“Dalam sejarah panjang NU, kepemimpinan tidak pernah dipahami semata sebagai jabatan. Ia adalah amanah sanad, tanggung jawab ruhani, dan laku peradaban.”
Oleh: Abdur Rahman El Syarif

ISLAH selalu terdengar indah di telinga warga Nahdlatul Ulama. Ia mengandung janji pemulihan, pengakhiran konflik, dan harapan akan kembalinya adab dalam kehidupan jam’iyyah. Dalam tradisi pesantren, islah bukan sekadar kesepakatan elite, melainkan ikhtiar membersihkan niat, menata kembali barisan, dan mengembalikan urusan pada maqashid yang lebih tinggi, yakni kemaslahatan umat dan keberlanjutan peradaban.

Namun, di titik inilah sebuah pertanyaan pelan mulai mengemuka di kalangan warga nahdliyyin, yaitu sebuah pertanyaan mendasar apakah islah cukup berhenti sebagai peristiwa, ataukah ia seharusnya menjadi proses panjang pembaruan batin dan arah?

Pasca-islah, Nahdlatul Ulama sejatinya sedang berdiri di sebuah persimpangan penting. Di satu sisi, NU berhasil melewati fase ketegangan internal yang melelahkan. Di sisi lain, ketenangan itu menyisakan ruang hening, ruang bagi muhasabah yang lebih dalam. Banyak warga NU, terutama mereka yang hidup di denyut pesantren, majelis ta’lim, kiai kampung, dan jam’iyyah tarekat akar rumput, mulai merasakan bahwa persoalan NU hari ini bukan lagi soal siapa yang menang atau kalah, melainkan ke mana arah besar organisasi ini akan dibawa.

Kegelisahan ini tidak selalu diekspresikan dalam forum resmi. Ia lebih sering muncul dalam obrolan warung kopi, di serambi masjid, atau dalam percakapan lirih para kiai kampung. Ada rasa lelah terhadap pertarungan wacana yang terasa berulang. Ada kejenuhan terhadap dikotomi yang itu-itu saja. Dan yang paling terasa, ada kerinduan akan kepemimpinan NU yang tidak sekadar hadir secara struktural, tetapi juga dirasakan secara batiniah.

Dalam sejarah panjang NU, kepemimpinan tidak pernah dipahami semata sebagai jabatan. Ia adalah amanah sanad, tanggung jawab ruhani, dan laku peradaban. Rais ‘Aam, Ketua Umum, para masyayikh, semuanya bukan hanya simbol administratif, melainkan rujukan nilai. Karena itu, ketika warga NU berbicara tentang masa depan, yang mereka maksud bukan sekadar regenerasi struktural, tetapi keberlanjutan ruh: ruh Aswaja yang hidup, lentur, dan membumi.

Islah, jika dipahami secara lebih dalam, seharusnya menjadi pintu masuk untuk menata ulang paradigma kepemimpinan. Bukan untuk tergesa-gesa melangkah ke Muktamar, melainkan untuk memastikan bahwa langkah itu memiliki arah. Percepatan agenda organisasi tanpa pendalaman makna justru berisiko melahirkan kepemimpinan yang sah secara prosedural, tetapi rapuh secara kultural.

Di sinilah pentingnya membaca islah bukan sebagai akhir konflik, melainkan sebagai awal pertanyaan: kepemimpinan seperti apa yang dibutuhkan NU hari ini dan esok? Pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan nama, apalagi dengan slogan. Ia menuntut perenungan tentang watak zaman, tentang posisi NU dalam lanskap keislaman global, dan tentang bagaimana tradisi pesantren dapat terus menjadi sumber etika publik di tengah perubahan sosial yang cepat.

Warga nahdliyyin sesungguhnya tidak sedang mencari figur yang sempurna. Yang dirindukan adalah kepemimpinan yang utuh: yang mengakar pada tradisi, tetapi tidak terjebak romantisisme; yang memahami tarekat sebagai disiplin batin, bukan sekadar identitas simbolik; dan yang mampu berbicara di ruang publik modern tanpa kehilangan adab pesantren. Kepemimpinan yang tidak reaktif terhadap tekanan zaman, tetapi reflektif dan menuntun.

Jika islah dimaknai sebagai penyatuan kembali niat, maka pembicaraan tentang masa depan NU seharusnya dimulai dari sini: dari keberanian untuk bertanya, dari kesediaan untuk mendengar suara bawah, dan dari kerendahan hati untuk mengakui bahwa tantangan NU hari ini berbeda dengan masa lalu. Dunia berubah, umat berubah, tetapi nilai-nilai dasar Aswaja tetap menuntut penerjemahan yang segar dan kontekstual.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menawarkan solusi instan, apalagi figur tertentu. Ia adalah pembuka ruang dialog, sebuah undangan untuk berpikir bersama. Sebab, sebelum NU menentukan siapa yang akan memimpin, barangkali yang lebih mendesak adalah memastikan ke mana NU ingin dibawa. Islah telah membuka pintu. Pertanyaannya kini adalah apakah kita akan melangkah masuk dengan kesadaran peradaban, atau sekadar bergegas mengejar jadwal?

Pertanyaan itu layak direnungkan bersama, dengan kepala dingin dan hati jernih, demi NU yang tidak hanya rukun secara organisatoris, tetapi juga matang sebagai peradaban.(*)

#nu #pbnu
#peradabanislam
#NUMasaDepan

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry