Dr M Sholeh Basyari, Direktur Eksuktif CSIIS
“Kalau kemudian perundingan dan ceasefire terlaksana, sejatinya seperti disaksikan masyarakat dunia, hanyalah basa-basi atau setidaknya “ambil nafas” sesaat.”
Oleh M Sholeh Basyari*

SEPERTI dugaan banyak orang, perundingan Amerika-Iran, gagal. Amerika terus memaksa Iran menghentikan program nuklir sekaligus mengintimidasi Iran di sela sela perundingan, tengah berlangsung.

Tak beda dengan Iran, negeri para Mullah ini, langsung ngegas, call tinggi: menuntut Amerika mencairkan aset beku Iran di sejumlah perbankan banyak negara. Iran juga memaksa Amerika untuk mengendalikan Israel.

Iran on Fire

Dari awal Iran tidak ingin berunding, tidak ingin gencatan senjata (ceasefire, alhutnah). Sementara presiden Trump terus mempublish kesuksesan operasi Epic Fury, sembari menawarkan ceasefire dan perundingan berikut sejumlah rayuan ke Iran.

Kalau kemudian perundingan dan ceasefire terlaksana, sejatinya seperti disaksikan masyarakat dunia, hanyalah basa-basi atau setidaknya “ambil nafas” sesaat.

Sejumlah fakta lapangan ini, menjadi  reasoning kenapa Iran on fire,serta menolak ceasefire. Pertama, konfidensi tengah membumbung, membuncah. Iran sangat tahu, masyarakat internasional mengikuti, memantau dan bahkan dalam derajat tertentu, menjagokan Iran.

Masyarakat internasional mewujud menjadi suporter dan fans berat Iran. Selain Amerika dan Israel, nyaris hanya sekte Wahabi serta sebagian oknum PBNU yang tidak menjadi suporter Iran.

Kedua, Iran tengah menguji endurance, ketahanan militer, juga warganya, menghadapi situasi berat. Hal ini strategis, sebab sebelum perang dimulai 28 februari lalu, banyak yang beranggapan Iran tak ubahnya perang 12 hari pada 2025: Iran lemah dan nyaris tidak membalas.

Ketiga, tampaknya secara kronologis, awalnya Iran “iseng” ngerjain masyarakat internasional terkait Selat Hormuz. Disebut iseng, karena awal-awal penutupan selat itu, Iran belum menemukan pola.

Belakangan secara empirik pola, ada. mulai dari: tanker Amerika dan Israel serta sekutunya tidak boleh lewat. Kemudian, tanker-tanker Negera sahabat Iran boleh lewat dan gratis. Hingga pengesahan oleh Parlemen Iran, bahwa kapal yang lewat wajib bayar bea transit 2 juta dolar.

Keempat, “uji coba” industri militer. Iran tengah menikmati kesempatan mempresentasikan pada publik internasional kemampuan industri militer mereka. Publik internasional terkesima dan takjub dengan cara Iran mengimbangi bahkan memukul mundur kapal induk serta menembak jatuh f35 yang dibanggakan Amerika.

Perang Amerika Iran kali ini, tak ubahnya panggung besar dan epos dramatik tentang persenjataan perang yang tidak imbang. Drone melawan jet tempur, Drone melawan Iron Dome. Juga, kapal induk melawan sekoci kecil. Suatu perang yang disebut oleh pengamat militer sebagai perang asimetris.dengan sejumlah alasan ini, Iran on fire dan menolak ceasefire yang ditawarkan Amerika

Reset Geopolitik

Dukungan terhadap Iran, selama ini sebatas dari proksinya: Houthi, Hizbullah dan Hamas. Dengan perang yang memasuki bulan kedua, tiga negara sekawasan, menyatakan bergabung dengan Iran. Tiga negara tersebut adalah Iraq, Qatar dan Oman.

Di eropa, dukungan paling tampak terhadap Iran berasal dari Spanyol. Dukungan serupa juga datang dari kawasan Skandinavia, Amerika latin serta dari Asia tenggara: Malaysia.

Selain pendukung baru ini, China, Rusia dan Korea Utara, telah lebih dulu berkolaborasi dengan Iran.

Sejumlah dukungan tersebut bisa jadi sebagai “modal dasar” bagi Iran untuk mendesakkan pengaruhnya di level global. Dengan dukungan itu pula, geopolitik tengah berubah, menuju penataan ulang (reset).

Iran tampak secara sengaja tidak saja ingin lepas dari embargo Amerika, menuntut pencabutan sanksi. Bahkan yang lebih strategis adalah keberanian Iran secara tidak langsung, “menata” ulang geopolitik, ekonomi maupun militer.

Secara geopolitik, perform Iran dalam perang kali ini, mengagumkan. Perform Iran, membangkitkan sejumlah negara di berbagai kawasan untuk “berani” berbeda bahkan escape dari pengaruh Amerika.

Tak beda halnya dengan tatanan moneter dan ekonomi internasional. Keengganan Iran menggunakan dolar Amerika sebagai alat bayar “tol” Hormuz, sedikit banyak mengikis keperkasaan dolar, sebagai alat tukar tunggal dalam transaksi global.

Sementara di bidang militer, Iran memberi “pelatihan” strategi militer, kepada angkatan bersenjata banyak negara. Iran juga “memamerkan” dan mempromosikan alat utama sistem persenjataan-nya (alutsista), kepada publik internasional. Terakhir, Iran melalui IRGC seakan memberi kursus bagi tentara nasional banyak negara, tentang cara menghadapi Amerika.

Penutup

Iran yang on fire,  tampak menikmati ketidaksabaran Amerika untuk segera mengakhiri perang. Paralel dengan kemauan  Amerika  yang mengajukan ceasefire, gencatan senjata. pa

Padahal pada banyak kesempatan  Menlu Iran Abbas Araqsi menyampaikan bahwa Iran yang menentukan kapan perang berakhir?

*M Sholeh Basyari adalah dosen Insuri Ponorogo, direktur ekskutif center strategic on Islamic and international studies (CSIIS), Jakarta

 

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry