CATATAN PINGGIR

DR. ROMADLON SUKARDI, M.M, Wakil Ketua PW ISNU Jawa Timur*

DI tengah dunia yang bergerak semakin cepat, penuh ketidakpastian, dan sarat turbulensi geopolitik, bangsa-bangsa tidak lagi bertarung hanya melalui kekuatan militer dan sumber daya alam. Pertarungan sesungguhnya hari ini adalah pertarungan gagasan, pertarungan pengetahuan, pertarungan inovasi, serta pertarungan membangun peradaban yang berkelanjutan.

Dalam konteks itulah Halaqah Nasional Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Timur yang diselenggarakan di Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri memiliki makna yang jauh melampaui sebuah forum diskusi akademik biasa. Forum ini sesungguhnya merupakan ikhtiar kolektif kaum intelektual Nahdliyin untuk membaca arah zaman, memetakan risiko masa depan, sekaligus merumuskan jalan keluar bagi bangsa Indonesia di tengah tekanan ekonomi dan geopolitik global.

Tema yang diusung, “Masa Depan Indonesia di Tengah Tekanan Ekonomi dan Geopolitik Global: Agenda Intelektual Nahdliyin di Awal Abad Kedua”, menunjukkan kesadaran bahwa Nahdlatul Ulama tidak boleh hanya menjadi penonton perubahan dunia. NU harus hadir sebagai subjek sejarah yang mampu memengaruhi arah perubahan itu sendiri.

Apa yang disampaikan Prof. KH Ali Masykur Musa menjadi alarm intelektual yang penting. Bahwa globalisasi yang tidak dikendalikan sering kali melahirkan ketimpangan baru, memperlebar jurang ekonomi, bahkan berpotensi menggerus kedaulatan bangsa. Kritik beliau terhadap dominasi kapitalisme global sejatinya bukanlah penolakan terhadap kemajuan, melainkan ajakan untuk membangun kemandirian nasional yang berakar pada ekonomi kerakyatan sebagaimana amanat Pasal 33 UUD 1945.

Di sinilah relevansi pemikiran para pendiri bangsa bertemu dengan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. Bahwa pembangunan ekonomi tidak boleh semata-mata mengejar pertumbuhan, tetapi harus menghadirkan keadilan, keberkahan, dan kemaslahatan bagi seluruh rakyat.

Sementara itu, pesan Dr. KH Reza Ahmad Zahid tentang pentingnya manajemen barokah menghadirkan perspektif yang sangat menarik. Di era Artificial Intelligence, Big Data, dan revolusi digital, manusia modern sering kali terjebak pada logika rasionalitas semata. Padahal sejarah membuktikan bahwa banyak peradaban besar justru bertahan karena mampu memadukan kecerdasan intelektual dengan kedalaman spiritual.

Karena itu, intelektual Nahdliyin tidak cukup hanya menjadi akademisi yang produktif menulis jurnal dan menghasilkan penelitian. Mereka harus menjadi penjaga nilai, penjaga moralitas publik, sekaligus penjaga arah peradaban agar kemajuan teknologi tetap berjalan dalam koridor kemanusiaan.

Apa yang ditegaskan Prof. KH M. Afif Hasbullah juga patut mendapat perhatian serius. Ancaman terhadap ketahanan pangan, energi, kesehatan, dan stabilitas sosial akibat konflik geopolitik global bukan lagi isu masa depan, melainkan realitas yang sedang dihadapi dunia saat ini. Oleh sebab itu, pembangunan sumber daya manusia unggul menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda.

Namun demikian, salah satu gagasan yang paling strategis dalam halaqah ini justru datang dari Prof. Dr. H.M. Mas’ud Said, M.M., Ph.D., Wakil Ketua Umum PP ISNU, akademisi senior, Direktur Pascasarjana UNISMA Malang, sekaligus Komisaris Bank Jatim. Beliau tidak hanya berbicara tentang tantangan eksternal bangsa, tetapi juga mengajak ISNU melakukan introspeksi kelembagaan agar mampu menjawab tantangan abad kedua Nahdlatul Ulama.

Menurut Prof. Mas’ud Said, perubahan zaman yang berlangsung sangat cepat menuntut seluruh badan otonom Nahdlatul Ulama untuk melakukan adaptasi dan transformasi organisasi. Organisasi modern tidak cukup hanya memiliki semangat pengabdian, tetapi juga harus ditopang oleh tata kelola yang profesional, terukur, akuntabel, dan berkelanjutan.

Pesan ini sesungguhnya merupakan kritik konstruktif sekaligus agenda pembaruan bagi organisasi-organisasi Nahdliyin. Bahwa semangat perjuangan yang besar harus ditopang oleh sistem yang kuat. Sebab sejarah membuktikan bahwa banyak organisasi besar tidak runtuh karena kekurangan kader, melainkan karena lemahnya tata kelola dan sistem kelembagaan.

Prof. Mas’ud Said secara khusus menekankan bahwa selain berpedoman pada AD/ART organisasi, badan otonom NU perlu memiliki standar operasional yang tertulis, proses bisnis organisasi yang jelas, budaya kerja yang disiplin, efektif, inovatif, dan terukur. Dengan demikian, keberlangsungan organisasi tidak bergantung pada figur tertentu, melainkan berjalan berdasarkan sistem yang telah dilembagakan.

Pemikiran ini sangat relevan dengan kebutuhan ISNU saat ini. Sebagai organisasi yang menghimpun kaum sarjana dan intelektual, ISNU dituntut menjadi contoh bagaimana organisasi modern berbasis nilai-nilai keislaman dan kebangsaan dapat dikelola secara profesional tanpa kehilangan ruh perjuangannya.

Lebih jauh, Prof. Mas’ud Said menegaskan pentingnya membangun sistem kaderisasi yang berkesinambungan. Pengkaderan tidak boleh bersifat insidental dan seremonial, tetapi harus menjadi proses yang terstruktur, berjenjang, dan berkelanjutan. Syarat kepengurusan, standar kompetensi, integritas, komitmen kerja, serta tanggung jawab organisasi harus menjadi budaya kelembagaan yang melembaga dan ajeg dari generasi ke generasi.

Dalam perspektif peradaban, kaderisasi bukan sekadar mencetak pengurus baru, melainkan mempersiapkan estafet kepemimpinan masa depan. Sebab kualitas organisasi pada masa mendatang sesungguhnya ditentukan oleh kualitas kader yang dipersiapkan hari ini.

Gagasan lain yang tidak kalah penting adalah dorongan agar ISNU hadir secara nyata di kampus-kampus terbaik Indonesia. Menurut Prof. Mas’ud Said, keberadaan ISNU harus mampu menjadi bagian dari ekosistem intelektual nasional. ISNU tidak boleh hanya kuat di lingkungan internal NU, tetapi juga harus mampu berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, kebijakan publik, riset, inovasi, dan penguatan pemikiran Ahlussunnah wal Jamaah di ruang akademik nasional maupun global.

Pesan tersebut menunjukkan bahwa ISNU harus menjadi center of excellence kaum intelektual Nahdliyin. Menjadi rumah besar para akademisi, peneliti, profesional, birokrat, teknokrat, dan pemikir strategis yang berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
Yang paling menarik, Prof. Mas’ud Said mengingatkan bahwa dalam konteks keindonesiaan dan tata kelola pemerintahan, kader-kader ISNU harus menjadi bagian dari perubahan yang berkelanjutan. Setiap kader harus memperkuat kapasitas dirinya di bidang masing-masing dan menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, beliau mengajak seluruh sarjana Nahdliyin untuk tidak sekadar menjadi penikmat perubahan, tetapi menjadi agen perubahan. Tidak hanya mengkritik keadaan, tetapi menghadirkan solusi. Tidak hanya membaca persoalan, tetapi ikut menyelesaikan persoalan.

Pandangan tersebut sangat selaras dengan mandat historis Nahdlatul Ulama sebagai organisasi yang lahir untuk menjaga agama, merawat bangsa, dan membangun peradaban. Karena itu, keberadaan ISNU harus menjadi salah satu pilar utama yang menghubungkan tradisi keilmuan pesantren dengan kebutuhan masyarakat modern.

Dalam perspektif yang lebih luas, halaqah ini menunjukkan bahwa memasuki abad kedua Nahdlatul Ulama, tantangan organisasi tidak lagi sekadar menjaga tradisi, melainkan mentransformasikan tradisi menjadi energi perubahan. NU harus mampu melahirkan lebih banyak ilmuwan, ekonom, teknokrat, dokter, pengusaha, birokrat, diplomat, dan pemimpin publik yang tetap berakar kuat pada nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan.

Abad kedua NU adalah abad kompetisi global, abad inovasi, abad kolaborasi, dan abad transformasi digital. Namun pada saat yang sama, ia juga menjadi abad krisis moral, krisis lingkungan, dan krisis kemanusiaan. Karena itu, kehadiran ISNU menjadi sangat strategis sebagai kawah candradimuka lahirnya pemikiran-pemikiran besar yang mampu menjembatani kepentingan agama, negara, ilmu pengetahuan, dan peradaban.

Halaqah Nasional ISNU Jawa Timur di Lirboyo Kediri memberikan pesan yang sangat kuat bahwa kaum intelektual Nahdliyin harus naik kelas. Tidak cukup menjadi komentator perubahan, tetapi harus menjadi arsitek perubahan. Tidak cukup menjadi pengamat sejarah, tetapi harus menjadi pelaku sejarah.

Sebab masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi dan politik semata, melainkan juga oleh kemampuan para intelektualnya dalam menghadirkan gagasan-gagasan besar yang berpihak pada keadilan sosial, kemandirian bangsa, ketahanan nasional, dan kemaslahatan umat.

Dan dari Lirboyo, dari rahim pesantren yang selama ini dikenal sebagai penjaga tradisi keilmuan Islam Nusantara, gema kebangkitan intelektual Nahdliyin itu kembali diperdengarkan. Sebuah ikhtiar untuk memastikan bahwa memasuki abad kedua, Nahdlatul Ulama tidak hanya besar karena sejarahnya, tetapi juga besar karena kualitas kader, kekuatan institusi, kedalaman ilmu, dan kontribusinya dalam membangun masa depan Indonesia serta peradaban dunia.

*Dr. Romadlon Sukardi, M.M. Wakil Ketua PW ISNU Jawa Timur. Aktif Membaca Zaman, Merawat Peradaban.
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry