“Menariknya, tafsir klasik Islam telah lama membuka ruang bagi pemahaman semacam ini, meskipun dengan bahasa metafisik, bukan terminologi modern.”
Oleh Suhermanto Ja’far*

PERISTIWA Isra’ Mi‘raj merupakan salah satu pengalaman paling monumental dalam sejarah kenabian Islam. Al-Qur’an secara ringkas namun padat menggambarkannya dalam Surah al-Isra’ ayat 1: “Maha Suci Dia yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha…” Ayat ini menegaskan bahwa Isra’ bukan sekadar kisah spiritual, melainkan sebuah peristiwa nyata yang melibatkan “hamba” (ʿabd), yaitu manusia seutuhnya— jiwa dan raga—yang diperjalankan oleh kehendak Ilahi.

Dalam lanjutan narasi keislaman, Mi‘raj—kenaikan Nabi menembus lapisan langit—bukan hanya perjalanan kosmik, tetapi juga perjalanan eksistensial yang mengubah orientasi spiritual umat Islam, terutama melalui pensyariatan shalat. Isra’ Mi‘raj bukan peristiwa demonstratif yang dimaksudkan untuk disaksikan publik, melainkan pengalaman transformatif yang kemudian disampaikan kepada masyarakat sebagai ujian iman dan pemaknaan.

Isra’ Mi‘raj tidak dapat dipahami hanya sekadar sebagai perjalanan Nabi Muhammad Saw. dari Mekah ke Yerusalem lalu menembus lapisan langit. Ia adalah pengalaman transformatif, sebuah peristiwa liminal yang mengubah struktur kesadaran subjek yang mengalaminya. Dalam kajian Filsafat Digital khususnya Humaniora Digital, bahwa pengalaman semacam ini bukan sekadar “perpindahan tempat”, melainkan peralihan modus eksistensi—dari kesadaran duniawi menuju kesadaran transenden. Karena itu, waktu terjadinya peristiwa ini bukan elemen netral, melainkan bagian integral dari kualitas pengalaman itu sendiri.

Namun, ketika peristiwa ini dibaca dalam dialog dengan Filsafat Digital khususnya Metafisika Digital dan teori kesadaran, muncul pertanyaan baru: apakah pengalaman Isra’ Mi‘raj dapat dipahami sebagai bentuk awal pengalaman imersif? Jawaban singkatnya: bukan dalam arti teknologis, tetapi ya dalam arti strukturalontologis. Isra’ Mi‘raj bukan metaverse, bukan simulasi digital, dan bukan realitas buatan. Tetapi ia menampilkan struktur pengalaman yang paralel dengan apa yang dalam filsafat Digital (informasi) disebut sebagai immersive experience—kesadaran yang sepenuhnya “hadir” dalam realitas lain tanpa kehilangan status realitas itu sendiri.

Penting untuk memperjelas istilah agar tidak terjadi kekacauan konseptual. Metaverse, dalam pengertian mutakhir, adalah ruang digital buatan yang dimediasi oleh perangkat, algoritma, dan komputasi. Realitasnya bersifat turunan dan tergantung pada teknologi. Kerangka ini jelas tidak relevan untuk Isra’ Mi‘raj. AlQur’an dan hadis menegaskan bahwa perjalanan Nabi terjadi atas kehendak langsung Allah, tanpa medium teknologis apa pun, dan dengan status ontologis yang nyata (alBukhārī, Ṣaḥīḥ, Kitāb al-Manāqib, no. 3887).

Sebaliknya, konsep immersive experience dalam pendekatan fenomenologi jauh lebih relevan. Dalam pengalaman imersif, subjek tidak lagi berdiri sebagai pengamat eksternal, melainkan “tenggelam” dalam realitas yang dialaminya. Batas antara subjek dan objek menipis, dan realitas tersebut dialami sebagai fully convincing. Inilah yang tercermin dalam Isra’ Mi‘raj: Nabi tidak hanya “melihat” Masjid al-Aqsha, tetapi hadir di dalamnya; tidak hanya “mengetahui” langit, tetapi menembusnya. Hal ini ditegaskan dalam hadis ketika Nabi mampu mendeskripsikan detail Masjid al-Aqsha saat ditantang oleh kaum Quraisy (Muslim, Ṣaḥīḥ, Kitāb al-Īmān, no. 162).

Di sinilah gagasan Luciano Floridi tentang inforg (informational organism) menjadi relevan secara filosofis. Floridi dalam bukunya yang berjudul, The Philosophy of Information, memahami manusia sebagai makhluk informasi yang hidup dalam infosphere, di mana realitas tidak semata-mata material, tetapi tersusun secara informasional (Floridi 2011, 9–15). Jika realitas dipahami sebagai struktur informasi yang dapat dihadiri secara penuh oleh kesadaran, maka pengalaman Isra’ Mi‘raj dapat dibaca sebagai perjumpaan Nabi (fisik) dengan lapisan realitas non-fisik yang tetap objektif dan nyata—bukan ilusi, bukan khayalan.

Menariknya, tafsir klasik Islam telah lama membuka ruang bagi pemahaman semacam ini, meskipun dengan bahasa metafisik, bukan terminologi modern. AlQurṭubī dalam al-Jāmiʿ li-Aḥkām al-Qur’ān, jil. 10 menegaskan bahwa kekuasaan Allah tidak terikat oleh hukum fisika biasa, dan bahwa keterbatasan persepsi manusia tidak dapat dijadikan ukuran bagi realitas Ilahi (Al-Qurṭubī, 210–214). Dengan kata lain, realitas bisa lebih luas daripada apa yang dapat ditangkap oleh indera sehari-hari— sebuah pandangan yang sejalan dengan filsafat kesadaran kontemporer.

Penolakan kaum Quraisy terhadap Isra’ Mi‘raj justru menunjukkan benturan epistemologis klasik: realitas dipersempit hanya pada yang kasatmata dan terverifikasi secara sosial (positivisme dalam Filsafat Modern). Karena itu, mereka menuntut bukti visual dan detail empiris. Menariknya, Allah menjawab skeptisisme ini bukan dengan spektakel publik, melainkan dengan pengalaman imersif personal yang kemudian diuji melalui kesaksian Nabi sendiri. Ini menunjukkan bahwa wahyu tidak tunduk pada logika demonstrasi massal, tetapi pada logika transformasi kesadaran dan kejujuran epistemik.

Isra’ Mi‘raj hanya dapat dipahami sebagai proto-struktur pengalaman imersif transenden: sebuah pengalaman di mana manusia—sebagai ʿabd—dimasukkan ke dalam realitas berlapis yang sepenuhnya nyata, melampaui batas ruang dan waktu biasa, namun tetap konsisten dengan kehendak Ilahi. Ia bukan cikal bakal teknologi, tetapi cermin paling awal tentang bagaimana kesadaran manusia mampu “hadir sepenuhnya” dalam realitas yang lebih luas daripada dunia material.

Pada titik ini, dialog antara teologi Islam dan filsafat kesadaran modern bukanlah upaya sekularisasi wahyu, melainkan perluasan horizon pemahaman. Isra’ Mi‘raj mengajarkan bahwa realitas tidak selalu bersifat dangkal dan terestrial; ia bisa imersif, kosmik, dan transenden—dan manusia, dalam kondisi tertentu, mampu mengalaminya secara utuh. Dalam bahasa hari ini, Nabi bukan memasuki metaverse, tetapi memasuki realitas ilahiah yang lebih dalam daripada dunia fisik itu sendiri. (*)

REFERENSI Al-Qur’an al-Karim QS. al-Isrā’ [17]: 1.

Al-Bukhārī, Muḥammad ibn Ismā‘īl. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Kitāb al-Manāqib, no. 3887.

Muslim ibn al-Ḥajjāj. Ṣaḥīḥ Muslim. Kitāb al-Īmān, no. 162.

Ibn Kathīr, Ismā‘īl ibn ‘Umar. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm. Beirut: Dār al-Fikr, 1999. Jil. 5, 36–40. Al-Qurṭubī, Abū ‘Abd Allāh. Al-Jāmi‘ li-Aḥkām al-Qur’ān. Beirut:

Dār al-Kutub al- ‘Ilmiyyah, 2003. Jil. 10, 210–214.

Floridi, Luciano.The Philosophy of Information. Oxford: Oxford University Press, 2011. 9–15; 53–67.

Floridi, Luciano. The Fourth Revolution: How the Infosphere Is Reshaping Human Reality. Oxford: Oxford University Press, 2014. 85–102.

Mullā Ṣadrā (Ṣadr al-Dīn al-Shīrāzī). Al-Asfār al-Arba‘ah. Tehran: Dār Iḥyā’ al-Turāth, 1981. Jil. 3, 295–310.

*SUHERMANTO JA’FAR adalah Dosen Filsafat Digital Fak Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.

 

 

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry