
By Isfandiari MD
JIKA tega itu disebut kemunduran silakan. Fakta, banyak syiar Islam di era ini membuat umat terjerumus dilubang kebodohan. Kisah-kisah tak jelas, ajaib dan kadang jadi cemoohan bertebaran di mana-mana. Keturunan Nabi Muhammad yang bisa memadamkan api neraka, rantai emas turun dai langit sampai mampu mengubah air (H2O) jadi rantai karbon rumit, molekul 4 sampai 12 atom heptana, Isooktana, butana, bahan baku bensin. Atau pernah dengar kisah kapal terbang mundur? Jika belum gak perlu tak ada gunanya!
Atas ijin Allah itu semua bisa terjadi, sebuah karomah, tetapi diwartakan di mimbar-mimbar atas tujuan menguatkan eksistensi nasab, perkara lain. Jama’ah muda atau yang berpikiran progresif akan mengelus dada, kok begini? Berlebihan, berbahaya atasnama konten dakwah. Bagi gen -Z (1997-2012) dan setelahnya, kisah ajaib spektakuler sudah tidak masuk alam pikiran mereka. Jika terus-terusan, wilayah agnostik bisa jadi pilihan mereka. Data: mereka lebih dinamis dalam lelaku keagamaan, toleran (data kemenag 2025/2026- 56.29) dan kurang religius ketimbang generasi seniornya. Lumayan miris, makin tidak rutin beribadah, umur 15-18 tahun 7%, umur 23-25 13 %. Masih kata data, mereka lebih trust pada koneksi digital ketimbang ‘turun lapangan’ cari ilmu, pencerahan, ketenangan batin secara mandiri. Lelaku mencari sendiri tanpa guru bisa jadi berbahaya jika di lapangan mereka dapatkan ‘guru-guru’ yang buah pikirnya tidak masuk alam pikiran mereka.
Jadi ada kerinduan soal Islam yang rasional seperti kesejatiannya. Dalam keseharian terbukti. Misalnya solusi Nabi Muhammad atas banyak jemaah jumat mengantuk. Kanjeng Nabi memerintahkan untuk pindah tempat (hadis Abu Daud). Dengan berpindah, aliran darah bisa lancar kembali, syaraf kembali terbangun. Di analisa para ilmuwan, katanya jika pendakwah lakukan retorika bergaya datar dan berfrekwensi rendah tanpa jeda, reticular activating system batang otak lakukan habituasi, mematikan ‘lampu’ kewaspadaan. Mata berat bukan ngantuk, tapi otak terseret ke auditory driving, gelombang otak dari beta turun ke alfa teta seperti yang dilakukan praktisi hipnoterapi. Jama’ah bukan ngantuk dan menjelang tertidur tapi terhipnotis oleh ritme tadi. Makanya Nabi Muhammad memerintahkan pindah tempat agar semuanya kembali normal. Sangat ilmiah!
Di masa kini kajian akademik kalangan intelektual muslim intens berjaya. Mereka mewanti, narasi-narasi bernuansa irasional itu ada tujuannya. Di masa kolonial pembodohan ini sudah bagian dari program agar umat makin jumud, bodoh, berfantasi liar tanpa manfaat. Misal buah pikir Syed Habibul Haq Nadvi, guru besar, kepala departemen of Arabic studies, Universitas Durban/Westville dan penulis buku The Holy Prophet of Islam and the Orientalist dan The Dimension Of Islam Education. Buah pikirnya: Politik pendidikan, kolonial dirancang hasilkan pegawai kantor bermental budak. Bakat terpendam yang kreatif dicuci otak. Sistem pendidikan kolonial tanamkan rendah diri, ajarkan muslimin atas pengertian Islam peniru segala sesuatu. Ini jauh dari kenyataan! Islam menurutnya sangat digdaya di soal keilmuan. Ia mengutip beberapa buku, The Stolen Legacy (Goerge GM James) yang dengan jelas bilang ilmu dari Eropa diambil dari peradaban Islam. Filsafat Yunani diambil dari filsafat Afrika Utara dan Mesir. Filsuf pra-Socrates semua berasal dari Mesir. Pemikir macam Socrates, Plato dan Aristoteles tidak ajarkan hal baru. Perpustakaan di Iskandariah adalah sumber mereka semua. Ada strategi licik orientalis agar Islam makin terpuruk. Selalu saja memberi gambaran jika kebangkitan kontemporer Islam fundamental tak lebih dari kambuhnya budaya Arab primitif. Setiap kegiatan pembaharu di dunia Islam pede disebut meniru Barat. Islam dianggap tidak ada kemampuan rekonstruksi ke dalam. Makin parah, dibilang kalau kebangkitan Islam bersumber dari pendidikan , liberalisme, patriotisme dari sistem sosial politik barat yang unggul. Semua ini ditanamkan sejak jama penjajahan. Padahal cendikiawan muslim masa lalu luarbiasa dahyat mempengaruhi alam berpikir peradaban modern sampai sekarang. Mereka progresif dalam dunia pemikiran. Alim ulama, pemikir Islam cemerlang jadi penentang paling depat atas rasionalisme Yunani yang lemahkan keimanan dan eksistensi Tuhan. Dalam dunia Islam sejati, ilmu dan iman berjalan beriringan dan jadi energi besar membangun peradaban manusia,
Jadi, re-thinking progresif mengembalikan ‘api’ Islam dalam keilmuan di sistem pendidikan harus segera di eksekusi. Prioritaskan literatur cendikiawan muslim ketimbang para orientalis di kampus kampus. Jadi itulah, ilmu dan iman satu paket utuh.
Olah karsa dan karya Syed Habibul Haq Nadvi lebih detail dituangkan dalam karya buku Dinamika Islam sekaligus kritik pada buku The Encyclopedia Islam para oriantelis yang menurutnya tidak proper malah cenderung merendahkan peradaban Islam ikhwal keilmuan. Awal bab ia bahas analisis kedudukan Islam yang ajeg hadapi gempuran musuh Islam. Peran kaum sufi, aktivis Islam sebagai pendorong kebangkitan Islam. Lalu dibahas soal aturan hidup dan agama konseptual yang absah. Tentang kepribadian Rasulullah yang tentukan perkembangan Islam di kemudian hari. Soal pendidikan Islam dan Barat, sumbangsih kaum muslimin atas perkembangan ilmu pengetahuan, masalah keadialan sosial-politik dan seterusnya. Menyoal ini, T.B.Irving, Emeritus-Universitas of Tennesse.Knoxville-Amerika komentar, karya Syed Habibul sangat penting. Tujukkan Islam tidak stagnan-statis dan usulkan karyanya dibaca sebagai buku wajib di Universitas. Buku yang mencela filsafat atheistis tentang epistemologis. Ia lebih membela sistem pendidikan yang being oriented daripada activity oriented. Cendikiawan muslim ini percaya betul jika filsafat normatif memerintahkan agar kebajikan spiritual yang utama disebar sebagai norma-norma edukatif.
Semuanya pe’er mereka yang peduli. Ormas keagamaan besar-sedang-kecil, pemuda alim progresif, orang berumur yang ingin menyimpan legacy sebelum berpulang, pemilik sumber-sumber finansial, kepala-kepala daerah, pejabat birokrasi sampai tingkat mentri-presiden. Ini sudah warning! Karakter gen emas di 2045 wajib disiapkan. Bukan lagi generasi pecinta khurafat. Bolehlah berandai-andai. Jika sinergi kekuatan positif berjalan bareng, pencerahan hadir, dakwah jadi majelis ilmu sesuai konteks dan terstruktur. Agama penyempurna ruh spiritual manusia. Semua hadir di celah-celah panggung komunikasi: medsos atau mimbar off line. Jangan sampai anak muda mendatang bilang: goodbye, pamitan, we don’t trust you no more!
Bismillah!





































