SURABAYA | duta.co –  Istilah ‘Islam Nusantara’ masih kontroversi. Ada yang kelewat bangga dengan menyebut dunia ingin terapkan ‘Islam Nusantara’, ada pula yang menyebutnya sebagai narasi rasis.

“Kajian dua hari Komite Khitthah di PP Tebuireng menegaskan bahwa narasi yang dibangun berbau rasis, seolah olah anti Arab. Ini bisa dilacak  dari saejumlah pernyataan, baik oleh Katib Am maupun Ketua PBNU. Dengan begitu pemakaian ‘Islam Nusantara’ sebaiknya dihentikan,” jelas H Mukhlas Syarkun, yang aktif dalam pembahasan masalah tersebut kepada duta.co, Senin (12/8/2019).

Menurut Gus Mukhlas, panggilan akrabnya, Islam Nusantara ini menjadi salah satu point rekomendasi dari pertemuan para kiai yang tergabung dalam Komite Khitthah (KK) 1926 Nahdlatul Ulama di PP Tebuireng, 7-8 Agustus 2019 .

Setelah mencermati perjalanan gagasan  Islam Nusantara, kini, faktanya telah menimbulkan kontroversi, baik di internal NU maupun di luar NU. Kontroversi ini dipicu oleh berbagai masalah yang timbul, “Pertama, metode  sosialisasinya dinilai tidak tuntas sehingga membingungkan dan wajar terjadi penolakan oleh sebagian kalangan,” tambahnya.

Kedua, lanjutnya, Narasi yang dibangun berbau rasis seolah olah anti Arab. Ini  cukup beralasan merujuk pernyataan katib am dan ketua PBNU, semua itu memperkuat asumsi dan persepsi sebagai narasi berbau rasis, karena itu wajar menjadi kontroversi.

“Ketiga, para pegiat Islam Nusantara kebanyakan dari kalangan JIL, sehingga muncul kesimpulan oleh sebagian masyarakat, ini adalah agenda JIL, maka bisa dimaklumi jika ada yang menjauhinya.

“Keempat, menjadi kontroversi, karena masyarakat mempunyai daya penangkapan yang berbeda-beda, dan memang dirasan tidak lazim menyandingkan Islam dengan Nusantara.

Islam itu nama yang sakral, sementara Nusantara adalah bersumber dari  sumpah politik Gajah Mada, maka bisa dipahami sebagian tetap milih Aswaja atau Islam rahmatan Lil alamin. “Karena menyadari Islam rahmatan lilalamin itu bersumber dari Alquran dan Hadits,” tegasnya.

Kelima, sebagian bahkan menolak ketika merujuk pada nash bahwa Islam adalah untuk seluruh alam. Kemudian, kenapa diperkecil menjadi sesuatu yang lokal terbatas wilayah Nusantara. “Maka bisa dipahami, kalau kemudian ada yang tidak mau menerimanya,” ujar Gus Mukhlas.

Islam Nusantara Membingungkan

Keenam, memang para elit PBNU sudah menjelaskan bahwa istilah Islam Nusantara bukan madzhab baru, bukan ajaran baru, tapi satu hashais (kekhususan) dan tepatnya  yang dimaksud adalah Islam di Nusantara.

“Namun penjelasan ini juga menimbulkan persoalan baru, sebab  kenyataannya Islam di Nusantara bermacam-macam aliran keagamaan, ada Islam Aboge, ada Islam abangan, ada gatoloco, dll. Sementara NU bukan dari aliran itu, sebagaimana ketentuan dalam Qanun Asasi bahwa NU adalah Islam Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

“Keadaan ini membuat kita sebagai orang NU tidak nyaman dan menambah pekerjaan, padahal tujuannya hanya ingin tunjukkan bahwa karakter Islam di Nusantara itu berbasis pada budaya lokal,” ujarnya.

Kesimpulan itu sudah dipahami oleh berbagai kalangan, rasanya tidak perlu dan tidak ada urgensinya lagi ada narasi narasi baru yang justeru membingungkan dan menambah pertentangan dalam masyarakat.

“NU sedang menghadapi tantangan yang cukup besar, maka sebaiknya meninggalkan narasi atau gagasan yang kontraversi dan kontra produktif,” jelasnya.

Menurut peserta kajian di Komite Khitthah warga NU baik di struktur maupun kultur akan dapat bersatu untuk lebih memperkokoh Aswaja yang, dibangun dengan prinsip tawazun, i’itidal, tawasuth, tasamuh, amar makruf nahi mungkar.

“Dengan itu NU terus memperkuat ukhuwah islamiah, insania dan wathaniyah yang sudah menjadi kesepakatan dan tanggung jawab kita semua. Ini yang harus dipertahankan, bukan sibuk dengan narasi baru yang membingungkan umat,” pungkas Gus Mukhlas. (mky)

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry