peralihan dari kelalaian menuju kesadaran. Dari kerasnya hati menuju kelembutan jiwa. Dari merasa cukup menuju merasa hina di hadapan Yang Maha Kaya.

Sore itu, dalam Ngaji Qalbu Ramadhan 1447 H, Kamis, 26 Februari 2026, Sang Guru, Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa, kembali menanamkan pelajaran yang sederhana, namun mengguncang: Akhlaq para shalihin adalah rasa takut kepada Allah.

Bukan takut yang membuat lari dari-Nya, tetapi takut yang membuat kembali kepada-Nya.

Rasa takut yang menumbuhkan taubat.

Rasa takut yang melahirkan istighfar. Allah ﷻ berfirman: > وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzhalimi diri sendiri, mereka segera mengingat Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka. Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah?” (QS. Ali Imran: 135)

Para kekasih Allah bukanlah mereka yang tak pernah berdosa. Tetapi mereka yang tak pernah berhenti kembali.

Dalam riwayat hikmah yang disampaikan kepada Nabi Daud ‘alaihissalam, Allah berfirman:> يَا دَاوُدُ بَلِّغْ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ لَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَعُودُ إِلَيَّ فِي مَا أُحِبُّ إِلَّا عُدْتُ إِلَيْهِ بِمَا يُحِبُّ
“Wahai Daud, sampaikan kepada Bani Israil: tidaklah seorang hamba kembali kepada-Ku dalam apa yang Aku cintai, kecuali Aku akan kembali kepadanya dengan apa yang ia cintai.”

Dan dalam munajat Ilahiyah disebutkan:

> وَعِزَّتِي وَجَلَالِي لَوِ اسْتَغْفَرَنِي عَبْدِي لَغَفَرْتُ لَهُ وَلَا أُبَالِي

“Demi keagungan dan kemuliaan-Ku, jika hamba-Ku memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuninya dan Aku tidak peduli.”

Sang Guru mengingatkan, bahwa Allah memiliki hak mutlak untuk mengampuni siapa pun yang Dia kehendaki. Banyak para wali, yang dahulu justru dikenal sebagai pelanggar. Tetapi taubat yang jujur menjadikan mereka kekasih.

Dikisahkan tentang Abu Yazid al-Bustami (Syeikh Yazid), suatu hari berjalan dan bertemu seorang rahib yang mengenakan pakaian hitam. Ketika ditanya, sang rahib menjawab:

“Aku mengenakan ini karena aku adalah pendosa besar.”

Di waktu lain, Syeikh Yazid terlihat menangis dan menggigil di suatu tempat. Ketika ditanya mengapa, beliau menjawab:

“Di sinilah dahulu aku pernah berbuat dosa.”

Para shalihin tidak melupakan dosa-dosa mereka, meski dunia telah melupakannya.

Begitu pula Malik ibn Dinar, yang menunaikan ibadah haji dari Irak ke Makkah dengan berjalan kaki. Saat ditanya mengapa ia melakukan itu, beliau menjawab:

“Apakah pantas seorang pendosa seperti aku berharap ridha Allah dengan perjalanan yang mudah? Selama Allah mengampuni dosaku, berjalan di atas bara api pun akan aku tempuh.”

Inilah rasa takut yang melahirkan cinta. Rasa hina yang melahirkan harap.

Syeikh Abd al-Wahhab al-Sya’rani dalam Tanbîh al-Mughtarrîn mengingatkan:

“Waspadalah kalian terhadap sikap meremehkan istighfar.”

Seringkali manusia memandang pahala dan dosa seperti neraca dagang. Ia bangga dengan amal baiknya, tanpa menyadari, mungkin amal itu telah hangus oleh kezaliman yang tak ia sadari.

Karena dosa bukan hanya soal hubungan dengan Allah.

Dosa adalah kezaliman pada diri sendiri. Dan lebih dari itu, kezaliman kepada sesama. Rasulullah ﷺ bersabda:

> أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ؟
قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ
فَقَالَ:
إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ… فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ… فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut? Mereka adalah orang-orang yang datang pada hari kiamat dengan shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia pernah menzhalimi orang lain. Maka kebaikannya diberikan kepada mereka. Jika habis, dosa mereka ditimpakan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)

Inilah kebangkrutan yang hakiki.

Sang Guru lalu mengisahkan tentang seorang shalih bernama Abdullah Unais. Ia mengisi hidupnya dengan istighfar dan amal kebajikan, hanya untuk menebus satu dosa: mengambil tusuk gigi milik seseorang yang telah wafat.

Setelah ia wafat, seorang sahabat bermimpi bertemu dengannya dan menanyakan keadaannya.

Ia menjawab:

“Aku telah diampuni seluruh dosaku, kecuali dosa saat aku mengambil tusuk gigi itu. Aku ditangguhkan dari surga, hingga aku dapat bertemu dengannya di akhirat, untuk menyerahkan kebaikanku sebagai penebus.”

Betapa halusnya hisab. Betapa telitinya keadilan Tuhan.

Maka menjelang Maghrib ini, ketika perut lapar dan dahaga menekan, jangan hanya menunggu hidangan berbuka. Tetapi bukalah juga pintu taubat.

Perbanyaklah istighfar, siang dan malam. Karena dzikir yang dawâm adalah jalan (thariqah). Dan istighfar adalah tangga pulang.

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا
“Maka aku berkata: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun.” (QS. Nuh: 10)

Di antara adzan Maghrib dan tegukan pertama air, semoga kita tidak hanya membatalkan puasa, tetapi juga membatalkan kesombongan. Dan memulai kembali perjalanan sebagai hamba.(*)

#NgajiQalbuRamadhan
#TanbihulMughtariin
#AliMasykurMusa

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry