“Gerakan kolonialisme, imperialisme terus dilancarkan Barat kepada negara muslim. Termasuk teror didalamnya. Agar benturan tidak mengeras, pemerintah harus menyikapinya dengan moderasi, akomodatif. Bukan pendekatan keamanan. Di samping itu, perlu pembenahan ‘Alquran Terjemah’ demi membumikan Islam yang rahmatan lil alamin. Mengapa?”

Oleh Dr KH Miftahurrohim Syarkun*

GERAKAN radikal, ekstrem, teror dalam sejarah kehidupan manusia, telah ada sebelum Islam. Bagaimana kisah manusia pertama Habil dan Qabil, kedua putra Nabi Adam alaihissalam. Habil melakukan pembunuan secara ekstrem terhadap Qabil, saudara kandungnya. Matifnya adalah hasud, iri hati dan dendam. Kisah ini ini diabadikan dalam Alquran (Al Maidah:27).

Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil) tidak diterima. Dia (Qabil) berkata, “Sungguh, aku pasti membunuhmu!” Dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.”

Dalam Islam, tidak ada satu pun ajaran yang menganjurkan radikal, ekstrem dan teror. Sebaliknya, Islam mengutuk tindakan tersebut. Islam adalah agama rahmat lil alamin, bagi semua alam (al Anbiya: 107).

Ini juga disebut dalam hadits Nabi saw. “Dan sesungguhnya aku (Rasulullah saw) diutus untuk agama yang penuh dengan kebenaran (lurus) dan kasih sayang (toleransi) (H.R. Imam Ahmad bin Hanbal).

Ayat dan Hadits tersebut, sebagai inspirasi dan dasar, bahwa Islam mengajarkan hidup rukun antarummat beragama, termasuk dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagaimana disebut dalam firmanNya. Katakanlah (Muhammad): “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah…. (al-Imron:64)

Namun Islam memberi jastifikasi untuk melakukan perlawanan, bilamana umat Islam didzalimi, diperangi sebagaimana disebut dalam Alquran al Haj: 39. Artinya: Diizinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi, karena mereka didzalimi dan sungguh Allah Maha Kuasa menolong mereka itu.

Nah, Islam pada mellinium pertama, sejak abad ke 7-13, menguasai peradaban dunia dengan mengembangkan konsep keadilan dan ihsan, ini diberlakukan kepada semua ummat manusia, kehidupan dunia menjadi damai, bahkan tiga agama samawat hidup harmonis di kota suci Yerusalem.

Tetapi, ketika datang tentara salib di Yerussalem pada Juli 1099, mereka melakukan pembantaian puluhan ribu umat Muslim dan Yahudi, pembantaian dilakukan secara radikal ekstrem dan massif. Maka, jatuhnya kekuatan Islam dengan tumbangnya Emirat Granada, merupakan malapetaka bagi umat Islam. Mereka ini sekaligus diultimatum untuk masuk Kristen atau dibunuh.

Jadi? Begitu kejam dan sadisnya mereka. Sejarah Islam tidak pernah melakukan seperti itu, dalam tata cara peperangan Islam, tidak boleh membunuh anak kecil, perempuan, orang tua. Bahkan tidak boleh merusak, memotong tumbuh-tumbuhan.

Pada saat itu terjadi beberapa perubahan. Pertama,  penghijrahan peradaban bidang ilmu pengetahuan dari Dunia Islam ke Dunia Barat. Terjadilah sekularisasi ilmu, maka muncul ilmu pengetahuan agama, perkara-perkara berkaitan dengan hukum Islam berada di negara-negara mayoritas penduduk muslim. Sedangkan ilmu sains dan teknologi dibawah ke Barat. Padahal kedua ilmu tersebut bersumber dari ilmuan muslim yang didapat dari perpaduan Alquran dengan alam semesta.

Kedua, terjadi gerakan kolonialisme dan imperialisme yang dilancarkan dunia barat kepada negara-negara mayoritas muslim. Indonesia sendiri dijajah Belanda, Hindia dan Malaysia dijajah Enggris, Irak menjadi rebutan Soviet dan Perancis, Mesir dan Afrika dijajah Perancis.

Dengan demikian, agar benturan tidak semakin memanas, maka, pemerintah harus menyikapinya melalui pendekatan moderasi dan akomodatif, tidak dengan pendekatan ekstrem, apalagi mengendepankan bedil. Membunuh teroris bukan jalan keluar untuk menyelesaikan akar persoalan. Justru sebaliknya, dikhawatirkan isu terorisme ini menjadi ladang proyek untuk menguras uang. Jika yang terakhir ini menguat, maka, semakin sulit memberantas terorisme.

Munculnya Islam-Phobia sejak 1980-an dan  menjadi semakin massif, khususnya setelah terjadi peristiwa 11 September 2001, ini memunculkan stigma, bahwa Islam identik dengan kekerasan, ekstrem, teroris dan berdarah. Seluruh yang tidak baik, diidentikan dengan Islam.

Stigma seperti ini, harus segera diluruskan. Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar dunia, tentu, berkepentingan untuk meluruskannya. Di samping itu, menjaga moderasi agama yang selama ini berkembang dengan apik.

Selain menghadapi stigma eksternal yang begitu kuat, diakui atau tidak, bangsa ini juga tercemar oleh virus-virus radikal yang dipaksakan masuk ke negeri ini. Walhasil, dalam kenyataannya, bangsa ini juga harus berhadapan dengan munculnya kelompok garis keras, baik itu karena pengaruh eksternal, atau bagian dari bentuk kekecewaan terhadap ketidakadilan.

Kita juga menyaksikan maraknya perang dalil terhadap ayat-ayat yang multi tafsir, terutama terkait ghirah jihad dalam menegakkan kebenaran dan keadilan. Nah, untuk mempersempit radikalisme, ada beberapa langkah penting yang harus dilakukan pemerintah.

Pertama, tinjau kembali Alquran Terjemah keluaran Departemen Agama. Karena ada beberapa terjemahan yang bisa memicu semangat yang salah dalam beragama. Kedua, kurikulum Perguruan Tinggi (PT) Islam harus lebih menekankan moderasi dan akomodatif. Ketiga, manfaatkan Pekan Orientasi Mahasiswa Baru (Pomaru) untuk mengawali mahasiswa agar berfikir moderat.

Keempat, Perguruan Tinggi umum perlu menambah SKS  kurikulum keislaman yang menyangkut syari’ah aqidah dan akhlak dengan mengedepankan moderasi dan akomodarif. Di samping itu kurikulum berbasis sains dan teknologi harus dipahami telah  terjadi ahistoris, karena hanya merujuk terhadap kurikulum Barat. Padahal perkembangan sains Barat justru merujuk pada peradaban Islam. Waallahu’alam. (*)

* Dr H Miftahurrohim, adalah WAREK 3 UNHASY Tebuireng

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry