Oleh Purwanto M Ali*

YANG gampamg jangan dipersulit! Bila Gus Yahya Staquf benar-benar menginginkan islah, maka bukan hanya sekedar meminta maaf kemudian dimaafkan oleh Rais Aam KH Miftachul Akhyar, lalu beres. Tetapi berislah juga dengan keputusan yang telah diambil Rais Aam. Dimana keputusan tersebut telah diperkuat menjadi keputusan Rapat Pleno PBNU.

Apabila menginginkan islah namun tidak menghormati hasil keputusan Rapat Pleno PBNU, maka sesungguhnya bukan islah, tetapi memaksakan kepentingannya sendiri dengan mengatasnamakan islah.

Bila Gus Yahya berniat baik, maka semestinya bisa menahan diri dan tahu diri. Sebelum diadakan Rapat Pleno PBNU untuk membatalkan keputusan Rapat Pleno PBNU terdahulu, semestinya Gus Yahya untuk sementara waktu tidak mengaku sebagai Ketua Umum PBNU dan tidak melakukan aktifitas yang mengatasnamakan PBNU serta tidak menggunakan fasilitas Kantor PBNU.

Silahkan saja Gus Yahya tetap mengkonsolidasi kekuatan dan dukungan dari para fungsionaris PBNU dan para pendukungnya, tetapi lepaskan dulu atribut sebagai Ketua Umum PBNU dan tinggalkan dulu sementara fasilitas organisasi PBNU. Silahkan beraktifitas atas nama pribadi di luar Kantor PBNU.

Jadi? Silahkan berislah demi kebaikan NU, tetapi hormati juga keputusan yang sudah diambil oleh pemimpin tertinggi NU. Berislahlah dengan adil dan fair. Jangan sampai islah hanya untuk tipu-tipu demi kepentingan politik pribadinya. Gampang bukan? (*)

*Purwanto M Ali adalah Ketua PP GP Ansor 2005-2011. Ketua PP GP Ansor 2005-2011.
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry